Pengecatan Pesawat Presiden Bertentangan dengan Pernyataan Sense of Crisis Jokowi

0
286
Pesawat kepresidenan dicat ulang menjadi merah-putih. (Detik.com)

KLIKMU.CO – Fraksi PAN menyoroti pengecatan pesawat kepresidenan yang memakan biaya tak sedikit, yakni sekitar 2 miliar. Hal tersebut menunjukkan bahwa pihak istana kurang peduli dengan kondisi masyarakat saat ini yang sedang berjuang menghadapi pandemi.

Hal itu pun bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa pejabat harus punya sense of crisis (peka terhadap krisis). “Harus punya sense of crisis lah ya. Harus mempunyai rasa kepedulian terhadap kondisi kekinian,” kata anggota Komisi II DPR Fraksi PAN Guspardi Gaus, Selasa (3/8/2021).

Guspardi meminta pemerintah menjelaskan ke masyarakat terkait kabar pengecatan pesawat yang biayanya disebut-sebut mencapai Rp 2 miliar itu. Penjelasan dari istana dinilai penting agar isu ini tidak menjadi polemik di masyarakat.

Apalagi, biaya pengecatan yang besar di tengah pandemi Covid-19. “Tentu harus jelas apa substansi dari perubahan warna. Pemerintah harus menjelaskan kepada publik supaya jangan menimbulkan miskomunikasi dan persepsi yang terkesan menghamburkan dana. Tentu harus dilakukan klarifikasi. Wajib itu,” tegasnya.

Guspardi juga meminta agar pemerintah tak melakukan hal-hal yang memang tidak diperlukan saat ini. Apalagi, hanya mengecat ulang pesawat dan helikopter kepresidenan dengan anggaran yang cukup besar. “Hal-hal yang tidak substansi tak perlu dilakukan,” ujar anggota Baleg DPR tersebut.

Kritik serupa datang dari Fraksi Gerindra. Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Kamrussamad menyesalkan kebijakan Sekretariat Negara yang melakukan penggantian cat pesawat menjadi warna merah-putih. Sebelumnya, pesawat Kepala Negara berwarna biru-putih sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut dia, pengecatan ulang pesawat presiden di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan menimbulkan kesan negatif dari rakyat. “Kami akan pertanyakan ke Kementerian Keuangan tentang alokasi anggaran pengecatan pesawat tersebut, apakah termasuk bagian dari prioritas kebijakan fiskal,” kata Kamrussamad, Selasa (3/8/2021).

Meski begitu, pemilihan warna merah-putih dinilai cocok dengan lambang bendera Indonesia. Namun, waktu pengecatannya saja yang dirasa kurang pas karena kini sedang fokus penanganan Covid-19.

“Jika pilihan warna harusnya sejak awal pembelian pesawat tersebut memang lebih tepat warna merah-putih melambangkan tegaknya NKRI,” kata dia.

Di sisi lain, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin justru mempertanyakan kritik sejumlah pihak lainnya soal pengecatan pesawat kepresidenan yang menelan anggaran Rp 2 miliar itu.

Ngabalin merasa tak ada masalah karena tidak mengganggu anggaran penanganan Covid-19. Menurutnya, anggaran Rp 2 miliar digunakan untuk cat dan perawatan pesawat 7 tahun sekali.

“Kalau mau lihat biaya perawatan, cat, kemudian pemeriksaan 7 tahun dilakukan, Rp 1 miliar-Rp 2 miliar untuk pesawat presiden di mana masalahnya?” kata Ngabalin dalam program CNN Indonesia Newsroom, Selasa (4/8/2021).

Ia menegaskan bahwa pengecatan pesawat kepresidenan tidak diambil dari anggaran penanganan Covid-19. Menurutnya, Kementerian Sekretariat Negara telah mengalokasikan ratusan miliar rupiah untuk penanganan Covid-19.

“Mau Rp 1 miliar, Rp 2 miliar, untuk perawatan penerbangan VVIP presiden tidak masalah, tidak mengganggu anggaran Covid karena refocusing anggaran sudah dilakukan 2-3 kali,” tutur politikus Golkar itu. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here