Panti Ini Gelar Diskusi Cerdas dan Sehat dalam Mengakses Dunia Maya

0
145
Budiyati (jilbab putih) saat menjadi narasumber konsultasi anak di situasi pandemi Covid-19. (Yuda/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan telah mengubah kehidupan banyak orang, termasuk anak-anak. Dalam situasi pandemi ini, kita dipaksa untuk beradaptasi secepat mungkin. Dengan semua ketidakpastian dan perubahan yang terjadi, anak-anak berada dalam situasi rentan atas berbagai risiko. Di antaranya kehilangan orang tua karena Covid-19, rentan mendapat kekerasan dan eksploitasi, terbatasnya dukungan bagi anak dengan disabilitas, dan sebagainya.

Mengantisipasi kondisi seperti itu, Panti Asuhan Muhammadiyah (PAM) Nyai Walidah Dupak, Bandarejo, Surabaya, menggelar diskusi interaktif demi mengusir kebosanan selama belajar di rumah. Diskusi yang mengusung tema “Konsultasi Anak Di Situasi Pandemi Covid-19” ini diselenggarakan di SMP Muhammadiyah 11 Surabaya (Muven) dan dihadiri 17 anak panti asrama dan nonasrama, Rabu (30/9).

Bertindak sebagai narasumber Budiyati MPd yang merupakan ketua Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur. Budiyati mengungkapkan, masa pandemi yang berkepanjangan ini tentu akan sangat membosankan. Bisa saja anak mendapat gangguan psikis karena selama pandemi tidak bisa berinteraksi bebas dengan teman-temannya.

Pelajaran di sekolah pun, kata dia, hanya dalam jaringan (daring) sehingga kemungkinan akan rentan mengalami hambatan dalam memahami pelajaran.

“Dari diskusi tadi muncul bahwa anak-anak merasa bosan sehingga ada tiga hal yang kita diskusikan, yaitu mengenai konsep diri anak, akses internet yang sehat, dan tantangan, hambatan, serta solusi ketika dia mengalami berbagai macam persoalan,” ujarnya.

Dia pun berharap anak-anak punya konsep yang jelas ketika mereka bermedsos atau berinternet, mana yang boleh dibuka dan mana yang tidak. “Istilahnya bijak ketika online dan berpikir ketika bermedsos bisa menyinggung atau tidak,” paparnya.

Niken Ayu, salah satu peserta yang juga alumnus PAM Nyai Walidah dan kini menempuh kuliah di Unesa, menanyakan bagaimana tip dan solusi ketika tidak menemukan output konsep diri yang sesuai, padahal sudah berusaha dengan maksimal.

Narasumber menjawab ada lima hal yang perlu dilakukan. Pertama, perlu ditinjau kembali perencanaan yang kita buat, apakah ada ketidaksesuaian dengan output yang akan kita capai. Kedua, identifikasi konsep diri kita dominan negatif atau positif sehingga untuk mengetahui kegagalan kita dan segera sadar untuk mengubahnya.

“Ketiga, lakukan konsultasi kepada pelatih yang berkompeten di bidangnya ketika waktu berlatih,” ujarnya.

Keempat, lanjutnya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Maka, harus punya komitmen. Tidak mudah menyerah dan bahkan putus asa karena itu merupakan konsep diri yang negatif.

“Perbanyak berlatih, perhatikan kontinuitasnya, dan kenali hal-hal apa yang bisa memotivasi anak untuk bisa lebih baik. Jangan lupa setelah ikhtiar berdoa untuk minta keberhasilan sesuai yang direncanakan,” tandasnya. (Yuda/Red/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here