Notes from Copenhagen #4: David Samling, Museum Kebudayaan Islam Terbesar di Eropa

0
480
Great Legacy: Gambar Alquran yang ditulis pada masa Kekhalifahan di Museum David Samling. (Foto: LNR)

KLIKMU.CO

Oleh Luthfi Nur Rosyidi*)

Maaf, kalau saya loncat dari topik sebelumnya. Sedang tidak punya waktu untuk menggali data, sedangkan deadline (yang saya bikin sendiri) untuk tetap menyetorkan catatan sudah terlalu dekat. Jadinya, untuk saat ini, hanya bisa bercerita berdasarkan ingatan saja.

Beberapa waktu yang lalu saya diajak oleh teman-teman di Indonesian Muslim Society in Denmark (IMSD) untuk berkunjung ke salah satu museum yang katanya memiliki koleksi kebudayaan Islam yang sangat banyak. Museum ini terletak di pusat kota, tepatnya di samping Rosenborg Castle Garden. Dimiliki oleh yayasan yang didirikan oleh filantropis bernama Christian Ludvig David (1878-1060). Atas dasar itu pulalah, museum ini dinamai David Samling. “Samling” sendiri adalah bahasa Denmark yang kira-kira bermakna “koleksi.”

David adalah seorang pengacara yang sangat tersohor di eranya. Sebagai pengacara perusahaan, dia mendapatkan kekayaannya seiring dengan dipercayanya dirinya sebagai penasehat hukum maupun komisaris di hampir semua perusahaan besar di Denmark. David yang mempunyai garis keturunan Yahudi dari pihak kakeknya memilih tidak berkeluarga. Tidak pernah menikah dan pun tidak pernah punya anak (di luar pernikahan).

Mempunyai harta berlimpah dan tidak mempunyai keluarga yang harus ditinggali warisan, David mulai mengumpulkan berbagai koleksi seni. Awalnya, semua karya seni yang dianggap menarik dikumpulkannya. Tapi kemudian dia mulai berpikir strategis. Jika bermaksud meninggalkan koleksinya tersebut sebagai sebuah warisan yang bisa dikenang, maka koleksi tersebut haruslah sesuatu yang unik. David tahu, pemerintah Denmark sudah banyak memiliki museum yang menampung karya seni dari kebudayaan Eropa, khususnya Scandinavia. Museum untuk seni kontemporer, ataupun tematik (pra-history, renaissance, astronomi, perdagangan, kelautan, dll.) lainnya sudahlah hapir semuanya tercover oleh museum-museum yang dikelola pemerintah.

Pada suatu ketika, David bertemu kurator seni yang menawarinya benda seni dari Timur Tengah. Dia mulai tertarik dan berpikir, jika dia mengoleksi benda-benda seni dari awal peradaban Islam, maka akan menjadi sangat unik karena David yakin tidak banyak museum, terutama di Eropa yang melakukan hal yang sama. Maka, di 15 tahun akhir masa kehidupannya, digunakan oleh David berburu segala sesuatu yang berasal dari peradaban Islam, terutama awal dan pertengahan.

Koleksinya luar biasa banyak. Berjumlah ribuan dan kaya sekali. Dari mulai benda-benda dari awal masa Islam semacam Alquran Mushaf Utsmani sampai kitab-kitab tasawuf masa Abbasiyah macam Mantiqut Thair. Mulai benda peninggalan peradaban dinasti Mughal di India, sampai dinasti Moor di Spanyol. Tak ketinggalan juga koleksi khusus Daulah Turki Utsmani. Benda-benda seni dari Marokko dan negara muslim Afrika lainnya, sampai benda seni dari Jawa Indonesia.

Selain benda seni, ada juga video singkat sejarah peradaban Islam yang sangat informatif. Masuk ke museum ini, membawa refleksi tersendiri, betapa kaya sebenarnya budaya yang kita miliki. Betapa beragam corak seni, dan bahkan, pemahaman atas agama Islam di berbagai penjuru dunia. Baru melangkah masuk saja, saya sudah tersentak dan tersadar ketika terpaku menatap mushaf dari abad paling awal dalam Islam. Sungguh, saya tidak bisa baca walaupun satu kata. Nukan hanya tanpa harakat, tapi juga tanpa titik dan huruf yang ditulis dengan sangat berbeda. Tapi, bukan soal saya tidak bisa membacanya, tapi saya kemudian paham kenapa dulu Khalifah Utsman sampai harus mengambil keputusan menyatukan cara penulisan dan cara baca.

Beberapa waktu terakhir ini, aplikasi Alquran yang saya pakai, saya beri terjemahan dari Tafsir Jalalain. Dalam banyak ayat, ada penjelasan, bahwa kata ini dan itu bisa dibaca begini dan begitu, dan mempunyai makna yang berbeda seiring pilihan membacanya. Awalnya, saya terheran. Tapi, kemudian teringat bahwa ada tujuh cara membaca Alquran (Qira’ah Sab’ah) yang disepakati jumhur ulama. Darinya juga saya jadi semakin maklum, jika ada perbedaan dalam menafsirkan makna dari suatu ayat.

Di antara banyak hal yang menarik perhatian saya, saya sempat berusaha membandingkan bagaimana bahwa di awal peradaban Islam patung dan lukisan sangatlah terbatas. Yang ada hanyalah sastra dan seni menulis khat (terutama tulisan Allah dan Muhammad). Tapi mulai masuk ke dinasti Abbasiyah (yang berpusat di Persia), mulai muncul berbagai lukisan mahluk hidup, tapi dengan bentuk yang sangat disamarkan (teringat kisah Sunan Kalijaga dan wayang). Baru, pada saat Turki Utsmani mulai ada lukisan yang berbentuk mahluk hidup yang lebih utuh dan menyerupai. Saya yakin ini terkait perkembangan cara pemaknaan terhadap sabda Nabi saw. tentang lukisan.

Meskipun demikian, benda resmi dari Kekhalifahan semacam koin uang yang digunakan sebagai alat pertukaran, semuanya hanyalah berisi tulisan tanpa gambar mahkluk hidup. Tulisan yang pasti ada dalam setiap koin adalah tulisan “Laa Ilaaha Illa-Allah” saya tidak menemukan satu koin dari ratusan (mungkin ribuan) koin di museum ini yang tanpa tulisan tauhid ini. Menarik sekali karena koin-koin dikoleksi berdasarkan dinasti yang mengeluarkan dan tahun pengeluarannya.

Manarik juga untuk memperhatikan perkembangan seni menuliskan Alquran. Ada beberapa yang sungguh sangatlah indah, dituliskan dalam berbagai media. Mulai dipahat di batu, kayu, ditulis di kulit kayu, kulit binatang, sampai kertas panjang.

Sungguh perjalanan ke museum koleksi David beberapa waktu yang lalu memperkaya pandangan saya.

Catatan:
1. Tentang museum David Samling bisa ditelusur disini https://www.davidmus.dk/
2. Diperbolehkan menfoto, dan saya punya koleksi beberapa foto dari museum ini. Jika sempat nanti akan saya upload di Facebook saya.

Luthfi Nur Rosyidi, Kontributor KLIKMU.CO di Copenhagen, Denmark, Eropa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here