Pedoman Resmi Ibadah Ramadhan Warga Muhammadiyah di Masa Pandemi

0
595
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H Syamsul Anwar MA. (Foto istimewa)

KLIKMU.CO – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan pedoman pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan 1442 Hijriah/2021 di tengah pandemi Covid-19. Ini adalah kali kedua umat Islam umumnya dan warga Muhammadiyah khususnya menjalani ibadah puasa di masa pandemi.

“Ramadhan 1442 Hijriah yang akan dilewati umat Islam kali ini tidak jauh berbeda dengan Ramadhan 1441 Hijriah lalu karena masih berlangsung di tengah pandemi,” kata Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H Syamsul Anwar MA, Ahad (14/3/2021).

Syamsul Anwar menjelaskan, meskipun awal Maret ini terjadi penurunan jumlah orang yang terpapar, protokol kesehatan harus tetap diterapkan secara ketat. Karena itu, Muhammadiyah mengeluarkan beberapa tuntunan.

Pertama, puasa Ramadhan wajib dilakukan kecuali bagi yang sakit dan kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik. ”Orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 tidak wajib berpuasa karena termasuk kategori kelompok yang mengalami sakit,” ujarnya.

“Mereka mendapat rukhsah meninggalkan puasa Ramadhan dan wajib menggantinya di hari yang lain sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Kalau memang diperlukan mereka tidak berpuasa agar kondisi tubuh tetap fit,” terang Syamsul.

Kedua, puasa Ramadhan dapat ditinggalkan bagi tenaga kesehatan yang sedang bertugas. Agar mereka dapat menjaga kekebalan tubuh. Tuntunan itu sesuai dengan surah Al Baqarah ayat 195 yang melarang menjatuhkan diri pada kebinasaan.

“Dalam pelaksanaan agama memiliki asas memudahkan dan tidak menimbulkan mudarat,” katanya.

Yang ketiga, kata Syamsul, umat Islam diimbau menggelar salat berjamaah dan Tarawih di rumah masing-masing bila di sekitar tempat tinggalnya ada penularan Covid-19.

“Hujan saja diberi ruksah, apalagi dalam kondisi sekarang di mana kita meskipun sedang dalam proses vaksinasi, tidak harus kita lalai dan lengah. Protokol kesehatan harus tetap dijaga,” paparnya.

Untuk pengelola masjid, Muhammadiyah meminta diterapkan protokol kesehatan bagi para jamaah. Salah satunya, menerapkan saf berjarak ketika salat berjamaah.

“Lalu, pintu dan ventilasi udara di dalam masjid dibuka serta membatasi jumlah jamaah dari kapasitas yang disediakan masjid,” ujarnya.

Terakhir, Syamsul meminta agar salat Idul Fitri dapat dilakukan di lapangan kecil atau tempat terbuka di sekitar tempat tinggal dalam jumlah yang terbatas serta tidak menimbulkan kerumunan. “Ini bukan sebuah ketakutan, tapi upaya mewujudkan kemaslahatan. Kemaslahatan merupakan maqasidu syariah (suatu yang menjadi tujuan syariah),” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here