Nur Cholis Huda: Berpikir Positif dan Negatif Itu Bedanya Jauh Sekali

0
102
Ustadz Nur Cholis Huda (tengah) mengisi materi di Upgrading dan Rakorsus Takmir di KMC Kenjeran. (Habibie/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Hidup itu indah, life is beautiful. Ini penting, merasa hidup itu indah. Jadi, yang bilang hidup itu indah adalah Allah. Allah tidak ingin kita ini menjadi orang yang suka sambat, suka mengeluh, suka nelongso. Takmir masjid tidak boleh menjadi orang yang suka sambat, suka mengeluh, suka nelongso. Itu bertentangan dengan kehendak Tuhan.”

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Ustadz Nur Cholis Huda MSi, salah satu pemateri, dalam Upgrading dan Rakorsus Takmir Masjid Se-Kenjeran di Ruang Aula Lantai 3 Gedung Dakwah Kenjeran Muhammadiyah Center (KMC), Ahad (7/2/2021).

Nur Cholis Huda mengatakan, Allah ingin kita semua hidup dengan mudah dan tidak ingin hidup dengan susah. Menurutnya, orang yang sering  mengeluh pasti susah untuk bersyukur. Maka, harus berpikir positif.

“Saya sering kasih contoh ketika saya ngisi pengajian, apa bedanya berpikir positif dengan berpikir negatif,” katanya.

“Contoh yang negatif, ada seorang yang mau pensiun. Dia mengeluh, aduh, saya sudah mau pensiun, hilang kekuasaan saya, berpikir negatif. Yang berpikir positif, istrinya, alhamdulillah, suami saya pensiun tanpa meninggalkan masalah,” ujarnya.

Contoh berpikir negatif lainnya, dia kehilangan kawan-kawan yang setiap hari bergaul dengannya. Lalu, istrinya berpikir positif, alhamdulillah sang suami sekarang sering ke masjid dan kawannya orang-orang yang ikhlas dan tulus.

“Suaminya bilang, aduh saya sudah tua operasi katarak, berpikir negatif. Istrinya berpikir positif, alhamdulillah, suami saya operasi katarak berhasil, sekarang terang penglihatannya. Kalau mengaji lancar, operasi empedunya berhasil. Alhamdulillah, sekarang tidak mengeluh sakit,” katanya.

“Jauh sekali bedanya berpikir positif dengan berpikir negatif,” tegasnya.

“Suaminya mengeluh, anak saya yang satu sudah punya rumah sendiri, berpisah, yang satu belajar di luar kota, alangkah sepinya hidup ini. Lalu, istrinya yang berpikir positif bilang, alhamdulillah, anak saya sudah punya rumah sendiri. Ibarat burung, sayapnya sudah lengkap, bisa terbang. Yang satu anak saya di luar kota, tidak punya masalah, berhasil. Alhamdulillah, alangkah indahnya hidup ini,” jelas wakil ketua PWM Jawa Timur itu.

Menurut Ustadz Nur Cholis, takmir perlu tahu agar memiliki kekuatan dalam dirinya bahwa hidup itu deretan dari masalah ke masalah. Senang atau sedih bergantung dari kita menghadapi dan menyelesaikan masalah. Orang lain bilang berat sekali, orang yang lain bilang enteng sekali.

Dia lantas mencontohkan ada nenek yang punya dua anak putri. Yang satu jualan payung dan jas hujan, yang satu jualan es dawet laris. Nenek ini kalau hujan turun, menangis.

“Aduh, anak saya jualan es dawet tidak laku. Kalau panas, nangis dia, aduh kalau panas begini anak saya jualan jas hujan tidak laku,” ujarnya.

Jadi, si nenek hujan nangis, panas juga nangis. “Coba ikuti saran saya, kalau musim hujan turun ingatlah anak nenek yang jualan jas hujan, laris. Kalau musim panas ingatlah anak nenek yang jualan es dawet, laris. Alhamdulillah, laris. Apa yang berubah? Tidak ada. Kalau musim hujan ya hujan, kalau musim panas ya panas. Berpikirlah positif,” tegasnya.

Menurut Ustadz Nur Cholis, ibadah begitu gampang, tetapi jangan menggampangkan. “Urip itu enak, tetapi jangan sak enake. Orang yang arif itu orang yang bisa menyelesaikan masalah sulit dengan cara yang mudah,” katanya.

“Menjadi takmir itu harus enjoy, jangan sambat terus. Hidup itu indah. Meskipun tidak ada anggaran untuk gaji takmir. Takmir tugasnya melayani jamaah yang bermacam-macam. Tidak semua harus dituruti, tetapi diarahkan, harus kuat dan ikhlas,” ujar dia. (Habibie/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here