Pagebluk Keempat dan Ketaatan pada Pemegang Otoritas

0
279

Oleh: Prof Djoko Saryono MPd

Guru besar Universitas Negeri Malang

KLIKMU.CO

Umurku kini sudah 63 tahun lewat beberapa bulan. Berarti sudah kulalui empat pagebluk besar berskala luas yang amat mencekam dan sangat mengerikan. Tiga pagebluk bermula dari perbedaan pandangan yang diolah jadi hoaks dan kabar bohong atau kabar burung, yang lalu berujung pada pembantaian brutal dan massal. Sejarah macet di situ –tak ada narasi pasti dan jelas– semua terkarantina misteri. Hanya pagebluk sekarang bermula dari kehancuran alam semesta, yang menjadikan makhluk selain manusia kehilangan habitat hidupnya, lantas beradaptasi dan bermutasi, dan berujung menyerang manusia. Orang-orang menamai wabah pandemi virus korona. Aku suka menyebutnya pagebluk korona.

Wabah pandemi virus korona tipe 7 yang dikenal Covid-19 yang melanda dan menyebar sangat cepat di negeri +62 merupakan pagebluk keempat yang kusaksikan dan kualami dalam hidup. Selain yang paling membuat kalang kakut dan silang sengkarut, bahkan saling tuduh dan menyalahkan di antara pelbagai pihak, pagebluk korona ini menurutku yang membuat manusia — ah ya masyarakat awam dan pemuka masyarakat — menjadi bebal, dungu, dan gila. Kebebalan, kedunguan, dan ketakwarasan mendadak berjangkit di mana-mana dan kepada siapa saja.

Tak ada suara otoritas tunggal atau terpercaya diikuti atau ditaati untuk menanggulangi atau mempercepat penanganan Covid-19. Semua mulut bicara tanpa peduli akurat tidaknya. Semua tangan khususnya jemari melepaskan segala hal tentang virus korona dalam bentuk teks, gambar, dan lain-lain. Semua telinga tak sudi mendengarkan, bahkan mendengar pun mungkin tidak, info-info tentang pencegahan wabah pandemik virus korona. Jangankan suara kaum profesional, malah suara pemerintah atau pihak otoritatif saja tak didengarkan.

Tentu aku tak ingin bebal, dungu, atau tak waras dalam pagebluk keempat dalam hidupku ini. Kekonyolan dan ketololan sungguh tak patut bagiku, tak pada tempatnya buatku. Maka kucari buku-buku rujukan dari sana-sini, lantas kubaca layap dengan lumayan cepat. Berbagai protokol, bahkan juga infografis dan video perihal pencegahan pagebluk virus korona. Semua kuupayakan sendiri karena bertanya dan meminta pada orang lain menurutku percuma dan buang-buang waktu. Pasalnya, di negeri +62 tempatku hidup rata-rata orang kurang baca, malah melihat buku saja enggan, apalagi memahami dengan cermat dan utuh. Begitulah, dengan berbagai rujukan ilmiah yang cukup utuh disertai oleh protokol-protokol penanganan pagebluk keempat dalam hidupku, lalu aku mengambil keputusan dan sikap.

Kuputuskan dan kuambil sikap bahwa aku menaati imbauan dan perintah serta protokol yang sudah ditetapkan pemerintah. Bukankah pemerintah yang mengurusi negara +62 ini tak bodoh, tentu sudah didukung oleh kajian dan pandangan para pakar di bidang pandemi virus korona. Maka aku pun mengarantina diri di rumah, menaati perintah lockdown. Bukan hanya melakukan pembatasan sosial, tapi juga pembatasan fisikal. Bukan cuma menjaga jarak sosial, tapi juga jarak fisikal.

Tapi, memang, aku kurang bisa bekerja dari rumah. Tak bisa efektif bekerja dari rumah buatku lantaran aku kurang piawai mengoperasikan cara kerja daring atau belajar daring yang diimbaukan dan difasilitasi pemerintah selagi bagiku kerja dengan medium daring terlalu banyak menjadikan kemanusiaan kita tergerus. Ikatan dan kehangatan sesama manusia bisa keropos kalau orang-orang gila kerja dengan cara daring. Ketangguhan dan keutuhan tatanan kemasyarakatan bisa rapuh dan rentan bila menghadapi masalah. (*)

Prof Dr Djoko Saryono MPd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here