Pendidikan Muhammadiyah sebagai Peranti Pembebasan Umat

0
179

Oleh: M. Thoriqul Ihsan

KLIKMU.CO

Keberadaan Muhammadiyah, yang jauh lebih lama daripada lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, nyata telah membuahkan banyak manfaat serta mampu menggiring kehidupan umat Islam dan rakyat Indonesia menuju keberdayaan dan kemajuan. Muhammadiyah melahirkan banyak program yang bermanfaat bagi umat. Banyaknya tokoh-tokoh Muhammadiyah yang mengabdi untuk kejayaan bangsa menyimpulkan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan berkemajuan.

Meskipun demikian, zaman terus bergerak dan Muhammadiyah harus siap membaca arus zaman. apa yang sebenarnya dibutuhkan umat saat ini. Tantangan bagi Muhammadiyah sendiri sangatlah kompleks untuk menjawab problem-problem bangsa ini. Mulai berbagai sektor persoalan bangsa seperti bidang pendidikan, sosial, keagamaan, kebudayaan terus menanti Muhammadiyah. Sebagai organisasi Islam tertua, tentunya ini merupakan PR besar persyarikatan. Salah satu tantangan yang harus dijawab organisasi tertua bangsa ini yaitu terkait pendidikan.

Kita tahu selain penyantun, Muhammadiyah juga terkenal dengan misinya sebagai pembebasan umat dari kebodohan melalui pendidikan, seperti yang dicontohkan KH Ahmad Dahlan. Dalam perjuangan beliau mengemban misi pembebasan umat pada zamannya, Ahmad Dahlan melakukan liberasi pendidikan. Dalam konteks sejarahnya masyarakat Indonesia banyak yang buta huruf, pola pikir masyarakat yang kolot, dan eksklusif.

Ahmad Dahlan lantas membuat terobosan untuk membebaskan umat dari kebodohan, membawa napas baru melalui komparasi Islam dan Barat, yaitu Belanda. Ahmad Dahlan berhasil melakukan terobosan konsep pendidikan modern untuk bangsa ini membuat sistem kelas yang sebelumnya tidak ada, dengan mengajarkan ilmu agama dan sains teknologi ala Barat. Konsep ini penuh tentangan dari ulama dan priyayi-priyayi, tapi tidak membuat Ahmad Dahlan mundur.

Pendidikan Muhammadiyah memiliki nilai-nilai ajaran dari KH Ahmad Dahlan. Pertama, pendidikan Muhammaadiyah diselenggarakan merujuk nilai-nilai yang bersumber pada Al-Quran dan sunah nabi. Kedua, ruhul ikhlas untuk mencari rida Allah menjadi dasar dan inspirasi dalam ikhtiar mendirikan dan menjalankan amal usaha di bidang pendidikaan. Ketiga, menerapkan prinsip kerja sama (musyarakah) dengan tetap memelihara sikap kritis. Keempat, selalu memelihara dan menghidupi prinsip pembaruan. Kelima, memiliki kultur memihak kepada kaum yang tertindas. Keenam, memperhatikan dan menjalankan keseimbangan atau moderat antara akal sehat dan kesucian hati.

Memasuki zaman modern, Muhammadiyah harus tanggap menghadapi paradigma pendidikan global yang melunturkan nilai-nilai dan norma-norma falsafah pendidikan. Fenomena ini terjadi dikarenakan dampak dari globalisasi yang menciptakan mental-mental pekerja untuk memenuhi pasar industri. Bergesernya pola pikir masyarakat sekarang beranggapan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan-pekerjaan yang mapan.
Dengan adanya paradigma pendidikan global saat ini mengakibatkan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang yang berada di kalangan atas yang dapat mengakses pendidikan bermutu, sementara golongan bawah mencicipi pendidikan ala kadarnya. Ketimpangan tersebut perlu dihilangkan dari benak pengelola pendidikan muhammadiyah.

Dalam salah satu artikelnya di buku “Muhammadiyah Digugat; Reposisi di Tengah Indonesia yang Berubah” (2005), Mohamad Sobary menuturkan sekaligus sebagai bahan refleksi bahwa gerakan Muhammadiyah stagnan. Kemandekan gerakan Muhammadiyah itu disebabkan adanya iklim perubahan sosial yang berkembang semakin cepat, sementara persyarikatan dalam keadaan belum siap betul untuk mengejar dan menangkap proses perubahan tersebut. Muhammadiyah belum mampu mengimbangi laju percepatan perubahan zaman dengan berbagai macam tawaran dari lembaga sosial lainnya. Gedung-gedung seperti sekolah maupun universitas yang selama ini diartikan sebagai tolok ukur keberhasilan Muhammadiyah menjadi terkikis karena adanya saingan dalam aspek yang sama. Akibatnya, misalnya, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di Muhammadiyah cenderung berorientasi pada wilayah keuntungan. Oleh sebab itu, menjadi wajar apabila sebagian lembaga pendidikan Muhammadiyah kini cukup sulit dijangkau oleh kelompok-kelompok kurang mampu.

Melihat itu, Buya Syafii Maarif mengungkapkan bahwa masih ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang biayanya cukup mahal. Perkembangan pendidikan Muhammadiyah mulai berjalan tidak semestinya, seperti Muhammadiyah masa awal yang berpihak kepada fakir miskin. Orientasi paling besar yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah sekarang justru untuk mengejar jumlah, bukannya kualitas.

Apabila Muhammadiyah benar-benar mau membangun sekolah-sekolah unggulan, harus ada keberanian untuk merumuskan bagaimana landasan filosofis pendidikannya sehingga dapat meletakkan secara tegas bagaimana posisi lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah di hadapan pendidikan nasional, kedudukannya yang strategis sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fungsinya sebagai wahana dakwah Islamiyah. Ketiadaan orientasi filosofis ini jelas sangat membingungkan apa harus mengikuti arus pendidikan nasional yang sejauh ini kebijakannya belum menuju pada garis yang jelas. Maka, mau tidak mau Muhammadiyah harus segera merumuskan visi pendidikan yang membebaskan. Seperti yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan, maka ini menjadikan tantangan tersendiri bagi Muhammadiyah untuk menjawab perihal tersebut.

Konsep pendidikan untuk bangsa ini agar Muhammadiyah kembali memberikan pencerahan solusi untuk kemajuan bangsa. Dengan dihadapkan berbagai karakter bangsa ini yang multikultur, memang bukan tugas yang remeh. Ini menjadi tugas bersama untuk menuju indonesia yang berkemajuan. Dihadapkan dengan berbagai macam kultur, perlu digagas sebuah konsep pendidikan yang visioner yang menjembatani kebodohan dan pola pikir praksis. Anggapan bahwa pendidikan adalah investasi materiil itu mencederai hakikat pendidikan. Memang benar dirasa permasalahan sektor pendidikan bukan hal yang remeh, apalagi zaman sekarang yang sangat dinamis. Maka, kita sebagai warga perserikatan sangat mengharapkan Muhammadiyah bisa merumuskan jalan keluar ini terkait permasalahan sektor pendidikan ini untuk tetap menjadi ormas yang mencerahkan. (*)

Penulis adalah anggota Bidang RPK Korkom IMM UINSA Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here