Orang Tua Diminta Waspada Terhadap Bahaya Kronis Gawai, Seperti Apa?

0
162
Foto suasana acara mabit SMA Muhammadiyah 4 pada jum at (1/3) diambil oleh mira

KLIKMU.CO -“Mau tidur lihat gawai. Bangun tidur pegang gawai. Tidur lagi…. gawai lagi…” buka Ustaz Feri Yudi saat menjadi pemateri acara Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) dan Parenting SMA Muhammadiyah 4 Surabaya Jumat malam lalu (1/3). Pancingan itu sukses membuat peserta bersorak.

Kalimat yang dilantunkan meniru irama lagu “bangun tidur” yang dipopulerkan Mbah Surip ini menjadi pengantar topik yang dibahas dalam parenting kali ini.

Hadir dalam acara tersebut orang tua/wali murid kelas XII, pengurus PCM Karang Pilang, segenap guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 4 (SMAMIV) Surabaya, dan seluruh siswa kelas XII.

Acara bertajuk Mabit Kelas Rolas Sukses Ujian dengan Iman yang kuat yang dibarengi dengan pertemuan wali murid (parenting) ini bertujuan untuk menyatukan misi sekolah dengan wali murid dan siswa. Utamanya mengenai upaya pendampingan siswa menjelang unas.

“Saya harap, melalui pertemuan ini, kita akan selaras seirama dalam mendampingi putra-putri kita yang sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional,” ungkap Zainal Arifin MPdI dalam sambutannya. Kepala SMAMIV ini berprinsip, jika pandangan telah sama, tujuan juga sama. Hal ini akan mengoptimalkan pendampingan terhadap anak-anak yang berjuang dalam unas mendatang.

Secara umum, hal yang ditekankan dalam materi parenting adalah gambaran kaum milenial dan ketergantungannya dengan gawai. Orang tua diharapkan melek situasi zaman now yang membentuk perubahan karakter anaknya.

“Waspada Bapak-Ibu, waspada! Anak-anak kita ini sekarang umumnya memiliki karakter yang mudah diprovokasi, tidak mau diperintah, kreatif, dan berani mencoba hal baru, melawan, dan sangat-sangat suka curhat ke media sosial,” kata Ustaz Feri.

Ketua Majelis Pelayanan Sosial PDM Kota Surabaya ini ingin membangunkan kesadaran orang tua. Dia ingin menekankan bahwa jangan sampai peran orang tua digantikan oleh gawai dan orang tua tak menyadarinya. Jangan sampai anak-anak lebih suka beraktivitas bersama gawainya dan semakin menjaga jarak dengan orang tua. Hal ini akan memicu tindakan menyimpang anak.

“Saya baru sadar. Selama ini saya menganggap remeh anak-anak kalau main HP. Saya hanya mengingatkan soal PR-nya,” ucap salah satu wali murid kepad Klikmu.co

“Saya tak pernah melarang, apalagi sharing tentang apa yang dia perhatikan di hapenya,” tambahnya.

Artinya, barangkali selama ini sebagian besar orang tua kurang tanggap dengan pengaruh negatif penggunaan gawai. (Mira/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here