Panduan Menjalani Isolasi Mandiri dengan Tenang dan Damai

0
287
CNN Indonesia

Oleh: Dra Wiwik Juwarini Prihastiwi MSi

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya

KLIKMU.CO

Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir satu tahun, namun belum ada tanda-tanda mereda. Bahkan, memasuki tahun 2021, kasus terpapar Covid-19 ada kecenderungan meningkat kembali sehingga pemerintah harus menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa dan Bali.

Pemerintah telah banyak melakukan upaya preventif dengan melakukan kampanye dan penegakan protokol kesehetan lewat 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak). Demikian juga upaya kuratif dengan menangani pasien-pasien yang telah terinfeksi dan upaya penemuan obatnya.

Kita sebagai masyarakat juga telah berupaya melaksanakan 3M. Namun, jika kemudian masih mendapat ujian sakit dengan diketahui hasil tes ternyata reaktif atau positif dan harus menjalani isolasi mandiri, barangkali kita pernah lengah dalam melaksanakan 3M itu. Biasanya kalau ketemu anggota keluarga, kita langsung melepas masker, padahal kita tidak tahu saudara kita pernah berinteraksi dengan orang lain yang ternyata orang tanpa gejala. Bisa jadi demikian karena musuh kita adalah virus yang tidak kasatmata.

Jika seseorang harus isolasi mandiri, sering muncul gejala-gejala psikologis. Antara lain cemas atas kesehatan dirinya, tidak sabar untuk hidup normal, dan kesepian serta marah karena merasa terkekang. Lalu, apa yang harus dilakukan ketika harus menjalani isolasi diri agar gejala-gejala tersebut tidak dialami?

Pertama, jangan membaca berita terkait Covid-19.

Kedua, lakukan hal-hal yang bisa membuat bahagia. Hal itu bisa dilakukan dengan melihat tontonan yang lucu-lucu. Di era digital sekarang ini, informasi dan hiburan ada di genggaman kita. Salah satu sarana yang sangat dekat dengan kita yang memudahkan mendapat informasi, komunikasi, dan hiburan adalah handphone. Oleh karena itu, manfaatkan HP pintar ini untuk mendapat hiburan yang menyenangkan, yang lucu-lucu. Jangan membuka berita-berita tentang Covid-19. Dengan melihat hiburan yang lucu-lucu akan meningkatkan imun kita.

Selain itu, mendengarkan musik yang disukai. Berbagai jenis musik juga bisa diakses dari HP pintar ini.

Ketiga, cari kegiatan yang kreatif bersama sahabat secara virtual. Kita memang perlu physical distancing, tetapi kita masih bisa “nongkrong” dan “kumpul” sama rekan-rekan atau dengan anggota keluarga lain yang sehat dengan memanfaatkan aplikasi Zoom, Skype, atau Google meet atau WA video. Lalu, lakukan kegiatan bersama-sama dengan teman secara live, mulai makan siang bareng secara online, ngopi bareng di beranda rumah masing-masing, bersenda gurau sambil berjemur pagi, dan lain-lain. Barangkali ada yang masih gagap teknologi, maka bisa melalukannya melalui video call dari WhatsApp Group.

Bisa juga melakukan kegiataan yang sesuai hobi dan bakat. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dilakukan, maka saat isolasi mandiri bisa dilakukan akan lebih baik.

Keempat, terus isi pikiran dengan hal-hal yang positif. Cobalah mengisi waktu dengan jalan-jalan virtual ke beberapa tempat wisata di dalam negeri atau luar negeri. Kita bisa mengikuti kursus online melalui webinar, conference call, atau platform kursus online.

Kelima, perkuat ibadah dan zikrullah. Dengan lebih memperkuat ibadah, kita yakin akan pertolongan Allah dan mampu bersyukur meski diberi cobaan. Dengan keyakinan akan pertolongan Allah dan bersyukur akan mengantarkan perasaan tenang, nyaman, dan damai dalam batin kita. Hal itu karena rasa syukur mampu meminimalisasi emosi negatif, seperti cemas, panik, khawatir, takut, dan gelisah, serta menggantikannya dengan emosi positif, yakni tenteram, nyaman, dan damai.

Keenam, istiharat yang cukup

Ketujuh, olahraga dan berjemur.

Hal-hal seperti itu harus terus diupayakan agar hati kita tenang dan bahagia. Sebab, sesungguhnya ketenangan batin dan bahagia itulah yang akan meningkatkan antibodi kita. Kebahagiaan dan ketenangan hati adalah pilihan. Kita sendiri yang menentukan dan meraihnya.

Peran Anggota Keluarga dan Sahabat

Sekarang bagaimana peran keluarga yang lain jika ada anggota keluarganya yang harus menjalani isolasi mandiri?

Sebagaimana telah diuraikan di atas, anggota keluarga yang harus menjalami isolasi mandiri akan sangat mungkin mengalami kecemasan, kebosanan, bahkan marah dengan kondisinya sekarang. Oleh karena itu, dia membutuhkan dukungan sosial dari orang-orang terdekatnya. Di sinilah peran anggota keluarga yang sehat dan sahabat untuk memberi dukungan sosial.

Dalam bentuk apa dukungan sosial itu? Yang paling ringan adalah tidak menyalahkan, memberi semangat (tidak selalu menanyakan rasa sakit yang dirasakan), mengingatkan untuk disiplin minum obat, istirahat, berjemur, dan mengajak ngobrol yang lucu-lucu melalui sambungan telepon.

Selain itu, keluarga harus menyediakan menu makanan yang bergizi. Kandungan gizi dalam bahan makanan akan tetap terjaga jika cara mengolahnya benar. Keluarga harus belajar bagaimana mengolah sayuran, daging, ikan,  dan lain-lain secara benar agar kandungan gizi tidak hilang.

Semuanya harus tetap melaksanakan protokol 3M agar terlindung dari pandemi Covid-19 ini. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here