Penting Gak Penting #15: Peduli Menolong Meski Butuh di Tolong

0
169
Foto tangan memberi diambil dari kompasiana.com

KLIKMU.CO

Oleh: Cak Farhan*

Tergerak untuk turut membantu meringankan penderitaan korban bencana gempa bumi di Lombok, jamaah surau di dekat rumah Pak Bagong membentuk Posko Peduli Korban Bencana Lombok.
Bersama warga kampung sekitar surau, dibentuklah Posko Meringankan Derita Membangkitkan Ceria atau Posko MDMC korban bencana gempa bumi Lombok.
Untuk menghimpun dana bantuan, Tim Posko MDMC berkeliling dari rumah ke rumah warga.

“Assalamu’alaikum, nuwon Pak Jan, sumbangan peduli bencana Lombok”, sapa Pak Bagong pada Pak Jan juragan.
“Wa’alaikumsalam, nggih Pak Bagong”, kata pemilik rumah Pak Jan juragan menjawab panggilan Pak Bagong.
“Mohon maaf saya hari ini belum bisa nyumbang, tagihan saya masih banyak yang nunggak belum dibayar, saya sendiri juga masih nunggak pembayaran kredit ke bank”, kata Pak Jan juragan.
“Nggih Pak Jan, ndap apa-apa”, jawab Pak Bagong.

“besok kalo ada yang bayar tagihan, saya akan nyumbang”, kata Pak Jan.
“wong iki juragan kalo dimintai sumbangan jawabe mesti besok, besok didatangi lagi jawabnya besok lagi”, gerutu Pak Bagong sambil ngeloyor pergi.

Selanjutnya Pak Bagong berjalan menuju Warkop Cak Di yang bersebelahan dengan rumah Pak Jan.

“Assalamu’alaikum, Cak Di wonten ?”, sapa Pak Bagong saat memasuki pintu warkop.
“Wa’alaikumsalam”, serempak jawab tamu-tamu yang lagi duduk-duduk di warkop Cak Di.

“wuih pada ngumpul semua di sini, ayo rek nyumbang-nyumbang”, kata Pak Bagong bersemangat.

“Ayo Ndan, nyumbang Ndan”, kata salah seorang pengunjung pada Pak Ran komandan hansip di kampung Pak Bagong.

“waduh, duit kari sepuluh ewu, nek iki disumbangno, gak sido ngrokok ngopi maneh”, gumam Pak Ran.
“ayo, komandan harus ngasih contoh, kalo sampean nyumbang nanti anak buah pasti ikut nyumbang juga”, goda tamu warkop yang lain.

“iki sing bahaya”, jawab Pak Ran.
“nyumbang koq bahaya”, tanya Mbah Yo yang duduk disebelah Pak Ran.
“Wuih, Mbah Yo lagi ngopi, koq pada ngumpul disini, sinten sing ulang tahun tahun, sing ntraktir”, kata Pak Bagong dengan ekspresi kaget melihat para tokoh kampung pada ngumpul duduk-duduk di warkop Cak Di.

“sek ojo disela, aku mau dengar penjelasan Pak Ran komandan hansip, iki nyumbang korban bencana koq jare malah bahaya. Eh Ran, mereka yang sekarang tertimpa bencana gempa bumi di Lombok iku yo dulurmu kabeh, yo kudu dibantu”, kata Mbah Yo

“Iyo Ndan, dulur sebangsa, saudara sesama muslim juga”, tambah tamu warkop lain yang merasa tidak sependapat dengan perkataan Pak Ran komandan.
“sepurane, mohon maaf semua ya, bukan maksud saya tidak mau nyumbang”, kata Pak Ran.

“ojo ngeles, wong dikon nyumbang jare bahaya”, potong Mbah Yo.
“Nggih sekedap Mbah Yo, sabar, kulo tak marekno ngomong riyen”, balas Pak Ran.
“yo ngomongo tak rungokno”, balas Mbah Yo penasaran.

“nyumbang bencana iku harus, soalnya mereka semua saudara kita, kalo misalnya yang tertimpa bencana kita, kita pun butuh pertolongan sumbangan dari saudara-saudara kita yang ada di tempat lain, karena bumi yang di injak kita diami ini planet yang sama dengan yang di Lombok atau tempat lain yang pernah tertimpa bencana, maka kita yang disini pun tidak aman 100% dari ancaman bencana, karena itu kita harus peduli menolong sesama”, jelas Pak Ran.

“Lha koq sampean tadi ngomong bahaya”, kata salah seorang tamu gak sabar.
“Sik rungokno”, sergah Mbah Yo.
“bahaya iku kalo yang dipake contoh donatur itu saya, duit saya ini yo cuma tinggal sepuluh ribu ndil ini, nek Iki tak sumbangno, saya gak bisa ngopi, gak bisa ngerokok, gak iso bayar utang. Nek sampean-sampean kabeh tiru-tiru saya, yo podho karo aku, gak iso ngopi ngerokok bayar utang, gak iso mangan, lha wong yang duduk-duduk ngopi disini banyak hansip kampung anak buah saya”, jelas Pak Ran komandan hansip.

“yo arek-arek iku ben ngopi gak tau bayar, jare disuruh Pak Ran komandan”, potong Cak Di pemilik warkop sambil ngaduk kopi.
“Oalah”, sahut Mbah Yo dan beberapa pengunjung warkop kompak bersamaan tanda paham.

“Yo bener bahaya, lha wong hansipe sak komandane gawene nghutang nek ngopi”, kata Mbah Yo sambil manggut-manggut tanda paham.

“Yo, bahaya iki nek hansipe ngutang terus, pernah gak saya kasih kopi, hansipe keturon pas wayahe jogo, katanya gara-gara ngantuk gak di kasih kopi Cak Di, aku diseneni wong kampung soale pas hansipe keturon ada yang kehilangan”, kata Cak Di.
“asline sampean kabeh iku ati karep pingin melu nolong korban bencana tapi bondo cupet butuh di tolong”, kata Mbah Yo.
“khusus sekarang ini saja, untuk para hansip kampung ngopi gratis, syaratnya duit yang mau sampean pake bayar kopi, sampean sumbangkan untuk korban bencana, kita ini sesama muslim saling bersaudara, innamal mu’minun ikhwah, ibaratnya kalau ada satu bagian tubuh yang sakit maka bagian tubuh lain pun akan merasa sakit juga atau minimal tidak nyaman, itu kata kanjeng Nabi Muhammad, jadi sekecil apapun bantuan yang bisa kita berikan akan sangat berarti buat meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana”, jelas Cak Di.
“Suwon Cak Di, sampean tambah pinter bakat dadi ustad, besok ceramah Nang musholla Yo”, kata Pak Bagong sambil senyum penuh semangat.

“aku iku mau cuma nirukan ceramahnya ustad di YouTube”, kata Cak Di sambil memasukkan uang sumbangan ke kotak donasi yang dibawa Pak Bagong.
“ayo rek ndi sumbangane”, kata Pak Bagong sambil menyodorkan kotak donasi ke para tamu warkop.

“sepurane, aku gak gowo duit”, kata Unyil hansip bertubuh kecil.
“sampean”, kata Pak Bagong menunjuk tamu di sebelahnya.

“sampean-sampean podo ae gak gowo duit”, kata Pak Bagong pada tamu-tamu warkop yang lain.

“nggih”, jawab para tamu kompak.
“sampean Mbah Yo, ndi sumbangane”, tanya Pak Bagong pada tamu paling sepuh.
“sepurane, aku iki yo pensiunan hansip, tambah gak duwe duit”, kata Mbah Yo sambil tersenyum kecut.

“walah iki mau ngopi podo gak gowo duit kabeh, pe ngutang kabeh ?”, tanya Cak Di pada para pengunjung warkopnya.
“nggjiiih”, jawab para pengunjung kompak bersamaan.

“wah gethun aku, mau lapo tak gratisno, iso bangkrut aku bendino di utangi”, kata Cak Di lemas sambil rebahan di kursi.

*Aktivis Muhammadiyah tinggal di Ngagel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here