Ngaji Dino Iki #779: Kriteria Negara Maju

0
115
Potret negara terkaya dan termakmur di dunia, Qatar.

Assalamualaikum w.w.

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA)*

“A developed country should be rooted in faith and piety which is reflected in the achievement of works.”

(“Negara yang maju semestinya berakar pada iman dan takwa yang tecermin dari pencapaian karya.”)

Sebagai negara berketuhanan sesuai dasar negara, Pancasila, Indonesia seyogianya mengedepankan internalisasi aspek iman dan takwa untuk membentuk karakter bangsa dalam berkarya dan bernegara.

Sebagai contoh, Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam mengisahkan salah satu kisah kaum Saba’ yang ingkar kepada Tuhannya (QS. 34: 15-17), maka Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

If the people of the towns had but believed and feared Allah, We should indeed have opened out to them (all kinds of) blessings from heaven and earth; but they rejected (the truth), and We brought them to book for their misdeeds.

Artinya:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al A’raf: 96)

Dr Wido Supraha mengingatkan bahwa fisik kita boleh merdeka, namun boleh jadi akal dan qalbu kita belum tentu bebas.

Akal kita dikuasai oleh hegemoni peradaban asing tanpa filter kesesuaian dengan akar agama dan nilai-nilai luhur bangsa.

Qalbu kita masih takluk kepada setan yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Belum mampu menciptakan kemaslahatan dan kemajuan bangsa, tertekan nafsu pribadi dan golongan yang dominan.

Dalam firman-Nya yang lain, Allah menegaskan:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Then seest thou such a one as takes as his god his own vain desire? Allah has, knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart (and understanding), and put a cover on his sight: Who, then, will guide him after Allah (has withdrawn guidance)? Will ye not then receive admonition?

Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w.w.
Dari sahabatmu

Imam Syaukani

Ustadz Dr. K.H. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here