Pemilih Cerdas Tak Mudah Percaya Hoaks

0
306
Foto Sunanto (kiri) Calon Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Oleh: Sunanto
(Kornas JPPR dan Ketua PP Pemuda muhammadiyah)

KLIKMU.CO – Kamus besar bahasa Indonesia menyebut Hoaks sebagai makna berita bohong atau berita tidak bersumber yang sifatnya menyesatkan publik. Bahkan tak jarang hoaks sengaja diproduksi sebagai informasi yang menyesatkan.

Hoaks sebagai informasi yang distilahkan hasil gorengan dan berdampak kebenaran semu dalam kontek politik pernah muncul saat pemilu 2014. Saat itu seorang mantan jurnalis menerbitkan media cetak Obor Rakyat yang isinya menuding calon tertentu dengan fakta palsu.

Ironisnya hoaks yang dikemas dalam karya jurnalistik media cetak itu sengaja dikirim ke sejumlah lembaga pesantren dan lembaga pendidikan dengan target mengalihkan isu dan berharap dukungan. Tentu cara seperti itu kotor dan menyesatkan, karena masuk kategori kampanye hitam yang memojokkan calon dengan cara-cara fitnah dan tak fire.

Mendekati Pemilu 2019 publik juga sempat digeger oleh pengakuan seniman teater Ratna Sarumpaet yang mengaku menjadi korban kekerasan, meski pada akhirnya ia mengakui salah atas pengakuan yang ia sampaikan dan terlanjur menyebar lewat media sosial dan media hanya rekayasa.

Efek yang disampaikan Ratna itu sangat luar biasa, apa lagi hoaks yang ia ciptakan disampaikan ke salah satu kandidat calon presiden. Kesaksian palsu Ratna menjadi trading di media digital bebasis online maupun media sosial oleh dukungan segenap tim pendukung pasangan Capres Cawapres yang didukung kecepatan medsos yang mudah menshare ke publik.

Terlepas dari sikap Ratna yang entah disengaja atau tidak dengan pernyataan sebagai korban kekerasan, namun satu hal yang utama di sini pengakuan palsu yang teryata hoaks itu telah menjadikan publik sempat terjerumus pada pengakuan yang sebenarya sebagai informasi salah.

Peran media sosial yang memudahkan mentrasnfer produk hoaks itu tentu menjadikan publik sulit membedakan mana yang palsu dari fakta, dan sudah banyak bukti serta butuh sikap bijak menghadapi hoaks.

Ancaman Demokrasi

Era tekhnologi informasi menuntut publik terus mengetahui informasi yang berkembang di seantero dunia. Di sisi lain media baru dan media sosial efektif sebagai alat menyampaikan dan merebut informasi serta opini publik. Terlebih era pencitraan yang efektif karena melalui media sosial seorang pejabat bisa dijatuhkan, namun juga bisa menaikkan popularitas.

Hal itu nyata terjadi karena media punya fungsi ganda baik mulai fungsi pendidikan, kontrol,
informastif, hiburan, namun juga punya fungsi lain berupa penafsiran, penghubung dan meneruskan nilai-nilai. Serta tak kalah penting keberadaan media juga mampu mobilisasi publik.

Dengan kondisi tersebut, Hoaks yang biasa diproduksi di disebarkan untuk kepentingan politik menjadi ancaman demokrasi. Bukankah demokrasi menjadi hak mutlak rakyat untuk menentukan sikapnya?

Fenomena hoaks yang sering diproduksi saat mendekati momentum politik dapat disimpulkan sebagai kencederungan sejumlah pihak yang ingin meracuni dan merusak demokrasi. Betapa efek hoaks yang menyesatkan tak hanya mengancam tatanan hubungan sosial, rakyat dan sistem kenegaraan, namun juga sering mengganggu hubungan keberagaman dan toleransi di negara ini.

Dalam kontek politik hoaks juga bisa mengubah prilaku damai dan obyektif menjadi sikap kebencian dan ancaman konflik baru, lebih parahnya hoaks menjadi ancaman demokrasi dan kedaulatan pemilih yang selama ini dijamin konstitusi.

Dengan indikator tersebut saatnya media dan publik mulai bijak dalam menyebarkan dan mengkonsumsi informasi. Hoaks diakui sering menjerumuskan media sehingga menjadikan karya jurnalistik ikut terkena dampak keliru.

Namun bukan berarti media dan jurnalis tak selamanya bisa benar, dalam arti media dan jurnalis bisa salah, namun yang terpenting tak boleh bohong. Maka jika salah segera ralat dan minta maaf, ini sangat penting karena media tak boleh menulis negatif yang ditujukan ke pihak lain tanpa dasar yang kuat.

Semakin besarnya jumlah pengguna internet dan sangat mudahnya mendapatkan informasi saat ini menjadikan hoaks semakin mudah tersebar dan dipercaya, maka masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan akan internet sehat dan leterasi media sehingga dapat mengenali ciri-ciri berita hoaks sehingga masyarakat dapat menganalisis, mengevaluasi dalam mengambil makna dari sebuah berita.

Untuk megimbangi hal itu publik juga jangan mudah percaya pada informasi, namun harus bisa memilah dan memilih. Lihat track record media maupun akun media Medsos, selain itu perlu perbanyak konten narasi yang positif serta melakukan penyaringan sebelum menshare ke publik.

Langkah ini sangat penting sebagai pemilih yang cerdas menghadapi momentum demokrasi Pemilu tahun 2019 mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here