Pahlawan yang Memerdekakan

0
77
Foto pribadi

KLIKMU.CO

Oleh: Nurbani Yusuf

Ketika aku memberi makan pada orang kelaparan, kau sebut aku pahlawan. Namun, ketika aku bertanya mengapa mereka kelaparan, kau sebut aku komunis (Dom Helder Camara)

***

Tinggal di Pasuruan pernah melawan kompeni. ”Kang Sedjo” usia 91 tahun. Selama 78 tahun ia hidup dijajah kompeni. Selama 13 tahun sisanya dijajah bangsa sendiri. Ia ditakdirkan menjadi pejuang seumur hidup. Bahkan harus berjuang melawan takdirnya sendiri. Ada ribuan ”Kang Sedjo” yang hidupnya tak pernah merdeka.

Tidak semua pahlawan dikenang, tak sedikit yang dimusuhi dan dilawan. Tak semua pahlawan mendapat penghormatan atau mendapat bintang jasa, tak sedikit pula yang diadili, dibui untuk waktu yang sangat lama karena beda haluan. Ada yang diam terima nasib dan perlakuan apapun itu, ada pula yang tak sabar kemudian menagih penghargaan.

Sebagian kita malah masih kebingungan mendefinisikan apa itu pahlawan,  siapa atau di mana? Kemudian mencari pahlawannya sendiri sesuai kebutuhan. Lantas para pembesar negeri mencari justifikasi atau pembenaran agar disebut menghormati pahlawan.

***

Kita memang sedang tak tau dengan cara apa mengenang dan menghormati. Bunga pun dirangkai, seremoni dibuat, laras bedil dibunyikan, sebagai penanda telah menghormati dan mengenang jasa para pahlawan pada kuburan tempat di mana para pejuang di istirahatkan.

Semaun, Alimin, Darsono juga ikut melawan kompeni tapi tak layak disebut pahlawan. Kertosuwirjo harus dikejar-kejar, ditangkap, diadili dan dibui karena idelogi yang salah. Bung Hatta pun terpisah dengan Soekarno karena beda haluan dan memilih jalan berbeda.

Soekarno dirumahkan, anak turunnya ditindas selama rezim orde baru berkuasa. Megawati dkeroyok dan digulingkan dalam peristiwa kuda tuli. Sebelum kemudian keadaan berbalik berkuasa melakukan hal yang sama. Pahlawan adalah siapapun yang berjasa termasuk orang tua kita atau siapapun yang patut dikenang karena kerja kerasnya layak ditimbang.

***

Pahlawan dan pemberontak itu beda tipis, bergantung siapa pada posisi apa. Tanyakan pada kompeni Belanda: Pangeran Diponegoro itu pahlawan apa pemberontak? Di hari pahlawan ini saya mengenang kedua orang tuaku dan kakek buyutku yang mewariskan tanah, masjid, kebun, sawah dan rumah. Mengenang Bung Tomo dengannya girah perjuangan melawan kompeni tetap terawat. Mengenang Kiai Dahlan yang memberiku ruang untuk berpikir maju. Mengenang Prof Malik Fadjar yang memberi kesempatan dan peluang berkhidmat melihat cakrawala ilmu, kepada semua pejuang yang gugur aku mengenang dan mendoakan. (*)

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here