Pemuda Muhammmadiyah: Macron Akan Hancurkan Dirinya Akibat Kebebasan Niradab

0
402
Foto Ahmad Shobrun Jamil Wakil Ketua Bidang Dakwah PWPM Jatim diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Ahmad Shobrun Jamil*

Emmanuel Macron Presiden Prancis membela mati-matian penayangan karikatur Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan dalih kebebasan berpendapat. Namun ironisnya, ketika dirinya diminta memeriksakan kesehatan mentalnya, oleh salah satu kepala negara Muslim di Eropa , Macron serta merta marah dan mengeluarkan statemen bahwa komentar itu tidak bisa diterima. Akal sehat tentu faham bahwa Macron menerapkan standar ganda dalam slogan “kebebasan berpendapat” yang ia dengungkan.

Alih-alih meminta maaf, Macron justru merestui penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammadi di Majalah Satire Charlie Hebdo. Berbagai elemen masyarakat dunia lebih khusus umat Islam tentu marah dan bereaksi keras atas tingkah polah Presiden Prancis yang rasis dan intoleran ini. Dari mulai pemboikotan produk-produk asal negeri anggur, pemanggilan duta besar hingga demonstrasi di jalan-jalan.

Mencermati hal ini tentu umat Islam perlu jeli, cerdas dan proporsional dalam menyikapi hal ini. Apa yang dilakukan Macron jelas-jelas adalah suatu kemunkaran, perbuatan intoleran dan rasis. Namun dalam mereaksi kita perlu cermat dan analitis sebelum beraksi untuk mempelajari apa saja bagian yang saling terkait dan sedang dialami umat Islam di Prancis dulu hingga kini.

Umat Islam perlu jeli dan cerdas melihat ada apa dibalik gencarnya Macron menyerang simbol-simbol Islam belakangan ini. Adakah hubungan dengan semakin tingginya persentase muslim di Prancis. Prancis kini telah menjadi negara dengan populasi muslim terbesar se antero eropa dengan seribu lebih masjid yang tersebar di negeri itu. Mungkinkah ada skenario sistemik untuk menekan populasi mereka? Apakah ini bagian dari agenda depopulasi umat Islam di Prancis dengan mengirim “umpan” sensitif semacam penghinaan terhadap simbol suci Islam untuk memancing amarah kemudian muncul anarkisme yang dilabelkan pada umat Islam di sana? Dan pada akhirnya politisi ultranasionalis mereka berhasil mensahkan undang-undang yang mengusung misi menekan pertumbuhan dan penyebaran populasi Muslim di sana? Selesai mengkaji pola hubungan di atas maka kemudian baru bisa dimunculkan reaksi terukur dan strategis dalam rangka pembelaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat ini disadari atau tidak, kita berada pada zaman “Post Truth” (zaman penuh kebohongan) dimana kebenaran tersamarkan bahkan tertutup dengan massifnya opini palsu yang di kuatkan oleh berbagai perangkat dan media. Jika diibaratkan sebuah “pertempuran”, zaman ini kemenangan diraih karena memenangkan opini publik terlepas dari salah atau benarnya opini tersebut. Dengan demikian umat Islam perlu memperjuangkan kebenaran dengan strategi yang jitu untuk memenangkan opini publik tersebut.

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan bahwa mengingkari kemunkaran itu bertingkat-tingkat, mulai dengan tangan, lisan atau hati. Dan pengingkaran dengan hati itu selemah-lemah iman. Maka kini saat yang tepat jihad dengan tangan dan kekuasaan bagi para pemimpin negara Muslim dengan memanggil Dubes Prancis di negara-negaranya, menuntut permohonan maaf dan pembekuan hubungan diplomatik sampai Macron meminta maaf atas ulahnya tersebut. Bagi warga muslim boikot atas produk-produk pabrikan Prancis juga menjadi hal yang efektif memberi pelajaran pada Macron dan jajarannya agar tidak sembarangan dan sembrono mengumbar rasisme, intoleransi dan penghinaan simbol agama Islam di Negaranya dengan dalih kebebasan berekspresi.

Bagi kaum muslimin, jihad dengan lisan dan tulisan adalah sarana jitu untuk mendukung saudara muslim kita di Prancis. Kita bukakan mata dunia tentang standar ganda dan ketidakadilan Prancis atas umat Islam sejak dulu sampai hari ini. Saatnya membela Nabi kita dengan akhlak semulia Nabi.

* Wakil Ketua Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here