Pembelajaran Jarak Jauh Tak Cuma soal Belajar Daring

0
133
Seorang siswa dan orang tua berkolaborasi saat belajar dari rumah. (Foto: Tanoto Foundation)

Oleh: Achmad Santoso *)

KLIKMU.CO

Apa yang dilakukan Rosmanina Afiyah Rahma ini sebetulnya biasa saja. Siswi kelas 1 di sebuah MI Muhammadiyah di kawasan Jombang, Jawa Timur, itu hampir tiap hari membantu ibunya bersih-bersih rumah. ”Kadang menyapu, membersihkan kaca, padahal biasanya tidak pernah mau. Karena ini tugas dari sekolah, dia mau dan bersemangat,” kata Wiwik, ibunya, sebagaimana pernah dikisahkan Klikmu.co (17/9/2020).

Kondisi pandemilah yang membuat tugas sekolah yang awalnya diberikan ke siswa tiap pekan dengan nama weekend homework itu menjadi tiap hari. Sekolah menamainya character building dan spiritual building.

Ya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) imbas dari pandemi semestinya memang tak cuma dimaknai sebagai belajar secara daring. Dalam artian, jika tidak ada jaringan, khususnya internet, lantas tidak bisa belajar. Atau, belajarnya tidak maksimal. Jika demikian, pembelajaran jarak jauh di pelosok desan nun jauh di sana tak menemui ujungnya akibat terkendala jaringan.

Semua Tempat Adalah Sekolah

Ki Hadjar Dewantara bilang: semua orang adalah murid, semua orang adalah guru, dan semua tempat adalah sekolah. Dalam konteks pandemi Covid-19 yang membuat dunia pendidikan sempat lintang pukang ini, segala hal dapat digunakan sebagai media belajar. Rumah pun, dengan demikian, bisa dipakai untuk tempat belajar. Dengan demikian pula, orang tua bisa berperan sebagai guru.

Ki Hadjar Dewantara juga mencetuskan apa yang disebut sebagai ”tri pusat pendidikan”. Sebuah sistem pendidikan yang melibatkan alam keluarga, alam perguruan, dan alam masyarakat untuk membentuk manusia-manusia unggul, berbudi, dan cerdas secara lahir maupun batin. Kita berharap kelak pembelajaran jarak jauh ini menjadi semacam pintu gerbang untuk menuju pendidikan yang diidamkan Bapak Pendidikan itu.

Internet memang sebuah keniscayaan di era Revolusi Industri 4.0 ini. Apalagi bagi generasi alfa yang kelahirannya dibarengi dengan membanjirnya internet. Maka, internet menjadi penyokong ilmu yang diajarkan guru. Ya, tapi sebatas penyokong, penopang, suplemen. Sebab, internet tidak akan pernah benar-benar bisa menggantikan peran guru dalam membentuk karakter murid.

Karena itu, di masa pandemi ini, ketika guru memberikan tugas sekolah kepada murid, itu tak lain mesti dikontekstualisasikan dengan aktivitas mereka di rumah. Yang dilakukan sekolah terhadap Rosmanina tadi salah satu contohnya. Dia membantu sang ibu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Oleh karena itu, pembelajaran yang dialihkan ke rumah itu janganlah lantas menurunkan kualitas belajar anak. Guru harus bisa menjadikan, saya kutip lagi kata Ki Hadjar Dewantara, setiap tempat sebagai sekolah. Tak terkecuali rumah. Malah, sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Sekali membantu mencuci piring, menyapu rumah, mengepel halaman, memasak, dan mencuci pakaian, dalam satu waktu mereka tak hanya mendapat penilaian dari guru. Tetapi sekaligus meringankan beban orang tua di rumah. Dengan begitu, tercapai pula pendidikan karakter yang digaung-gemakan sejak lama itu. Blessing in disguise!

Perlu Pendekatan Kultural

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengatakan bahwa pembelajaan jarak jauh, khususnya di era pandemi Covid-19 ini, memerlukan pendekatan kultural.  ”Yakni pendekatan pada murid berbasis value yang mindfulmeaningful, dan joyful,” ujarnya dalam webinar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Kamis (17/9/2020), sebagaimana diberitakan PWMU.CO.

”Keterbatasan tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan mutu dan kualitas. Keterbatasan harus bisa menjadi bagian dari peluang untuk bisa menemukan hal-hal baru, yang mungkin bisa menjadi model pembelajaran setelah Covid-19 ini berakhir,” lanjut guru besar bidang ilmu pendidikan agama Islam UIN Syarif Hidayatullah tersebut.

Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan yang bersifat kultural itu berupaya mendekatkan murid dengan value atau nilai yang dimiliki. Selain itu, mereka mesti memahami nilai yang berkembang di masyarakat, khususnya tempat mereka berkediaman. ”Edaran Mendikud bisa menjadi salah satu contoh kegiatan sehari-hari bisa menjadi bagian dari kurikulum. Jadi, bagaimana agar murid-murid tetap bisa belajar dengan kegiatan sehari-hari. Aktivitas di rumah bisa menjadi pembelajaran kalau diarahkan guru-guru dengan perencanaan yang baik,” paparnya.

Ya, sebelumnya, Kemendikbud menyampaikan pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang, menjelaskan, kegiatan belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum, serta difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. ”Materi pembelajaran bersifat inklusif sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter, dan jenis kekhususan peserta didik,” katanya.

Chatarina menambahkan, aktivitas dan penugasan BDR atau PJJ dapat bervariasi antardaerah, satuan pendidikan, dan peserta didik sesuai dengan minat dan kondisi masing-masing. ”Hasil belajar peserta didik selama BDR diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif. Selain itu, mengedapankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru dan orang tua,” terangnya.

Ada empat poin yang dicanangkan Kemendikbud terkait dengan belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pertama, BDR melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, BDR dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19. Ketiga, aktivitas dan tugas BDR dapat bervariasi, sesuai dengan minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan akses/belajar di rumah. Keempat, bukti atau produk BDR diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor nilai/kuantitatif.

Karena itu, menerjemahkan kehendak Kemendikbud di atas, Abdul Mu’ti mengatakan bahwa kegiatan sehari-hari murid bisa menjadi bagian dari kurikulum. Anak-anak mengerjakan tugas dari sekolah secara sadar, tanpa ada paksaan. Itulah yang disebut mindful. Kesadaran itu akan timbul jika dibiasakan secara tulus dan ikhlas. ”Tidak ada seseorang yang merasa tidak bermakna atau tidak dianggap keberadaannya,” tegasnya.

Di samping mindful, PJJ mesti tetap meaningful alias punya makna. ”Karena apa yang mereka lakukan dan pelajari itu mungkin bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun dalam lingkup keterbatasan fisik yang saat ini memang harus kita patuhi,” jabarnya.

Terakhir, dengan mindful dan meaningful tadi, murid akan menjalani pembelajaran yang joyful. Ya, pada akhirnya harus menyenangkan. Syaratnya, guru juga mesti merancang pembelajaran dalam berbagai bentuk yang kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif tidak melulu seturut dengan canggihnya HP dan kuatnya jaringan. Yang penting, ada keinginan untuk menawarkan pembelajaran yang membuat murid sadar, bermakna, dan bergembira.

Dalam kondisi darurat, Timun Emas melemparkan bekal terakhir yang dimilikinya: terasi. Jadilah danau lumpur dan Buto Ijo tenggelam di dalamnya. Timun Emas pun selamat. Dalam kondisi kepepet (baca: PJJ akibat pandemi), saya yakin para guru, murid, dan orang tua juga mampu melahirkan model pembelajaran yang tak ternilai itu. (*)

*) Editor Klikmu.co

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Arba’a Edisi Ke-55 dan atas beberapa pertimbangan dimuat ulang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here