Nun di Kecamatan Watulimo Sana, Santri MBS Haji Suyoto Berhasil Juara Tartil Nasional

0
132
Afzalu Rahman, santri MBS Haji Suyoto, saat lomba tartil Qur'an. (ANK/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Nun di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, sana Afzalu Rahman bikin bangga. Santri Pondok Pesantren Modern MBS Haji Suyoto itu berhasil menjadi juara pertama dalam lomba Tartil Qur’an nasional. Juara kedua diraih Risa Fitria Paramita dari MBS Tanggul Jember dan juara ketiga didapat Muhammad Syarqi El Bajowie (Ponpes Muhammadiyah Al Murtadlo Ponjong).

Untuk meraih juara 1, Afzalu mesti menyisihkan ratusan peserta dari berbagai pesantren Muhammadiyah di seantero Indonesia. Event virtual itu diadakan Suara Muhammadiyah bekerja sama dengan Lembaga Pengembangam Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah.

“Tentu hal ini akan menjadi penyemangat bagi kami dalam meningkatkan kedisiplinan belajar, menghafal Qur’an dan berprestasi dalam event-event atau kegiatan selanjutnya,” kata Ustadz Nanang Ashofa, mudir MBS Haji Suyoto Kecamatan Watulimo, Jumat (16/4/2021).

Afzalu Rahman menang pada kategori tartil Qur’an (tilawah) dengan membaca surah Ar-Rahman ayat 1-21. Meskipun kalah dalam jumlah like (kategori favorit) pada channel YouTube, ia menang dalam penilaian dewan juri hingga dinobatkan menjadi juara 1.

Santri asal Donggala, Sulawesi Tengah, itu merupakan salah satu  santri baru yang juga merupakan siswa kelas 7 MTs Muhammadiyah Watulimo yang berlokasi dekat MBS. Putra pasangan suami istri M. Idham Terok dan Tentri A. Landu, lanjut Nanang, memang memiliki suara merdu dan bakat dalam tilawah atau tartil Al-Qur’an.

“Bahkan, sebulan sebelumnya saudara sekampungnya santri Dede Suharto juga menjadi juara 1 kategori tahfidz Qur’an dalam rangka milad MTsN 4 Karanganyar, Jawa Tengah,” terangnya.

Dalam programnya, para santri MBS Haji Suyoto Watulimo memang ditempa untuk menjadi para pengahafal Al-Qur’an dengan program 6 tahun hafidz Qur’an (sekokah formal tingkat MTsM-SMAM). Selain pelajaran pesantren, mereka juga mempelajari pelajaran-pelajaran umum, namun waktunya berbeda.

Pelajaran pesantren dan tahfidz dilaksanakan mulai pagi sampai siang dan malam. Sementara itu, pelajaran umum dilaksanakan siang sampai sore antara pukul 12.30-17.00 WIB. “Dengan demikian, diharapkan para santri akan lebih mapan keilmuannya,” terang Nanang.

Namun, meskipun yang diutamakan adalah tahfidzul Qur’an atau menghafal Al-Qur’an, MBS Haji Suyoto juga masuk sebagai salah satu pesantren binaan Pendidikan Ulama Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PUTM) Jogjakarta untuk pengembangan bibit dai Muhammadiyah.

Foto istimewa

Sementara itu, Ketua LP2M PP Muhammadiyah Dr KH Masykuri MEd bangga kepada para santri yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh mengikuti lomba Gema Ramadhan 1442 H. Menurutnya, ada beberapa manfaat dalam mengikuti Gema Ramadhan.

Pertama, sebagai syiar persyarikatan Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan, baik di bumi Nusantara maupun mancanegara. Kedua, sebagai ajang promosi pesantren Muhammadiyah yang saat ini terus berkembang. “Dalam segi kuantitas telah berdiri 300 pesantren Muhammadiyah,” katanya.

Ketiga, memotivasi dan memacu para santri untuk berprestasi, terutama dalam kategori yang dilombakan, yaitu dai, tartil, dan penulisan khutbah. Selain itu, mendorong budaya mutu.

“Para santri dilatih dan ditempa untuk berfastabiqul khairat, untuk berlomba meraih prestasi yang terbaik di antara para santri pesantren Muhammadiyah. Kemudian, ada budaya kerja keras dan disiplin dalam menyiapkan segala sesuatunya demi mendapatkan hasil yang terbaik,” ujarnya.

“Selanjutnya adalah menghargai prestasi dan menjadikan kebanggaan sebagai santri pesantren Muhammadiyah,” lanjut Dr Masykuri. (ANK/PDPM/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here