Pakar Lintas Negara Bahas Tantangan dan Peluang Pendidikan di Era New Normal

0
158
Prof James Peacock, salah satu pembicara dalam sesi pertama konferensi internasional Pascasarjana UMM. (Wildan/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Setelah lebih dari setahun menghadapi pandemi dan menjalani era new normal, muncul berbagai tantangan dan peluang untuk kembali membangun segala bidang. Hal itulah yang diungkap dalam International Conference Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan tajuk “Under New Normal: Challenge & Opportinities”.

Acara ini diselenggarakan secara daring melalui kanal Zoom serta terbagi menjadi dua sesi. Yaitu pada 10 Juli untuk klaster pendidikan dan klaster non pendidikan pada 17 Juli.

Membuka acara, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi memaparkan analisisnya terkait pandemi Covid-19. Menurutnya, virus ini telah membuat berbagai aspek kehidupan terganggu, bahkan tidak berjalan dengan semestinya.

Pandemi juga memaksa manusia untuk menjaga jarak dalam menjalankan aktivitasnya. “Tentu pandemi ini merupakan anomali yang tidak normal. Hal itu berujung pada keadaan krisis di mana-mana,” tuturnya.

Dosen kelahiran Madura ini menambahkan, pendidikan juga menjadi aspek yang tidak luput dari efek serangan pandemi. Sistem pembelajaran berubah sedemikian rupa. Harus beradaptasi dan mengubah pendidikan yang sebelumnya dilakukan secara luring menjadi daring hingga saat ini.

Hal itu dilakukan agar para murid masih bisa bersekolah sekaligus menekan angka penularan Covid-19. “Untuk menyelesaikan problematika ini perlu adanya pendekatan semesta atau universal, baik itu sains maupun medis. Ditambah pendekatan kultural,” imbuh Syamsul.

Pada diskusi pertama klaster pendidikan, konferensi ini menghadirkan Dr Dennis Alonzo dari University of South Wales Australia, Prof James Peacock dari Amerika Serikat, Dr Abdul Harris MA dari UMM, dan Cherry Zin Oo PhD MEd BEd salah satu dosen dari Yangon University of Educations Myanmar.

Mengawali pemaparan, Dr Dennis Alonzo mengkaji situasi pandemi yang berimbas pada pendidikan hingga mengharuskan adanya sistem baru, yakni daring. Menurutnya, ada berbagai peluang bagi instansi dan para pengajar untuk dapat memanfaatkan berbagai platform dalam pembelajaran. “Khusus untuk para pengajar, mereka harus segera beradaptasi dan menjalankan kurikulum yang baru agar bisa mendapatkan hasil maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof James Peacock menjelaskan bahwa Indonesia mengalami tiga fase krisis. Pertama G30S/PKI, yakni fase saat terjadi krisis kepercayaan dan krisis toleransi. Selanjutnya, krisis pandemi Covid-19 saat ini yang melumpuhkan banyak sektor kehidupan, khususnya ekonomi dan pendidikan.

Kemudian, yang terakhir adalah perubahan iklim dan pemanasan global. Fase ketiga tersebut terjadi akibat proses akselerasi perubahan iklim yang ekstrem. Beberapa faktor pemicunya adalah polusi udara, perusakan lingkungan, dan limbah dari industri.

Berikutnya, Dr Abdul Haris MA menerangkan bagaimana manajemen yang baik untuk work from home dan learn from home. Jika diimplementasikan dengan baik, tentu akan memudahkan dalam beradaptasi.

Sedangkan Cherry Zin Oo membahas hasil risetnya pada era new normal. Menurutnya, pendidikan masa ini perlu menarik partisipan. Selain itu, juga adanya masalah di aspek isu media. Adapun peluang yang muncul adalah keterbukaan askes individu pada pendidikan serta pengembangan karakter dengan memanfaatkan waktu selama pandemi.

Sementara itu, klaster kedua menghadirkan Asst Prof Dr Donludee Jaisut dari Kasertssart University Thailand, Assoc Prof Dr Abdurrahman Raden Aji Haqqi dari University of Sultan Sharif Ali Islamic Brunei Darussalam, Dr Ir Rahayu Relawati MM dari UMM, serta Dr Magdalena Sztukiel dari Polandia. Berbeda dengan sesi sebelumnya, kali ini mereka membahas tema-tema di luar pendidikan. Mereka mengkaji mengenai bagaimana efek pandemi bisa melemahkan berbagai aspek kehidupan. Juga perlu adanya persiapan matang dalam upaya memulihkan diri dari krisis. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here