Pendidikan Muhammadiyah Lampaui Batas Suku, Agama, Ras, dan Golongan

0
147
Prof Dr Biyanto MAg menyampaikan materi dalam Webinar Darul Arqam SD Muhammadiyah 15 Surabaya. (Ali Shodiqin/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Webinar Darul Arqam SD Muhammadiyah 15 Surabaya sesi ketiga dengan tema Belajar, Beribadah, dan Berkarya Bersama Muhammadiyah berlangsung dengan pemateri Prof Dr Biyanto MAg, wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu (1/5/2021).

Webinar ini diikuti seluruh guru dan karyawan, siswa-siswi dan wali murid SD Muhammadiyah 15 Surabaya serta TK se-Surabaya Barat. Sebelum acara dimulai, peserta diajak menyaksikan film pendek Napak Tilas Perjuangan KH Ahmad Dahlan yang dibuat oleh Tim Ismuba Limas.

Komite SD Muhammadiyah 15 Surabaya yang diwakili oleh Putri Abdhi Swastika SP mengucapkan terima kasih kepada SD Muhammadiyah 15 yang telah mengadakan Darul Arqam Virtual. “Program yang luar biasa di tengah-tengah pandemi Covid 19, dengan menghadirkan para tokoh yang luar biasa. Semoga ilmu yang disampaikan Prof Dr Biyanto MAg memberikan pencerahan dan manfaat yang besar bagi seluruh peserta,” tutur Putri Abdhi yang menjabat sekretaris komite itu.

Yang menarik dari webinar ini, ada sambutan apresiasi dari Ketua PCIM Mesir Umair Fahmiddin Lc Dipl. Ia mengucapkan terima kasih, selamat, dan sukses atas pelaksanaan Darul Arqam Virtual SD Muhammamdiyah 15 Surabaya.

Secara singkat, Umar, biasa dipanggil, menceritakan sejarah berdirinya PCIM Mesir bermula dari beberapa temannya seideologi di Mesir yang  berkumpul, mengadakan kajian-kajian, dan berkembang mendirikan PCIM  Mesir.

Ketua PCIM Mesir Umair Fahmiddin saat memberikan apresiasi Webinar Darul Arqam SD Muhammadiyah 15 Surabaya (Ali Shodiqin/Klikmu.co)

Muhammadiyah dan Tiga Pilar Dakwah

Setelah itu, Prof Biyanto menyampaikan materi tentang Muhammadiayah sangat concern pada tiga pilar utama dakwah, yaitu pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Menurut Prof Biyanto, banyak sekali lembaga pendidikan yang sudah didirikan Muhammadiyah, mulai TK sampai perguruan tinggi. Di dalam pendidikan Muhammadiyah tidak dibedakan suku, agama, ras, dan golongan. “Bahkan, di daerah timur di Provinsi Papua Barat 92% siswa dan mahasiswa di sekolah Muhammadiyah adalah masyarakat beragama Kristen,” paparnya.

Dalam hal toleransi dan kebangsaan, Muhammadiyah tidak perlu diajari lagi. Muhammadiyah sudah lahir lebih dahulu sebelum negara Indonesia ini berdiri.

Dalam bidang kesehatan juga, Muhammadiyah telah banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan berdirinya berbagai klinik dan rumah sakit Muhammadiyah. Sementara bidang sosial, Muhammadiyah tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan dan santunan kepada fakir, miskin, dan anak yatim dengan didirikannya panti asuhan di seluruh Indonesia.

Dalam kaitannya dengan ideologi, Prof Biyanto berpesan kepada para guru hendaknya memberikan pendidikan yang kokoh. Sebab, pilar pendidikan kokoh adalah orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Nah, pengaruh masyarakat dalam hal pendidikan sangat besar, apalagi  terkait ideologi atau paham-paham radikal. “Jangan sampai anak-anak kita terpengaruh oleh bujuk rayu orang-orang dengan ideologi tersebut,” ujarnya.

“Maka, bapak/ibu sudah benar menyekolahkan putra-putrinya di SD Muhammadiyah 15 Surabaya, sekolah inspiratif yang mendidik anak-anak dengan ideologi Islam yang rahmatan lil alamin,” tambah guru besar UINSA Surabaya tersebut. (Ali Shodiqin/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here