Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Adalah Anomali

0
342
Jawa pos

Oleh: Prof Dr Syamsul Arifin MSi *)

KLIKMU.CO

Peristiwa selama dua hari berturut-turut yang baru saya alami merupakan anomali dan ironi dalam dunia pendidikan. Setelah sejak pertengahan Maret lalu sekolah memutuskan mengalihkan pembelajaran secara face-to-face, hingga memasuki tahun ajaran baru ini kegiatan sekolah masih menggunakan moda yang sama: online atau daring.

Pada hari kedua masuk sekolah secara virtual, saya dikejutkan oleh seragam sekolah yang dikenakan anak saya, padahal di rumah. ’’Kok berseragam?” tanya saya. ’’Ya, disuruh berseragam,” jawab anak saya. Pada hari berikutnya, giliran istri saya yang dibuat kaget. ’’Lho kok sudah berseragam. Kan belum mandi?” tanya istri saya. ’’Nggak nutut, Bu,” jawab anak saya.

Peristiwa yang saya alami di lingkungan keluarga sekadar secuil contoh terpaan Covid-19 setelah menjadi pandemi. Sepertinya tidak ada satu pun ruang di bawah kolong langit ini yang steril dari rambahan Covid-19. Dunia pendidikan termasuk yang paling terdampak. Dua peristiwa itu mendatangkan pilu setidaknya terhadap saya. Setelah Covid-19 menjadi pandemi, anak saya dan jutaan lainnya harus tinggal dan belajar di rumah. Hampir lima bulan mereka tidak lagi berjumpa secara fisik baik dengan kawan, guru, maupun lingkungan sekolah.

Belajar atau sekolah di rumah selama pandemi Covid-19 harus dipahami sebagai kedaruratan dan temporer belaka dari sisi waktu. Sebagai kedaruratan, bukan kenormalan, banyak aspek ideal yang harus dikorbankan. Kendati ekosistem digital mulai terbentuk sehingga ketika secara tiba-tiba diterpa pandemi Covid-19 kegiatan pembelajaran segera bisa dialihkan ke daring, pendidikan tetap meniscayakan perjumpaan secara fisik dengan berbagai pihak yang terlibat di dalamnya, terutama murid, guru, dan lingkungan fisik sekolah.

Pembentukan Karakter
Mengapa keniscayaan? Pertama, karena pendidikan bukan semata-mata sebagai transfer pengetahuan. Dalam diskursus klasik pendidikan Islam, terdapat kritik terhadap konsep tarbiyah yang telah lama digunakan sebagai padanan dari pendidikan. Bahkan, di beberapa lembaga pendidikan Islam, terdapat fakultas atau setidaknya jurusan tarbiyah.

Istilah itu, menurut filsuf asal Malaysia yang lahir di Indonesia, Syed Muhammad Naquib Al Attas, bukan istilah yang tepat dan benar, sebagaimana juga istilah ta’lim dan karena itu perlu digantikan dengan ta’dib, istilah yang lebih tepat.
Tarbiyah, menurut dia, lebih menekankan pengembangan pada aspek fisik sebagaimana istilah education yang biasa digunakan di Barat.

Al Attas juga mengkritik ta’lim karena lebih menekankan pada transfer ilmu pengetahuan. Sebagai alternatif dari dua istilah itu, Al Attas menawarkan ta’dib yang menekankan pada pembentukan karakter.

Pembelajaran daring, apalagi dirancang sedemikian rupa sesuai dengan ketentuan yang terkait dengan learning management system (LMS), memang bisa mengarahkan subjek didik (siswa dan mahasiswa) berselancar ke berbagai tautan mendalami berbagai materi yang mengait dengan suatu materi yang didalaminya. Namun, pembelajaran daring kesulitan dalam membentuk karakter subjek didik.

Perasaan Kesepian
Alasan kedua yang meniscayakan perjumpaan fisik dalam pendidikan adalah keterbatasan kapasitas keluarga sebagai tempat belajar secara daring selama masa pandemi. Keterbatasan kapasitas tidak saja terjadi karena adanya disparitas yang disebabkan faktor ekonomi yang berakibat pada kemampuan dalam menyediakan jaringan internet di rumah, tetapi juga kemampuan orang tua yang akan menggantikan peran guru, terutama bagi siswa dalam usia pendidikan dasar-menengah (SD-SMP).

Ketika pembelajaran dialihkan ke rumah, muncul ungkapan bernada retorik, misalnya, ’’Pandemi memberi momentum penguatan peran orang tua sebagai guru yang sesungguhnya.” Tidak ada yang membantah terhadap keberadaan dan peran orang tua bahkan sebagai kurikulum yang sesungguhnya (real curriculum) dan kurikulum yang hidup (living curriculum) bagi anak-anaknya.

Karena itu, semua tokoh pendidikan selalu menekankan posisi keluarga dalam pendidikan seperti digagas Ki Hadjar Dewantara dengan konsep Tri Pusat Pendidikan, yakni keluarga pertama-tama sebagai pusat pendidikan, lalu berikutnya sekolah dan masyarakat. Keluarga sebagai pusat pendidikan dapat menjalankan fungsi konsentris jika menggunakan konsep ’’trikon” yang juga dikembangkan Ki Hadjar Dewantara, yakni kontinu, konvergen, dan konsentris. Konsentris bisa dipahami sebagai asas pendidikan yang lebih menekankan pada kebudayaan sendiri yang antara lain terdapat dalam keluarga sebagai pembentuk karakter.

Meski demikian, pembelajaran secara daring dalam rentang waktu yang lama akan memberikan dampak tidak ringan, terutama secara psikologis, kepada anak-anak. Pada awalnya mungkin hanya bosan yang muncul. Dampak berikutnya yang harus diperhatikan adalah perasaan kesepian atau feeling of loneliness sebagaimana juga menjadi kekhawatiran Mendikbud Nadiem Makarim.

Sebelum diterpa pandemi Covid-19, masyarakat sebenarnya telah mengalami apa yang disebut dengan alone together justru terjadi pada era yang selalu terhubung tetapi secara daring (always online) dan budaya berbagi-komentar (share-comment culture). Begitu diterpa pandemi, pendidikan mau tidak mau terdomestikasikan di rumah yang bisa berakibat pada munculnya perasaan kesepian.

Ketahanan Finansial
Alasan berikutnya (ketiga) yang perlu dikemukakan bahwa pembelajaran daring harus dipandang sebagai kedaruratan dan kesementaraan belaka adalah terkait dengan dampaknya terhadap ketahanan finansial, utamanya yang dihadapi lembaga pendidikan swasta seperti dialami perguruan tinggi swasta (PTS). Pembelajaran daring di beberapa kalangan telah memunculkan sikap transaksional.

Karena dialihkan ke pembelajaran daring, mahasiswa tidak lagi menggunakan fasilitas kampus. Pihak kampus pun diminta mengembalikan biaya pendidikan yang telah terbayarkan. Selain beralasan demikian, tidak bisa dimungkiri ada kalangan orang tua mahasiswa yang terdampak secara ekonomi setelah Covid-19 menjadi pandemi. Akibatnya, tidak sedikit PTS yang dihadapkan pada masalah ketahanan dan kerentanan finansial. Beberapa PTS mulai menerapkan pengetatan pengalokasian pendanaan yang lebih mengutamakan survival. Yang terpenting gaji dosen dan staf masih tetap terbayarkan, sementara pembiayaan kegiatan akademik di luar pengajaran untuk sementara dikurangi, bahkan dihentikan.

Pembelajaran daring di masa pandemi adalah bagian dari fenomena ketidaknormalan atau anomali. Jika berlangsung lebih lama lagi, pendidikan akan dihadapkan pada fase krisis, sebagaimana dialami bidang lainnya. Pembelajaran daring merupakan solusi darurat selama pandemi.

Terutama pihak sekolah dan pengambil kebijakan perlu mencari solusi yang bisa mengatasi kelemahan dan dampak yang ditimbulkan pembelajaran daring. Misalnya dengan menerapkan pembelajaran berbasis komunitas. Pada waktu tertentu, guru melakukan kegiatan kunjungan dan sekaligus mengajar ke tempat tertentu yang dekat dengan tempat tinggal siswa. Mengajar bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah atau fasilitas publik lainnya. Tentu kegiatan itu harus dibarengi dengan penerapan protokol penanganan Covid-19. (*)

*) Sosiolog agama dan wakil rektor bidang akademik dan pengembangan AIK Universitas Muhammadiyah Malang

Tulisan ini terbit kali pertama di Jawa Pos edisi Rabu, 22 Juli 2020, dengan judul Pembelajaran Daring sebagai Anomali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here