Ngaji Dino Iki #394: Memantapkan Hati di Satu Pilihan

0
600
Ilustrasi diambil dari cekresi.win

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA*)

Assalamualaikum w. w.

“Istikhara in essence is not to choose one of two choices, but to set one’s heart in one choice.” Istikharah pada hakikatnya bukan untuk memilih satu di antara dua pilihan, tapi untuk memantapkan hati di satu pilihan.

Di Indonesia ada semacam stereotip bahwa istikharah hanya untuk memilih jodoh dan seakan harus ada dua pilihan.

Padahal shalat ini tidak hanya untuk itu, namun untuk semua urusan, berdasarkan hadits:

سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللَّهَ وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَاهُ اللَّهُ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Musnad Ahmad 1367: Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah saw bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan dengan meminta petunjuk kepada Allah) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah kerelaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah.”

Dan juga sabda Rasulullah saw:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

Shahih Bukhari 1096: Dari Jabir bin ‘Abdullah ra berkata: Rasulullah saw mengajari kami shalat istikharah dalam setiap urusan yang kami hadapi sebagaimana Beliau mengajarkan kami Alquran, yang Beliau saw bersabda: “Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua raka’at yang bukan shalat wajib.”

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani:
“Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikharah hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab).” Tidak dibenarkan istikharah untuk perkara makruh apa lagi haram.

Untuk perkara sunnah, semisal akan berangkat umrah dalam waktu dekat atau diundur.

Biasakan untuk menghidupkan Sunnah (di antaranya adalah shalat istikharah). Sebab dengan Sunnah, peradaban Islam akan bangkit kembali. Sudahkah kita menghidupkan salah satu Sunnah hari ini?

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w. w.
Dari sahabatmu

Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here