Orang Munafik Bicara Toleransi, tapi Mereka Caci Maki Saudara Sendiri

0
29794
Ustadz Dr H Anwar Abbas MAg mengisi pengajian dengan topik Ukhuwah Islamiyah Jumat malam (9/4/2021). (Mul/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Berjibun orang munafik di negeri ini. Utamanya kaum muslim itu sendiri. Misalnya berbicara tentang toleransi, tapi mereka dengan hebat mencaci maki orang lain intoleran, sedangkan dirinya sendiri intoleran.

Demikian pembuka ceramah Ustadz Dr H Anwar Abbas MAg, Waketum MUI, pada Pengajian Pencerah Muhammadiyah Surabaya, Jumat malam (9/4/2021). Pengajian virtual via Zoom itu diselenggarakan Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Surabaya mengangkat topik Ukhuwah Islamiyah. Diikuti 81 peserta.

“Kesimpulan saya ya banyak sekali orang yang tidak sama antara kata dan perbuatannya. Dalam agama kita ya orang itu disebut dengan munafik,” ucapnya.

Bendahara umum PP Muhammadiyah itu melanjutkan, di negeri ini banyak sekali orang munafik yang merupakan orang-orang yang membaca dua kalimat syahadat. Artinya orang Islam. Saudara kita sendiri.

“Repot. Kita juga menghadapi mereka dan juga ya meskipun mereka sangat masalah,” sesalnya.

Karena itulah, ukhuwah islamiyah harus menjadi visi umat muslim. Menurutnya, sesama seorang muslim harus saling menghormati. Terus menyuarakan kebenaran dengan nasihat baik agar tindak-tanduk mereka tidak merusak citra Islam yang baik.

“Kelompok ini di zaman nabi itu ada. Kan ada sebuah masjid yang di situ perkumpulan kelompok munafik,” papar dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ustadz Anwar melanjutkan, dirinya sepakat dengan pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Mestinya jika umat Islam bersatu, akan banyak menentukan kemajuan di negeri ini. Banyak berperan.

“Timbul pertanyaan kenapa umat Islam tidak bisa berperan banyak dan berperan lebih besar gitu? Karena kita melanggar firman Allah. Kita semestinya berpegang teguh kepada Allah dengan Al-Qur’an dan as-sunnah supaya bersatu,” jelasnya

Meskipun sunah-sunah nabi menyuruh kita untuk bersatu , lanjutnya, faktanya secara empirik bersatunya umat Islam hampir mustahil. Karena semangat masing-masing umat sudah tergerus ego sektoral. Ditambah banyak orang munafik.

“Kita menghadapi kawan-kawan kita yang seiman, ya karena kita melihat kawan-kawan kita yang tidak sejalan dengan kita. Kita bertempur sesama kita. Jadi ya agak sulit bagi kita akan menang,” ungkapnya.

Sekali lagi, sesal Ustadz Abbas, visi kesatuan dan persatuan umat Islam tidak jelas. Karena kepentingan masing-masing sangat beragam.

“Kesimpulan saya. Kita begini karena kita terlalu hubbud dunya daripada hubbud akhiroh. Kita mengabaikan kecintaan kita kepada Allah dan nabi dan lebih memilih cinta dunia. Mengejar kekuasaan kekayaan semu,” paparnya.

Padahal, lanjut tokoh kelahiran Balai Mansiro, Sumatera Barat itu, bila umat Islam mengutamakan mencintai Allah, yang akan tercipta adalah kemaslahatan secara luas. “Tidak hanya kemaslahatan yang bersifat individual, tetapi akan tercipta kemaslahatan sosial,” terangnya.

“Kita warga persyarikatan juga perlu menjadi pilar pengusaha di negeri ini, agar kita mampu menentukan dan berperan banyak untuk bangsa dan negara ini,” pungkasnya. (Mul/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here