Ngaji Dino Iki #652: Kesehatan dan Kekayaan

0
333
Ilustrasi diambil dari bp-guide.id

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA*)

Assalamualaikum w. w.

“Make no mistake prioritizing wealth over health, because health is far more valuable than wealth.” Jangan salah memprioritaskan kekayaan atas kesehatan karena kesehatan jauh lebih berharga dari kekayaan.

Nafsu mengumpulkan harta, bagaikan seorang dahaga yang meminum air laut. Semakin banyak yang diminum, yang bersangkutan semakin merasa haus.

Sering kali kita tidak menghiraukan kondisi kesehatan. Sering kita terlalu banyak pikiran dan sering pula terlambat makan.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ — حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Competition in [worldly] increase diverts you -Until you visit the graveyards.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu -sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Takasur: 1-2)

Di dalam Islam, riyadhah atau olahraga tak hanya untuk olah tubuh, tapi juga untuk olah jiwa. Ini disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam bukunya, Zadul Ma’ad, beliau menekankan pentingnya berolahraga dan efeknya pada tubuh dan kesehatan jiwa (tenang, bahagia)

Di era modern kemudian diketahui bahwa kesehatan jiwa dipicu dengan keluarnya endorfin, hormon kebahagiaan yang dimiliki setiap manusia.

Orang bijak pun telah berpesan:
You only get one body. Keep it health, keep on shape.
“Anda hanya mendapatkan satu tubuh [dari Allah], jaga kesehatannya, pelihara kondisinya.”

Untuk mendapatkan hidup yang berimbang menuju kebahagiaan, perlu kiranya seseorang mempunyai badan yang sehat, prima serta jiwa yang sehat pula.
Pepatah lama mengatakan: Mens sana in corpore sano (dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula).

Sahabat Ali bin Abi Thalib ra berkata:
“Betapa aneh dan bodohnya manusia. Dia kehilangan kesehatannya untuk mengejar kekayaan. Dan untuk mendapatkan kembali kesehatan, dia menghabiskan kekayaannya. Dia menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depannya, tetapi menangis di masa depan saat mengingat masa lalunya. Dia hidup seolah-olah kematian tidak akan pernah datang kepadanya, tetapi dia mati dengan cara seolah-olah dia tidak pernah dilahirkan.”

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w. w.
Dari sahabatmu

Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here