Pembunuh Itu Memikul Dosamu

0
205

Oleh: R. Fauzi Fuadi *)

KLIKMU.CO

Betapa besar konsekuensi yang harus diterima oleh manusia yang dengan sengaja menghilangkan nyawa manusia lainnya. Dosa adalah salah satu di antaranya yang harus dipikul olehnya.

Suasana majelis ilmu di Masjid Nabawi yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Saw berlangsung khidmat. Para sahabat terlihat begitu antusias dan tenggelam di dalamnya. Di tengah forum, tetiba mereka dihebohkan dengan kehadiran seorang pria yang menyeret pria lainnya dengan seutas tali yang diikat di kedua pergelangan tangannya. Keadaan pria yang diseretnya begitu mengenaskan, pakainnya robek karena gesekan tanah disertai darah yang keluar dari tubuh, hidung, dan mulutnya. Seperti baru saja kena bogem mentah dari pria yang menyeretnya.

Usai mengucapkan salam, pria yang menyeret orang itu berkata dengan penuh amarah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini telah membunuh saudara saya!” Nadanya cukup tinggi, mukanya memerah sembari menunjuk ke muka pria yang diseretnya.

Nabi sejenak menatap pria tersangka pembunuhan itu. Beliau termangu mendengar ucapan yang penuh amarah tersebut. Dan beberapa saat kemudian, beliau berkata ramah dan santun kepada pria tersangka pembunuhan itu, “Apakah betul engkau telah membunuhnya?” Nabi mencoba untuk memastikan perkataan yang diucapkan oleh keluarga korban pembunuhan.

“Jika ia tak mengaku, saya punya saksi, Wahai Rasulullah!” sergahnya mendahului jawaban pria tersangka pembunuhan. Ia lalu menyerahkan tali pengikat itu kepada Nabi.

“Benar, Wahai Rasulullah, saya telah membunuh saudara orang ini,” ujarnya mengakui kesalahannya sembari menundukkan kepala, ia menyesali dirinya sendiri telah menghilangkan nyawa orang lain.

“Bagaimana engkau membunuhnya?” selidik Nabi dengan tetap merendahkan suara.

Dengan berselonjor, pria tersangka pembunuhan itu mulai menceritakan kronologi pembunuhan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu. “Begini ceritanya, Wahai Rasulullah. Saat saya dan si korban sedang memetik dedaunan dari sebatang pohon, tanpa tedeng aling-aling dan sebab yang jelas, ia mencaci maki saya berkali-kali ia melakukannya. Saya pun tak tahan dengan caciannya. Saya marah sekali waktu itu, dan untuk menyalurkan keamarahan, tanpa berpikir panjang saya menghantam kepalanya dengan kapak hingga ia mati.” Air matanya berlinang usai mengakui kesalahannya. Pria pembunuh itu telah mengakui semua perbuatannya.

Mendengar pengakuannya, Nabi diam sejenak seraya memikirkan jalan keluar atas persoalan pelik ini. “Sekarang, coba cari keluargamu yang barangkali dapat membayar tebusan untuk membebaskanmu.”

“Wahai Rasulullah, di mata keluarga, saya telah dipandang lebih hina daripada kapak yang saya gunakan untuk membunuh itu,” jawabnya dengan suara yang tak lagi bertenaga. Para sahabat yang sedari tadi berdiri mamatung tak bisa berbuat apa-apa. Para sahabat bergantung sepenuhnya pada keputusan Nabi Muhammad.

Nabi senejak mengembuskan napas perlahan, beliau menyerahkan kembali tali itu kepada keluarga korban. “Terserah mau engkau apakan pria ini.” Setelah menerima tali pengikat tersebut, keluarga korban itu mohon pamit sembari menyeret pria pembunuh yang bajunya telah terkoyak dengan darah segar yang keluar dari tubuhnya.

Baru saja beberapa langkah ia berlalu dari hadapan Nabi beserta para sahabat lainnya, Nabi berkata kepada para sahabat yang hadir kala itu, “Jika ia membunuh si pembunuh itu, maka ia sama dengannya.”

Usai berjalan beberapa meter dari Nabi, tak dinyana, perkataan itu terdengar oleh pria yang sedang menyeret si pembunuh. Kontan saja, ia pun membalikkan langkah dan berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, baru saja saya mendengar engkau berkata, ‘Jika ia membunuh si pembunuh maka ia sama dengannya.’ Karena itu, saya bermaksud untuk menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepadamu.”

Mendengar permintaan keluarga korban, untuk yang kesekian kalinya Nabi tak lantas mengambil keputusan yang gegabah. Terlebih dulu beliau termenung sejenak untuk memikirkan keputusan yang terbaik. “Tidakkah engkau ingin pembuhuh ini memikul dosamu dan dosa saudaramu yang terbunuh?” Nabi mencoba memberikan opsi terbaiknya.

Pria itu sejenak termenung mendapat pertanyaan yang tak terduga tersebut. Ia terdiam beberapa saat, sepertinya ia tak rela bila si pembunuh itu dibiarkan hidup. Tapi akhirnya dari permenungan itu, ia pun mengambil sebuah keputusan, “Tentu saya ingin, Wahai Rasulullah!”

“Jika engkau membebaskannya, maka ia akan memikul dosamu dan dosa saudaramu yang dibunuhnya,” Nabi mengulang ucapannya. Usai mendengar penuturan Nabi, akhirnya keluarga korban melepaskan tali pengikat pria pembunuh itu dan membebaskannya.

Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa seluruh manusia sudah barang tentu tak luput dari dosa kecil maupun besar yang diperbuatnya, dari dosa yang bertumpuk itulah seseorang dapat tertimpa azab atau kesialan lain oleh karena dosa-dosa itu. Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Tsauban bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya, orang itu pasti akan terhalang rezekinya sebab dosa yang ia perbuat.”

Kali lain saat Nabi Muhammad bersama para sahabat dalam suatu majelis, beliau bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan!” Kemudian salah satu di antara para sahabat bertanya, “Apa saja itu, Wahai Rasulullah?”

“Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari di saat peperangan, serta menuduh zina wanita yang menjaga kehormatan dan beriman.”

Maka beruntunglah orang yang membebaskan pembunuh itu dan betapa lacurnya pembunuh yang dibebaskan dengan segala dosa besar yang dipikulnya.

Dinukil dari riwayat-riwayat shahih dan mutawatir

_______________

*) Penulis adalah jurnalis media daring dan pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here