PAN Reformasi AR versus PAN Zulhas

0
257
Istimewa

Oleh: Ariadi *)

KLIKMU.CO

Disingkirkannya Amien Rais, tokoh bangsa, Bapak Reformasi, sekaligus pendiri PAN, oleh Zulhas dkk adalah keputusan yang merugikan PAN di bawah ketumnya, Zulhas. Hal itu berbuntut panjang dengan keluarnya Hanafi Rais dari DPP PAN sekaligus mundur sebagai anggota DPR RI dan beberapa DPP-DPW loyalis Amien Rais menandakan bahwa PAN di bawah Zulhas mengalami perpecahan dan distrust. Adapun pengunduran diri sekaligus mundurnya Hanafi Rais dari DPR RI dan DPP adalah sebuah keputusan politis dan tepat.

Hanafi Rsis yang dalam partai adalah seorang Amien-isme baik biologis dan ideologis memang wajar mengambil keputusan ini, mengingat Amien Rais ayahnya yang juga pendiri PAN “disingkirkan” oleh Ketum PAN Zulhas saat ini.

Hanafi Rais adalah satu kubu berpasangan dengan Mulfachri Harahap, calon ketum dan sekjennya saat kongres PAN yang memilih ketum baru di Kendari awal tahun lalu. Kubu Mulfachri adalah kubu yang dikalahkan oleh Zulhas.

Kemenangan Zulhas juga bagi kami sebagai pemerhati sekaligus praktisi/kader tidak terlepas dari “bantuan” istana. Zulhas dengan posisinya tersandera “dimenangkan” agar PAN kembali mendukung Jokowi.

Walaupun Zulhas sendiri tidak masuk di dalam kabinet Jokowi-Maruf Amin karena ditolak oleh anggota koalisi Jokowi, tapi “kue” lain sudah pasti Zulhas dapat jatah.

Orang-orangnya Zulhas juga di PAN lebih dekat dengan istana. Katakan saja seperti Totok Daryanto, Viva Yoga Mauladi, dkk.

Keluarnya Hanafi Rais dari pengurus DPP PAN-nya Zulhas lebih karena ketidaknyamanan psikologis Hanafi bekerja dengan orang-orangnya Zulhas.

Zulhas adalah antitesisnya Amien Rais di PAN. Jadi memang tak akan ketemu titik tengahnya. PAN berhasil “dibajak” kalangan muda PAN yang istana-minded.

Secara ideologis, PAN di bawah Zulhas memang mengalami disorientasi, mengalami pergeseran nilai-nilai reformasi yang didengungkan Amien sejak awal. Perolehan suara PAN juga meluncur turun di bawah Zulhas karena “roh” PAN sebagai partai reformasi sudah hilang.

Amien Rais dkk kini sedang mempersiapkan pendirian partai baru. Hanafi Rais tak akan mungkin “nganggur”. Dia masih muda, karirnya masih panjang. Partai baru Amien Rais sedang dievaluasi secara menyeluruh sebelum diputuskan kapan berdirinya. Yang jelas tentu setelah masa-masa Covid-19 ini berakhir, baru PAN Reformasi ini akan berdiri.

Amien dkk masih mempelajari detail dan sedang mengevaluasi langkah pendirian PAN Reformasi yang dapat merangkul tokoh-tokoh senior maupun milenial yg memiliki wawasan kebangsaan dan keberagamaan yang luas dan tidak dianggap karena faktor kecewa terhadap Zulhas dst.

Platform PAN sebagai partai reformasi sedang digodok ulang dan kembali ke titah lamanya sebagai partai yang punya basis ideologi yang jelas dan tidak kental dengan aroma pragmatis seperti selama ini di bawah Zulhas. Di titik ini agenda Amien bagus.

Di Indonesia memang saat ini dibutuhkan partai yang konsisten mengemukakan ide dan gagasan dan tidak terjebak pada budaya transaksional terus-menerus. Langkah Amien mendirikan partai baru dalam pandangan saya bagus dan ide cerdas jika ingin mengembalikan PAN ke narasi reformasi dan agenda inovasi kedepan.

Mengingat kekuatan Amien di PAN masih dominan dibandingkan dengan kekuatan kubu Zulhas, jika nanti partai baru Amien Rais berdiri. Maka akan banyak kader PAN yang selama ini vakum akan kembali menggeliat.

Amien Rais belum “mati” di PAN. Amien Rais masih punya magnet yang memadai untuk mengembalikan PAN ke track awal sebagai partai reformis. Meskipun begitu, partai baru Amien Rais dkk nanti tentu memiliki banyak tantangan. Partai baru nanti harus mengedepankan regenerasi yang baik dan re-ideologisasi yang cakap.

Akan bagus kalau partai baru nanti langsung dipimpin Hanafi Rais dan ditemani oleh kawan-kawan senior PAN kubu Mulfachri kemarin saat kongres. Sekiranya Amien-Hanafi berhasil mengonsolidasikan kekuatan dengan baik dan melakukan regenerasi secara langsung dan cepat, tidak tertutup kemungkinan Partai baru Amien nanti justru akan bisa mengeliminasi gaya politik Zulhas selama ini. Akan banyak yang akan lompat pagar ke kubu Amien.

Dalam pandangan saya, Hanafi bisa menjadi AHY dan AM berikutnya di kancah politik tanah air. Hanafi, AHY, dan AM adalah ikon ikon politisi muda milenial yang punya peluang besar ke depannya.

Karena pada dasarnya masa-masa kaum tua dalam politik tanah air alias era gerontokrasi sudah lewat, dan publik sudah tak respek dengan golongan tua. Sekarang memang eranya millenial. Era meritokrasi.

Budaya feodal yang dipamerkan oleh kalangan tua di setiap partai sudah banyak ditolak dan tidak direspons positif oleh publik. Tapi karena tokoh milenial juga selama ini belum muncul, tokoh tua masih bisa berperan dan diambil ilmu dan pengalamannya, makanya kalangan muda seperti Hanafi, AHY, dan AM harus mengambil inovasi baru dan gagasan baru dengan melakukan pendekatan pada tokoh-tokoh bangsa dan para senior yang lebih berpengalaman agar narasi dan platform barunya Hanafi Rais dkk nanti bisa relevan dengan zaman dan bisa diterima oleh publik. Terutama kaum muda millenial yang hari ini menguasai 30 sd 40% market share politik di Indonesia.

Kalau agenda-agenda yang saya sebutkan di atas mampu dilakukan oleh Amien Rais dkk dengan PAN Reformasi-nya, akan ada harapan baru di tubuh politik “channel” warga Muhammadiyah ini. Akan banyak kalangan warga dan simpatisan Muhammadiyah yang selama ini apatis akan kembali aktif.

Pendirian PAN Reformasi ini memang sunnatullah. PAN masuk periode 20 tahunan, banyak partai itu berubah di usia 20 tahunan. Jadi harus disikapi dengan biasa saja agar kita dewasa dalam berpolitik. Selamat berijtihad dalam berpolitik. PAN Reformasi partai baru bentukan Amien Rais Bapak Reformasi identik dengan reformasi yang telah diperjuangkan beliau. Kalau benar-benar dikelola dengan baik serta menitikberatkan pada regenerasi dan re-ideologisasi, PAN Reformasi itu nanti punya masa depan yang lebih bagus. Semoga!

*) Pengamat dan praktisi politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here