Pemerintah Tinjau Ulang Kebijakan Umrah di Masa Pandemi

0
132
Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim. (Humas Kemenag)

KLIKMU.CO – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bakal mengevaluasi kebijakan penyelenggaraan umrah di masa pandemi. Hal itu disampaikan Menag saat menerima perwakilan asosiasi-asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) di  Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (15/2/2021).

“Tentu berkoordinasi dengan  Satgas Covid-19 agar penyelenggaraan umrah tetap aman bagi jamaah,” ungkap Menag yang diwakili Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim.

Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi sempat menutup akses untuk melakukan ibadah umrah bagi jamaah Indonesia pada 27 Februari 2020 untuk mencegah persebaran Covid-19 yang saat itu baru mewabah di dunia. Kemudian,  akses dibuka pada November 2020. Belum genap tiga bulan sejak dibuka, Saudi kembali menutup akses umrah bagi jamaah Indonesia pada 4 Februari 2021.

Menag mengajak seluruh pihak memanfaatkan momen ditutupnya umrah ini untuk melakukan evaluasi. “Jadi nanti kalau Saudi sudah membuka kembali akses umrah, kita sudah betul-betul siap,” tutur Menag.

Ia juga mengingatkan PPIU untuk dapat membantu pemerintah dalam menyukseskan penyelenggaraan umrah di masa pandemi. “Salah satunya, kami betul-betul meminta PPIU untuk dapat mengedukasi jamaah kita bila nanti ibadah umrah dibuka lagi,” pesan Menag.

“Jangan sampai saat di tanah suci, jamaah masih ada yang kedapatan coba-coba tidak menaati protokol kesehatan di Arab Saudi. Karena menurut laporan, masih banyak yang kedapatan melanggar di sana.Saya berharap jamaah umrah kita dapat menjadi contoh bagi dunia,” tuturnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua GAPURA Alisan, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Firman M. Nur, Sekjen Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umroh (Forum SATHU) Mukharom, serta beberapa jajaran pengurus asosiasi.

Kepada Menag, para perwakilan asosiasi ini menyampaikan beberapa keluhan terkait dengan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi. Salah satunya adalah aturan karantina selama enam hari lima malam paska kepulangan dari tanah suci.

“Ini cukup memberatkan bagi jamaah. Karena mereka harus menanggung biaya karantina sendiri, dan itu cukup besar, sekitar 4-5 juta per jamaah,” ungkap Ketua AMPHURI Firman M. Nur.

“Terasa makin berat, karena kebanyakan jamaah yang kita berangkatkan ini kan yang tertunda keberangkatannya sejak Maret 2020. Nah, mereka juga sebelumnya sudah diminta menambah biaya umrah, karena berubahnya harga referensi. Yang semula minimal 20 juta berubah menjadi 26 juta,” kata Firman. (AS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here