Pahami Sirah Nabawiyah, Mubaligh Harus Berdakwah Mengikuti Rasulullah

0
558
Foto para tokoh Muballigh Muhammadiyah madura diambil oleh Hamid

KLIKMU.CO – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pamekasan kembali mengadakan agenda tahunan pada Ahad (26/5), yakni silaturahim di bulan Ramadhan. Kali ini melibatkan 3 majelis: Majelis Tabligh, Majelis Ekonomi, dan MPKU.
Kegiatan itu bertujuan untuk untuk menumbuhkan ikatan dan mempererat ukhuwah antarmubaligh Muhammadiyah sehingga dapat menumbuhkan senergisitas antarmubaligh.

Ketua Majelis Tabligh Dr Ghazali MM menyatakan, acara silaturahim ini adalah agenda rutin yang terus ditingkatkan dalam memotivasi mubaligh dan menjaga ukhuwah antarmubaligh. “Dakwah Muhammadiyah harus menggembirakan dan menyejukkan supaya tujuan dakwah itu tercapai dan sampai ke hati sasaran dakwah,” ujarnya.

Seorang mubaligh, lanjutnya, harus mempunyai komunikasi yang baik. “Komunikasi yang baik berupa tutur kata yang santun, lemah lembut, dan tidak hanya menyampaikan tapi harus pandai mendengarkan dan menyimak Mubaligh yang lain,” terangnya.

Sementara itu, Ketua PDM H Daeng Ali Taufiq SKM MM menuturkan, silaturahim ini mengundang pemateri dari luar dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas mubaligh Muhammadiyah. “Dakwah adalah ujung tombak organisasi Muhammadiyah yang subjeknya adalah kader. Para mubaligh harus mampu sebagai tauladan dari semua aspek,” katanya.

Hadir sebagai pemateri KH Basri Asy’ari Lc ME. Menurut Basri, para mubaligh dituntut berdakwah mengikuti Rasulullah. Maka, harus harus pahami sirah nabawiyah. “Rasul sebagai contoh dalam berdakwah, makanya kita harus baca sirah nabawiyah. Para mubaligh mempunyai amanah mulia, yakni menyampaikan dakwah amar makruf nahi munkar,” jelasnya.

Basri menjelaskan beberapa tugas pokok Rasul. Pertama, tilawatul ayat. Ayat kauniyah untuk menanamkan akidah. “Intinya, dakwah adalah menyatukan hati, dari orang yang tidak suka menjadi suka,” katanya.

Kedua, tazkiyah yang berarti menyucikan. Sasaran dakwah adalah jiwa, akal, dan pikiran. Persoalan utama pada zaman jahiliyah adalah taqlik. Orang yang taqlik tidak bisa dibuka dengan pikiran.
“Pola pikir menyalahkan orang lain itu diubah menjadi pola pikir introspektif. Tugas dai mengubah keadaan disesuaikan dengan Alquran,” katanya.
Di akhir ceramah, pemateri menyimpulkan bahwa yang namanya mubaligh itu menyampaikan pesan sampai kepada orang lain. “Dapat itu menyentuh hati,” ujarnya. (Abd Hamid/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here