Ngaji Dino Iki #788: Pribadi yang Menyenangkan

0
86

Assalamualaikum w.w.

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA)*

“Listen with ears of tolerance. See through the eyes of compassion. Speak with the language of love.”

(“Dengarkanlah dengan telinga kesabaran. Tataplah melalui mata kasih sayang. Bicaralah dengan bahasa cinta.”)

Orang tua merupakan guru pertama yang mengajarkan begitu banyak hal pada anak, termasuk pada aspek akhlak dan sikap yang ditunjukkan orang tua ketika mendengar, memandang, dan berbicara kepada anaknya.

Bila semua didasarkan atas keimanan, cinta, dan tanggung jawab, anak akan tumbuh kembang sesuai fitrah Allah swt.

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, Rasulullah saw bersabda:

مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً هُوَ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنْ الصَّبْرِ

Muwatha’ Malik 1585: “Kebaikan apa pun yang kumiliki tidak akan aku simpan dari kalian. Barang siapa yang menjaga kehormatannya, niscaya Allah akan menjaga kehormatannya. Barang siapa yang meminta kecukupan, niscaya Allah akan mencukupkannya. Barang siapa yang berusaha sabar, niscaya Allah akan memberinya kesabaran. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

Diberitakan dalam riwayat hadits tentang akhlak Rasulallah saw bila berbicara: Al Jadali berkata; “Saya bertanya kepada Ummul Mukminin, Aisyah mengenai akhlaknya Rasulullah sa?” Aisyah menjawab;

لَمْ يَكُ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Musnad Ahmad 24897: “Beliau tidak pernah berbuat keji, tidak pernah berkata-kata kotor, dan tidak berteriak-teriak di pasar. Akan tetapi, beliau adalah pemaaf lagi pemurah.”

Ibnu Khaldun mengingatkan:
“Barang siapa yang pola asuhannya dengan kekerasan dan otoriter, baik ia seorang terpelajar atau budak ataupun pelayan, (maka) kekerasaan itu akan mendominasi jiwa anaknya. Jiwanya akan merasa sempit dalam menghadapi kehidupan. Ketekunannya akan sirna, dan menyeretnya menuju kemalasan, dusta, dan tindakan keji. Tindakannya tidak sesuai hati (fitrah) lantaran trauma dari yang mengasarinya dahulu.“

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w.w.
Dari sahabatmu

Imam Syaukani

Ustadz Dr. K.H. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here