Pelangi Kehidupan #:3 Mulai dari Diri Sendiri

0
174
Ilustrasi diambil dari laduni.id

KLIKMU.CO

Oleh: Dzanur Roin*

Kita sangat senang ketika seseorang berbuat kebaikan, sama dengan orang lain, mereka juga suka dengan kebaikan yang kita lakukan. Begitulah sifat manusia sangat suka dengan kebaikan. Akan tetapi ada kesulitan ketika kita mau berbuat baik. Walaupun pada dasarnya semua orang suka dengan kebaikan.

Di dunia ini pasti semua nya berubah. Yang tidak berubah ya perubahan itu sendiri. Akan tetapi perubahan itu bukan dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Ingatlah pribadi yang baik akan melahirkan keluarga yang baik, dan dari keluarga yang baik akan terbentuk masyarakat yang baik, dan dari masyarakat yang baik itu akan terbentuk lingkungan yang baik bahkan akan dapat membentuk bangsa dan negara yang baik juga.

Ibaratnya ketika kita mau berada di atas, maka yang harus kita lakukan adalah menapaki dari anak tangga yang paling bawah. Satu demi satu anak tangga itu kita naiki sampai seterusnya sehingga kita bisa berada di puncak yang paling tinggi. Perubahan itu di mulai dari diri sendiri, kalau bukan kita lalu siapa lagi. Perubahan itu di mulai dari sekarang, kalau bukan sekarang lalu kapan lagi. Perubahan itu di mulai dari sesuatu yang paling kecil jangan berharap perubahan yang besar kalau kita tidak mau melakukan sesuatu yang kecil. Bukankah Allah swt telah mengabarkan seribu empat ratus tahun yang lalu bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu mau merubah dirinya sendiri.

Allah swt telah mengutus seorang rasul yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Nabi akhir zaman yang membawah risalah dan bertugas menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana dalam haditsnya “Sesungguhnya saya di utus untuk menyempurnakan akhlak” Rasulullah diutus salah satu misinya adalah menyempurnakan akhlak manusia. Kehidupan masyarakat pada zaman itu di sebut dengan zaman jahiliyah. Zaman jahilaiyah yang berarti bodoh. Bukan berarti bodoh tidak bisa apa-apa. Akan tetapi bodoh karena sikap dan akhlaknya tidak sesuai dengan kodrat manusianya. Lihatlah lah, bagaimana kejahiliyaannya pada saat itu. Dimana pada saat itu ketika punya anak perempuan mereka membunuhnya bahkan mengubur bayi-bayi tersebut dalam keadaan hidup. Pertikaian dan perebuatan kekuasaan antar suku tidak pernah usai hingga diutusnya sang nabi akhir zaman.

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Nabi Muhammad saw diutus sebagai Uswah Hasanah yakni contoh yang baik. Sikap, ucapan dan segala perbuatanya adalah contoh bagi kita. Sebagai pribadi nabi Muhammad adalah seorang yang jujur, orang yang dapat dipercaya sehingga masyarakat pada saat itu memberinya gelar atau julukan Al-Amien yakni orang yang dapat di percaya. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang saling curiga dan tidak percaya. Muhammad hadir laksana oase di tengah gurun pasir yang menghilangkan dahaga. Sehingga gelar Al-Amien di berikan masyarakat kepadanya. Gelar yang bukan sembarang gelar, karena ini bentuk kepercayaan masyarakat atas ucapan, sikap dan serta perilaku kehidupan sehari-harinya

Sebagai seorang kepala keluarga, suami dari istri-istrinya juga ayah dari putra-putrinya. Lebih mengedepankan contoh dari sekedar perintah. Beda dengan kita umatnya di zaman sekarang yang lebih banyak memberikan mauidhoh hasanah (nasehat yang baik) tapi sedikit memberikan uswah hasanah (contoh yang baik). Sebagai kepala pemerintahan Rasulullah tidak sekedar memberikan perintah tapi ucapan dan perbuatanya benar-benar menjadi contoh dalam setiap sendi dan lini kehidupan ini. Lihatlah! Bagaimana ketika musim paceklik tiba sehingga harus menghemat makanan. Rasulullah ketika lapar perutnya di ganjal dengan beberapa batu sehigga saat sholat terdengar seperti bunyi tulang yang mau patah. Sebagai panglima perang Rasulullah hadir dan terdepan dalam medan pertempuran sehingga pada saat perang uhud rasulullah mengalami luka yang begitu parah.

Sungguh begitu tinggi akhlak dan budi pekerti Rasulullah. Teladan utama umat manusia sepanjang zaman. Sampai-sampai ketika dicaci dan dihina langsung Rasululllah tidak membalas atas cacian tersebut dan tidak ada dendam yang menyelimuti hatinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah selalu menyuapi seorang lelaki yahudi yang matanya buta. Dengan lemah lembutnya Rasulullah menyuapi lelaki tersebut, walaupun lelaki tersebut menghina dan menjelekkan Rasulullah. Mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir dan lain-lain sebagainya. Padahal yang menyuapinya adalah orang yang dibicarakan. Akan tetapi Rasulullah tetap menyuapi lelaki tersebut dengan baik dan sabar. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita? Apakah kita masih menyuapinya? Menyaupinya dengan baik dan sabar. Mungkin kita akan memarahinya bahkan tidak mau lagi mengurus dan menyuapinya lagi. Saat Rasulullah wafat Abu bakar yang menggantikan menyuapinya akan tetapi suapan dan layanan Abu Bakar tidak sebaik dan se-sabar Nabi Muhammad sehingga lelaki tersebut protes sampai-sampai Abu Bakar menjelaskan siapa sebenarnya beliau dan siapa yang selama ini menyuapi lelaki tersebut. Sampai disitu lelaki tersebut baru sadar akan ketinggian akhlak dan budi pekerti Rasulullah. Orang yang selama ini dihina, dikatakan sebagai seorang penyihir dan lain sebagainya ternyata adalah seorang Rasul dan Nabi yang rahmatan lil alamain rahmat bagi alam semesta. Setelah menyadari akan kesalahannya lelaki tersebut mengikrarkan diri untuk masuk islam. Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan dakwahnya selalu mengedepankan pendekatan yang bijaksana penuh dengan hikmah, penuh dengan kearifan.

Marilah kita belajar dari manusia mulia ini. Suri tauladan kita semua. Teladan utama kita. Nabi Muhammad saw. Walaupun kita tidak bisa sepenuhnya karena kita adalah manusia yang penuh dengan dosa dan hidup di zaman yang penuh dengan kemunafikan. Tapi untuk menjadi pribadi yang baik harus selalu belajar. Belajar kepada siapapun dan dimanapun. Tidak terbatas pada ruang dan waktu apalagi pada usia.

Mari kita belajar agar menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang senantiasa mengedepankan akhlak dan ilmu. Menjadi teladan dengan mengedepankan perbuatan daripada sekedar ucapan. Menjadi contoh, setidaknya bagi keluarga kita sendiri. Lebih mendahulukan uswah daripada perintah. Karena di zaman sekarang sangat banyak orang yang bisa memberikan mauidhoh hasanah yaitu nasehat yang baik akan tetapi sangat sedikit sekali orang yang dapat memberikan uswah hasanah yakni contoh dan perbuatan yang baik. Bukankah contoh nyata itu lebih baik dan lebih mengena daripada sekedar perintah. Semoga kita semua bisa meneladani nabi akhir zaman dan sahabat-sahabatnya. Generasi emas, generasi yang terbaik di zamanya, generasi yang lebih mengutamakan kepentingan ummat daripada kepentinganya sendiri ataupun golongannya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama. Kehadiranya selalu di rindukan dan di nantikan, menjadi penyejuk lingkunganya. Ketidak hadiranya dirasakan sesuatu yang hilang. Semoga kita semua menjadi agen-agen dari perubahan itu. yang di mulai dari diri sendiri. Ibda’ binafsika

* Guru di SD Muhammadiyah 12 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here