Pakar Australia Puji Uniknya Manajemen Risiko Bencana Muhammadiyah

0
166
Jonatan Lassa, dosen senior Humanitarian, Emergency and Disaster Management Charles Darwin University, Australia. (Tim Media MDMC/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Perlu diketahui, baik oleh Muhammadiyah sendiri maupun pemerintah, misalnya. CBDRM (community based disaster risk management/manajemen risiko bencana berbasis komunitas Muhammadiyah) itu unik dan bisa menjadi dasar mobilisasi ketika terjadi bencana,” ujar Jonatan Lassa, dosen senior Humanitarian, Emergency and Disaster Management Charles Darwin University, Australia.

Hal itu disampaikan dalam acara diskusi online bertema Membangun Pusdiklat MDMC: Catatan Ahli DRR yang digelar Divisi Pendidikan dan Latihan MDMC PP Muhammadiyah Jumat malam (26/2/2021).

Bertindak selaku moderator dalam diskusi tersebut Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah Rahmawati Husein dan juga dihadiri Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan serta para relawan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia.

Jonatan Lassa melanjutkan, perlu dilihat penanganan bencana dalam konteks makro di Indonesia. “Setelah hampir 20 tahun aktif di bidang CBDRM, saya melihat CBDRM yang berkembang di Indonesia sangat plural dan Muhammadiyah khususnya melalui MDMC harus melihat nilai tambah serta tanding dari CBDRM yang dikembangkannya,” katanya.

Jonatan Lassa mengatakan, dirinya melihat CBDRM yang dikembangkan Muhammadiyah salah satu yang mempunyai nilai tambah cukup besar. Bagi Jonatan Lassa, keunikan CBDRM Muhammadiyah adalah ada hubungan riil antara unit Muhammadiyah, misalnya rumah sakit atau sekolah Muhammadiyah, dengan komunitas masyarakat.

“Ini bisa menjadi dasar mengembangkan model pendidikan dan latihan kebencanaan untuk mengisi celah model training, misalnya yang dikembangkan oleh pemerintah serta yang sesuai konteks Indonesia,” paparnya.

Dalam dunia kebencanaan Indonesia, Jonatan Lassa mengungkapkan saat ini ada berbagai model sistem penanganan bencana yang berjalan. “Di Indonesia secara tidak kita sadari ada sistem penanganan bencana yang tumpang-tindih, yang orang tidak lihat secara umum. Jadi, ada sistem yang paralel,” imbuhnya.

Jonatan Lassa memaparkan, hasil dari reformasi penanganan kebencanaan yang tertuang dalam UU No 24 tahun 2007 menunjukkan, Indonesia sedang menuju model penanganan bencana yang bersifat induktif. “Kita sedang mencoba mencari, meraba-raba sistem yang khas dengan sistem otonomi daerah sekarang dan sampai saat ini kita tidak punya model pas yang mampu efektif mengurangi bencana,” tegasnya.

Ada empat model penanganan bencana menurut Jonatan Lassa yang berjalan paralel tanpa disadari. “Satu model command control ala militer, yang kedua adalah civil protection atau pertahanan sipil, yang ketiga model sistem internasional dengan sistem klaster yang dilokalisasi dalam bentuk klaster nasional, dan keempat model incident command system (ICS) seperti model Amerika, Australia,” ungkapnya.

“Ada banyak model yang dikenalkan, sementara kita belum punya waktu yang cukup untuk mendefinisikan model yang paling pas untuk Indonesia. Muhammadiyah khususnya MDMC perlu membantu menemukan model untuk Indonesia yang pas itu seperti apa. MDMC perlu mengalokasikan tenaga untuk memikirkan juga hal yang sifatnya strategis ini karena tidak sempat dipikirkan oleh banyak pihak,” pungkasnya. (Tim Media MDMC/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here