Niat Bekerja untuk Masa Depan

0
429
Ilustrasi diambil dari beinspiredchannel.com

KLIKMU.CO

Oleh Bobi Puji Purwanto, S.Pd.*)

Bahaya terbesar pada saat terjadi guncangan bukanlah pada guncangan itu sendiri, tetapi begaimana cara menyikapi guncangan tersebut. (Peter f. Drucker)

Mengingat setahun lalu, saya diundang untuk menghadiri forum intelektual dalam sebuah organisasi (diskusi). Kebetulan, saya memang termasuk keluarga besarnya. Kira-kira saat itu acara dihadiri oleh 20 orang. Dengan bekal optimisme mencari ilmu, wajah-wajah para undangan begitu sumringah. Masya Allah. Dan saya berdo’a, semoga acara seperti demikian terus terjaga eksistensinya, terlebih berkembang.

Peran saya saat itu sebagai pendengar. Apa yang disampaikan narasumber, semuanya saya serap. Dan bersyukur, informasi-informasi pengetahuan yang diberikan sangat bagus. Bahkan, sampai saat ini saya menulis, informasi itu masih saya ingat. Nah, salah satu informasi itu ialah sebuah jawaban terhadap seorang penanya. Tanya apa? Seputar pekerjaan.

Baiklah. Ketika narasumber selesai menjalankan tugasnya, moderator mengambil alih diskusi dan melanjutkannya dengan sesi tanya jawab. Moderator memberikan 3 kesempatan bagi pendengar (audien). Pada waktu itu yang bertanya tiga-tiganya teman saya. Nah, saya kok jadi tertarik dengan pertanyaan teman saya. Dia bercerita tentang guncangan yang terjadi di perusahaan tempat dia kerja. Kemudian, dia meminta solusi kepada narasumber.

Guncangan itu ialah salah satu aturan dari atasan dia kerja, sehingga dalam hati kecilnya, merasa tidak nyaman dan ingin segera hengkang. Guncangan itu seingat saya adalah berbenturnya jam sholat dhuhur dengan kerja. Teman saya muslim. Dia merasa bahwa jam sholat dhuhurnya terganggu. Begitulah.

Dia berperan sebagai salesman. Lalu, ketika ditanya narasumber, apakah aturan itu sudah final? Dan apakah keputusan ingin keluar Anda juga sudah final?

Dia jawab, iya pak. Hehehe.

Suasana diskusi menjadi semakin hidup. Dan narasumber mengajak para audien untuk santai dulu. Kemudian narasumber mencoba memberi solusi.

Solusi pertama, teman saya diminta untuk kerja saja dulu, ya boleh dikatakan ‘asal-asalan’ sambil teman saya matanya mencari tempat kerja lain yang lebih proporsional. Dan ketika sudah dapat, maka teman saya bisa izin dengan baik serta resmi untuk keluar dari kerja itu.

Kedua, dia diminta narasumber untuk ‘musyawarah’ dengan bijaksana kepada atasannya. Apakah aturan itu bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Jika bisa, lebih baik Anda lanjutkan saja bekerja disitu. Masya Allah, bijaksana banget.

Saya waktu itu diam. Panca indera dan fikiran saya fokus mendengarkan. Dan sampai akhir diskusi, saya masih saja diam. Mendengar dan mendengar. Nah, pada kesempatan ini, saya akan mencoba sedikit memberi solusi atas kejadian yang dialami teman saya. Semoga bermanfaat.

Jadi begini. Enam bulan lalu, saya membaca buku perjalanan perusahaan besar Samsung. Buku itu bagus banget. Membahas tentang faktor-faktor penyebab sebuah perusahaan maju, karyawan maju, dan semua keluarga dari perusahaan bisa maju. Artinya, buku inspiratif serta visioner. Pada halaman tertentu, ditulis tentang jam kerja Samsung. Di era kepemimpinan Lee Byung Cuul (pendiri Samsung), pernah diterapkan jam kerja dari pukul 10 pagi hingga jam 7-8 malam.

Nah, kemudian Lee Byung Cuul pensiun dan digantikan putranya Lee Kun Hee. Pada era Lee Kun Hee, ini ada berbagai perubahan standar operasional prosedur. Salah satu yang saya ingat taglinenya ialah ‘perubahan dimulai dari diri sendiri’. Dan salah satu point yang dirubah saat itu adalah tentang jam kerja. Menjadi pukul 7 pagi hingga 4 sore. Istirahat pada siang hari. Tujuannya kita tau, supaya efisiensi dan efektifitas lebih baik. Selanjutnya apa yang terjadi? Konsep itu langsung banyak yang mengikuti. Dan kita tau, Samsung sampai saat ini menjadi perusahaan besar dunia. Kekayaannya sangat membantu negara.

Artinya; sejatinya, semua perusahaan tentu mempunyai komitmen untuk menjadikan SDM-SDMnya lebih baik. Itu prinsip yang tidak bisa dibantah lagi menurut saya. Jika perusahaan tidak punya itu, maka banyak pekerjanya yang tidak nyaman dan puncaknya hengkang dari perusahaan. Dan apabila perusahaan tak punya pekerja, apakah roda perusahaan bisa berjalan? Tidak.

Apa yang dialami teman saya itu kan berhubungan dengan jam kerja. Bagi saya, saya yakin, perusahaan tempat ia kerja diberlakukan istirahat. Terutama pada saat siang hari. Biasanya, jam 12 siang hingga 1 siang. Bener enggak? Nah, itu bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan spiritual wajib sebagai ummat beragama yang baik.

Jadi, jika kita bekerja dengan ikhlas dan mempunyai target ke depan, maka kita bisa dapatkan cita-cita itu. Jelas, ketika ada masalah, sikapi dengan bijak. Semua terletak pada diri kita. Masalah besar atau kecil, tergantung bagaimana kita bergerak. Iya. Kalau kita kerja disini disitu selalu tidak nyaman, dan pada akhirnya hengkang, menurut saya, itu akan tidak lebih baik masa depan. Mari kita tata niat yang ikhlas dan sabar. Dan, mari kita tingkatkan kinerja kita untuk meraih banyak prestasi di perusahaan.

Perusahaan yang benar-benar perusahaan, pasti akan paham itu. Perusahaan akan memelihara semua karyawan dan karyawatinya. Jika ada yang begitu, maka, tetap sikapi dengan akal sehat. Dan kita akan menemukan yang terbaik. [*]

Bobi Puji Purwanto, S.Pd. Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC Pemuda Muhammadiyah Wonokromo, Kota Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here