Penting Gak Penting #15: Jadilah ‘Barista’ Penikmat Dakwah

0
124
Langka: Barista berjilbab dari aceh diambil dari kanal Aceh

KLIKMU.CO

Oleh: Cak Farhan*

“mmmh, kopine koq pahit”, gumam Pak Jo usai nyruput kopi buatan Pak Bagong.
“Pak Bagong, sini pak”, panggil Pak Jo pada Pak Bagong.

“siap, ya Pak Jo”, jawab Pak Bagong sambil mendekat ke arah Pak Jo.
“Pak Bagong, kopine sampean kemanisen kokean gulo”, kata Pak Jo
“Ah mosok, saya bikinnya biasa aja, boten saya tambahi gula, lha wong pun sachetan”, jawab Pak Jo.
“coba sampean incip”, kata Pak Jo sambil menunjuk ke arah kopi yang ada di depannya.

“ngapunten, kulo sakniki sudah nggak ngopi”, tolak Pak Bagong dengan halus.
“Ndo, kenapa, sampean kan biasane kopi rokok nyambung terus gak mandeg”, kata Pak Jo terheran.
“abis kena mag, kalo kena kopi jadi mual”, jelas Pak Bagong.

“mangkane pun telat makan”, kata Pak Jo.
“wah iki penyebabnya kopi sampean jadi kemanisan, lha wong mbuatnya gak pake di incip”, kata Pak Jo.

Mendengar pembicaraan Pak Jo dan Pak Bagong, spontan Cak Ri yang baru masuk ruangan, langsung mengambil kopi di depan Pak Jo dan Pak Bagong.
“kesuwen Pak Jo, nek gak gelem tak minumnya”, kata Cak Ri sambil mengambil kopi dan meminumnya.

“mmmhhhhh”, gumam Cak Ri spontan berlari ke arah dapur.
“Opo’o Cak Ri”, kata Pak Bagong terheran.
“puahit, gulone nang ndi Pak Bagong”, kata Cak Ri dengan suara keras.
“katanya kemanisan, koq malah minta gula”, gumam Pak Bagong terheran.
“Pak Bagong, asline kopi sampean iku pahit, seperti tanpa gula, tapi aku gak tega ngomongno pahit, jadi aku bilang kemanisan sampean aku suruh nyicip”, kata Pak Jo sambil tersenyum melihat Cak Ri kepahitan usai nyruput kopi buatan Pak Bagong.

“Barista atau penyeduh kopi itu juga penikmat kopi, jadi kopi buatannya selalu uenak, gak koyo Pak Bagong, penyeduh kopi gak mau minum kopi, kata Pak Jo.
“maaf, itu tadi saya salah ambil, bukan sachet kopi mix yang ada gulanya, tapi sachet kopi murni tanpa gula”, jelas Pak Bagong. “Oalah, mangkane koq puahit gak legi blas”, kata Cak Ri.

Mendengar pembicaraan ketiga orang tersebut, Pak Han yang duduk berseberangan dengan meja Pak Jo, tergoda ikut menyela pembicaraan mereka bertiga.

“Nah, barista itu mantap”, sela Pak Han mengagetkan mereka bertiga.
“Ups, pahit koq mantap”, kata Cak Ri dengan ekspresi agak kaget.
“Barista itu mantap, barista itu penyeduh, penyaji sekaligus penikmat. Harusnya kita semua bisa menjadi barista, saya juga sampean-sampean semua”, kata Pak Han.
“semua jadi barista, bikin kopi sendiri-sendiri, Pak Bagong lak enak Pak Bagong gak ada kerjaan bikin kopi”, kata Pak Jo.
“wah iso nganggur maneh aku”, kata Pak Bagong khawatir.

“Dalam menjalankan tugas organisasi, kita semua harus jadi barista, harus bisa menikmati, apapun tugas yang dilakukan. Baik sebagai pimpinan, juru dakwah, bidang operasional, semua harus melakukannya dengan ikhlas dan bisa menikmatinya. Karena kata Rasulullah, salah satu syarat suatu amalan diterima, harus dilakukan dengan ikhlas”, jelas Pak Han.

“Siap ndan”, jawab Pak Jo, Cak Ri dan Pak Bagong kompak.
“silahkan kopinya Ndan, monggo kopinya diminum dengan ikhlas”, kata Cak Ri.
“hehehe… dikasih gula dulu saya mau”, kata Pak Han menutup pembicaraan.

*Aktivis Muhammadiyah tinggal di Ngagel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here