Peletakan Batu Pertama RS Darurat Covid UMM

0
85
Peletakan batu pertama RS Darurat Penanganan Covid-19 UMM Senin (5/4/2021). (Wildan/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Peletakan batu pertama RS Darurat Penanganan Covid-19 UMM berlangsung Senin (5/4/2021). Rumah sakit itu berlokasi tidak jauh dari RS UMM.

Bupati Malang Drs. H.M. Sanusi. M.M. diundang untuk meletakkan batu pertama pembangunan RS tersebut. Hadir pula wakil bupati, Kapolres Malang, komandan Kodim 0818 Malang-Batu, serta beberapa undangan lainnya.

Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid tersebut. Begitu pun dukungan dari bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA, dan PT Yodya Karya.

“Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia, serta dunia bisa segera bebas dari Covid-19,” katanya.

Bupati Malang Drs. H.M. Sanusi, M.M. menambahkan, banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka korona menurun. Salah satunya adalah UMM.

“Data terakhir yang saya dapat tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya.

Sanusi juga berharap UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha di penanganan Covid, tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, ada pula laporan dari kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur yang diwakili Reva Sastrodiningrat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per 4 April.

“Ada sekitar 140.331 pasien positif yang ada di Jawa timur. Sebanyak 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya.

Berdasarkan data tersebut, akhirnya beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan virus korona. Salah satunya RS UMM. Adapun pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta 8 bed diperuntukkan sebagai ruang isolasi. Selain itu, ada ruang skrining dan fasilitas penunjang lainnya.

“Pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19,” ujarnya.

Jangka waktu pembangunan RS darurat tersebut diharapkan selesai dalam 45 hari. Adapun sumber pendanaan menggunakan dana siap pakai BNPB. “Harapannya, pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu, serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here