Ngaji Dino Iki #880: Sumber Kebahagiaan

0
83
Dakwatuna

Assalamualaikum w.w.

KLIKMU.CO

Bersama Ustadz Dr. Imam Syaukani, MA)*

”The first apologizes is the bravest. The first to forgive is the strongest. The first to forget is happiest.”

(“Yang pertama meminta maaf adalah yang paling berani. Yang pertama memaafkan adalah yang terkuat. Yang pertama melupakan adalah yang paling bahagia.”)

Selama hidup, tentu kita banyak berinteraksi dengan orang lain. Tidak semuanya menyenangkan.

Kita pasti pernah mengecewakan atau sebaliknya merasa kecewa dan marah kepada orang lain. Karena itu, jadilah yang serba-pertama.

Meminta maaf,  memaafkan, dan segera melupakannya, tiada dendam di hati. Inilah akhlak Rasulullah saw, yang merupakan sumber kebahagiaan, kerukunan, dan persatuan umat untuk meraih kesuksesan besar bersama di akhirat kelak.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ –وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Nor can Goodness and Evil be equal. Repel (Evil) with what is better: then will he between whom and thee was hatred become as it were thy friend and intimate! — And no one will be granted such goodness except those who exercise patience and self-restraint, none but persons of the greatest good fortune.

Artinya:

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushilat: 34-35)

Suatu saat Rasulallah saw ditanya oleh seorang sahabat yang mempunyai pembantu sangat bodoh, yang sering membuat kesalahan.  Dalam riwayat hadits tersebut sebagai berikut:

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَصَمَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَقَالَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً

Sunan Tirmidzi 1872: “Wahai Rasulullah, berapa kalikah aku harus memaafkan pembantu?” Lalu Nabi saw terdiam, kemudian dia bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa kalikah aku harus memaafkan pembantu?” Nabi menjawab: “Kamu memaafkan sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari.”

Kesimpulannya:

Dalam kehidupan sehari hari, jadilah orang yang dermawan dalam memberi maaf kepada seseorang.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum w.w.

Dari sahabatmu

 

Imam Syaukani

Ustadz Dr. K.H. Imam Syaukani, MA Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here