Ngaji Dino Iki #594: Nikah, yuk!!

0
492
Ilustrasi diambil dari google.com

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA*)

Assalamualaikum w. w.

“Marriage became difficult when preference was given to wealth, clans, and culture over LAA ILAHA ILLALLAH.” Pernikahan menjadi sulit saat ia lebih mengutamakan harta, suku, dan tradisi di atas Laa ilaha illallah.

Allah swt menginstruksikan kepada manusia (khususnya para pemuda), dengan firman-Nya:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ….

And if you fear that you will not deal justly with the orphan girls, then marry those that please you of [other] women, two or three or four.

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. (QS. An-Nisa’ : 3)

Manusia Agung, Muhammad, Rasulullah saw juga bersabda:
“Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud)

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata:
“Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi saw paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Pernikahan yang berkah sepatutnya mengikuti apa yang disunnahkan Rasulullah saw, dimulai dari proses memilih pasangan yang menurut riwayat Bukhari seharusnya lebih mengedepankan aspek keshalihan sebelum lainnya seperti fisik, kekayaan (termasuk mahar), keturunan, dan suku.

Kemudian tata cara (prosesi) pernikahan dalam riwayat An-Nasa’i hendaknya menghindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir) dan tradisi yang menyimpang (khurafat).

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w. w.
Dari sahabatmu

Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here