Pelangi Kehidupan #10: Anakku, Anakmu, Anaknya dan Anak Kita

0
353
Foto ilustrasi diambil dari Instagram

KLIKMU.CO

Oleh: Dzanur Roin*

Anak adalah anugerah dalam setiap keluarga, kehadiranya adalah perekat cinta kedua orang tuanya. Tidak ada keluarga yang tidak mendambahkan kehadiran sosok yang dengan tangisannya menambah kebahagian setiap biduk rumah tangga. Anak adalah penyempurna dalam setiap keluarga. Selain menjadi pelengkap dalam kehidupan ini. Anak adalah amanah yang harus kita jaga sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap sang pencipta. Tahukah kita Al-Qur’an telah memberitahukan kepada kita semua tentang hadirnya seorang anak. Hadirnya anak itu berbagai macam. Anak sebagai hiasan hidup. Anak sebagai penyejuk hati orang tuanya. Anak sebagai cobaan hidup. Anak yang lemah. Dan Anak sebagai musuh.

Dalam Al-Qur’an surat  Ali Imron ayat empat belas. Allah menegaskan “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) ” (Qs. Ali-Imron;14)

Salah satu kesenangan hidup di dunia ini selain harta adalah anak. Anak adalah hiasan hidup, kehadiranya membawa berkah bukan lagi musibah. Menjadi kebanggan bagi setiap keluarga. Bayangkan kalau kita hidup bergelimang harta benda tapi tidak punya anak keturunan. Tanyakan pada mereka mereka yang sudah berkeluarga puluhan tahun tapi belum di karunia anak, bagaimanakah perasaanya? cukupkah harta yang berlimpah itu untuk menjadikanya bahagia? Apakah yang paling didambakan keluarga tersebut?
Tentu kita sangat senang dan bahagia ketika memiliki anak-anak yang sehat fisik lahir batinya. Menjadi anak yang cerdas, solih solihah, penurut dan taat kepada orang tua. Terlebih lagi berguna bagi agama dan bangsanya. Inilah yang di sebut dengan anak sebagai penyejuk hati orang tuanya. Tidak hanya bahagia di dunia dan insya Allah akan bahagia di kehidupan kelak yakni hidup di akhirat. “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Qs Al-Furqon: 74)

Agar kita pantas mendapatkan anak yang menjadi hiasan hidup dan penyejuk hati. Mari kita didik diri kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik agar menjadi contoh buat anak-anak keturunan kita. Bukankah contoh dan keteladanan adalah pola pendidikan yang paling baik daripada sekedar perintah dan menyuruh anak-anak kita.
Anak sebagai cobaan hidup. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman “ Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Qs. Al-Anfal: 28)

Cobaan bisa bermacam bentuk dan rupa dalam hidup ini. Yang pada dasarnya cobaan itu hanya ingin menguji dan meninggihkan derajat kita sebagai makhluk Allah. Anak sebagai cobaan hidup bisa berupa cacat bawaan tidak sempurnanya fisik anak tersebut. Atau sikap dan tingkah pola anak yang selalu membuat orang tua susah.  Perlakuan anak tersebut kepada orang tua sangat tidak menyenangkan. Ucapanya selalu menyakitkan hati orang tuanya. Inilah cobaan terberat bagi orang tua, anak menjadi durhaka tidak ada lagi yang bisa di banggakan oleh mereka sebagai orang tua.

Maka dari itu sebagai orang tua kita wajib mendidik dengan sebaik-baiknya. Menanamkan akhlak terpuji sejak dini. Sambil berdoa kepada ilahi rabbi agar kita mendapatkan anak generasi rabbi, generasi ilahi. Ingat setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Setiap anak lahir dalam keadaaan suci. Hitam putih anak kita adalah peran dari orang tua. Tugas kita hanya berusaha selebihnya Allah maha kuasa. Jangan pernah berhenti berdoa untuk memohon kepada sang pembolak balik hati agar kita tetap bisa berpegang teguh pada agamanya.

Allah Berfirman

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kahawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Qs. An Nisa’: 9 )

Lemah disini berarti tidak mampu. Bisa tidak mampu secara ekonomi, politik, sosial, termasuk lemah tubuh dan akalnya. Terlebih lagi lemah dalam segi aqidah. Orang tua mana yang ingin memiliki generasi semacam ini. Tentu tidak ada orang tua yang ingin memiliki generasi semacam ini. Semua orang tua menginginkan generasi yang kuat. Kuat dalam segala hal. Kuat fisik, kuat ekonomi, kuat sosialnya, kuat tubuh dan akalnya terlebh lagi kaut dalam aqidah. Kuat Imtaq (Iman dan Taqwa ) dan Kuat Ipteknya (Ilmu  pengetahuan dan  tekhnologiya).

Kesedihan bagi orang tua adalah ketika meninggalkan generasi yang lemah. Agar kita tidak meninggalkan generasi semacam itu. hedaknya setiap orang tua membekali putra-putrinya. Anak-anaknya dengan pendidikan yang terbaik. pendidikan yang mengutamakan aqidah sohihah dan akhlakul karimah. Memberikan bekal dan kemampuan dalam menjalani hidup. Pengetahuan dan wawasan yang luas. Tidak mudah putusa asa dan pantang menyerah.

Yang terakhir anak sebagai musuh. Allah swt berfirman “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”(Qs At-Taghabun : 14)

Anak tidak lagi menuruti apa yang kita perintahkan, suka membangkan bahkan membentak apa yang kita ucapkan. tidak mau lagi mendengar petuah-petuah bijak bahkan tidak malu lagi melakukan perbuatan-perbuatan tercela, perbuatan yang jauh dari nilai-nilai agama. Inilah anak-anak yang termasuk dalam kategari anak sebagai musuh. hal ini menjadi puncak kesedihan dan kegagalan orang tua dalam mendidik anak.
Semoga anakku, anakmu, anaknya dan anak-anak kita menjadi anak-anak yang menyenangkan dan menyejukkan pandangan kita. Menjadi pelipur lara, menjadi perhiasan hidup. Dan kelak menjadi tabungan kita hidup di akhirat. Rabbi habli minassholihin. Allahuma Amin.

*Guru di SD Muhammadiyah 12 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here