Orasi Guru Besar UMM: Perusahaan Start-up Bisa Berjaya karena Mampu Kelola Aset Tak Berwujud

0
86
Prof Dr Ihyaul Ulum SE MSi Ak CA saat orasi pengukuhan guru besarnya di UMM.

KLIKMU.CO – Kita sekarang hidup pada era ketika perusahaan taksi terbesar di dunia tidak memiliki satu pun armada taksi (Uber, Grab, Gojek). Kita hidup pada era ketika perusahaan ritel terbesar tidak memiliki satu pun toko maupun gudang (Amazon, Tokopedia, Sophee, dll). Mereka inilah yang disebut start-up. Start-up bukanlah usaha kecil. Ini adalah usaha baru, baru dimulai.

Akhir 2019, valuasi aset Gojek mencapai 10 miliar USD atau setara Rp 142 triliun. Angka ini berarti 14 kali dari valuasi aset Garuda Indonesia yang ‘hanya’ Rp 11,07 triliun. Valuasi aset Tokopedia (berumur 10 tahun) mencapai 7 miliar USD, setara Rp 98 triliun, 15 kali dari valuasi aset Ramayana (berusia 40 tahun) yang ‘hanya’ Rp 5 sekian triliun.

“Aset terpenting yang mereka miliki adalah intangible assets, aset tak berwujud. Aset ini berbeda dengan aset yang dimiliki oleh Garuda, misalnya, yang lebih dominan tangible assets. Intangible assets bentuknya seperti brand, skill, inovasi, dan keterampilan. Aset-aset tak berwujud ini tidak dapat dilaporkan dalam laporan keuangan, karena tidak memenuhi kriteria sebagai aset,” papar Prof Dr Ihyaul Ulum SE MSi Ak CA.

Pada perusahaan ‘konvensional’, sambung Ulum, karena tidak dilaporkan, seringkali aset-aset tak berwujud ini diabaikan dan tidak dikelola dengan baik. Sementara pada perusahaan start-up, justru aset inilah yang dibentuk, dimunculkan, dikelola, dan dihargai sangat tinggi.

Di sejumlah negara Eropa, selain harus menyusun laporan keuangan, perusahaan publik harus juga menyajikan laporan tentang pengelolaan aset tak berwujud mereka. Bahkan, universitas dan organisasi-organisasi nonprofit belakangan juga mulai rajin mengungkapkan pengelolaan aset tak berwujud yang mereka miliki. Intangible assets ini biasa juga disebut dengan istilah intellectual capital (IC) atau modal intelektual.

“IC adalah aset tak berwujud. IC dapat berbentuk kepercayaan pelanggan, brand image, pengendalian distribusi, budaya organisasi, keterampilan manajemen, dan sebagainya,” demikian dipaparkan Ulum menerangkan tentang latar belakang dirinya selama 14 tahun terakhir ini menggeluti model pengukuran kinerja IC. Berkat menggeluti IC ini pada Kamis (17/9) Ulum dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bidang akuntansi.

Pengukuhan dilakukan di depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Pengukuhan profesor kali ini sengaja digelar di ruang terbuka agar sirkulasi udara jauh lebih bagus, menyesuaikan protokol kesehatan Covid-19. Jumlah tamu undangan pun terbatas maksimal hanya 50 orang. Jumlah ini sudah termasuk dari keluarga guru besar, jajaran senat dan rektorat, serta para guru besar.

“Selama beberapa tahun terakhir ini, saya fokus kepada dampak pengelolaan modal intelektual dan pelaporannya melalui sejumlah media, misalnya financial report, annual report, sustainability report, maupun official website organisasi,” terang pria kelahiran Desa Paciran, pesisir utara Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Berbasis laporan keuangan, misalnya, Ulum menawarkan suatu model untuk mengukur kinerja modal intelektual (intellectual capital performance) yang ia beri label MVAIC (modified value added intellectual coefficient). Model ini cocok hanya untuk perusahaan konvensional. Sedangkan khusus untuk perbankan syariah ia memberi label Ib-MVAIC.

Ulum juga menawarkan suatu framework untuk pengungkapan modal intelektual perusahaan publik di Indonesia, ulum menyebutkan intellectual capital disclosure framework Indonesia (ICD-In). Terbaru, Ulum berusaha memetakan komponen modal intelektual yang dituntutkan oleh instrumen akreditasi program studi (IAPS) 4.0.

Mengutip pernyataan yang kerap disampaikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Alm Prof Dr (HC) Abdul Malik Fadjar MSc, Rektor UMM Dr Fauzan MPd menyebut, menjadi guru besar pada hakikatnya adalah meninggikan antena. Tetapi, tinggi saja tidak cukup. Harus membangun antena yang sinyalnya full, yang bisa memberikan resonansi. Resonansi dalam radius lokal maupun internasional.

“Prof Ulum adalah antena yang sinyalnya kuat, diharapkan juga bisa memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan UMM. Kami ingin seluruh guru besar di UMM jangan merasa lelah. Tetapi harus semuanya pasang antena yang tinggi-tinggi sesuai dengan kepakaran yang dimiliki. Karena satu hal yang ingin kita capai: kebermanfaatan,” kata Fauzan. (Ade/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here