Penting Gak Penting #16: Darurat Tim Tanggap Darurat

0
115
Foto tim Muhammadiyah Disaster Management Centre kota Surabaya ketika bencana meletusnya gunung Kelud diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Cak Farhan*

Setelah dana bantuan bencana terkumpul, Pak Bagong menyerahkannya melalui posko Darurat Bencana di tingkat propinsi yang salah seorang stafnya merupakan kenalan Pak Bagong. Dari staf posko propinsi tersebut, Pak Bagong diminta untuk membantu mencari relawan yang bersedia turut menyerahkan bantuan langsung ke lokasi bencana sekaligus membantu para korban bencana.

Kepada para anggota tim MDMC (Meringankan Derita Menumbuhkan Ceria) di kampungnya, Pak Bagong menginformasikan bahwa posko propinsi memberi kesempatan pada siapa saja yang bersedia menjadi relawan darurat bencana, untuk bersama-sama berangkat ke lokasi bencana.

Sekembalinya dari posko propinsi, Pak Bagong langsung mampir ke warkop Cak Di dimana beberapa warga nampak sedang bersantai ditemani segelas kopi.

“Assalamu’alaikum”, sapa Pak Bagong mengagetkan para tamu pengunjung warkop Cak Di.
“Wa’alaikumsalam”, jawab beberapa pengunjung bersamaan.
“Oe Pak Bagong, wong penting iki rek”, kata Cak Man petugas kebersihan kampung.
“Lhuk, koq podo ngumpul disini semua, pada ngopi kabeh, sopo sing ntraktir iki ?”, goda Pak Bagong kepada para tamu pengunjung warkop.

“Bapak-bapak, saya baru saja dari posko darurat bencana propinsi, nyerahkan dana bantuan dari warga kampung kita yang sudah terkumpul kemarin, posko propinsi selain menyalurkan bantuan dari warga kita, juga membuka kesempatan kepada kita kalau mau jadi relawan di lokasi bencana”, kata Pak Bagong menyampaikan informasi yang diterimanya dari posko propinsi.

“Aku mau jadi relawan”, kata Cak Di sambil mengangkat tangan.
“Iyo Cak Di, tapi gak usah Karo ngacungno sendok koyo nagih utang. Sampean aku catat jadi relawan pertama kampung kita”, kata Pak Bagong.
“mantap, relawan nomer siji”, kata Cak Di bangga.

“wah, nek Cak Di ikut jadi relawan, warkopnya iso tutup, iso gak ngopi berminggu-minggu”, kata Cak Unyil hansip bertubuh kecil.
“saya ikut jadi relawan juga”, kata Pak Ran komandan hansip.

“siaaap, kami ikut komandan jadi relawan”, kata hansip Unyil dan beberapa teman hansip lain kompak.
“Aku yo melu Cak”, kata Pak Pri tukang sampah.
“Aku juga melu”, kata Pak To dan Cak Man tukang ojek kampung.
“Assalamu’alaikum, ini mau piknik kemana koq saya dengar dari luar kabeh melu, aku yo melu rek”, kata Pak Fud marbot tukang adzan dan bersih-bersih musholla kampung.

“Eh Pak Ustad, sampean mau ikut juga”, tanya Pak Bagong.
“Iyo rek, piknik aku yo melu, aku yo pingin refreshing, memang mau rekreasi ke mana” kata Pak Fud

“ke Lombok, jadi relawan, serius mau ?”, tanya Pak Bagong memastikan.
“ikut, kapan lagi ke Lombok, mumpung ada yang ngajak, budal dhewe sak umure Urip gak bakal keturutan”, kata Pak Fud.
“koyok budal kaji ae”, kata Cak Di.

“oke relawane wes okeh, tolong sampean tulis nama lengkap dan usia di sini, besok saya setorkan ke posko propinsi”, kata Pak Bagong sambil menyodorkan kertas dan bulpen diatas meja.

“sek rek, sampean iki kabeh wong penting ndik kampung, nek sampean budal kabeh, wong kampung iso nggolek’i sampean, iso geger kampung”, kata Mbah Yo kepada semua pengunjung warkop.
“Mbah Yo, awak-awak iki bukan wong penting, orang penting itu yo pengurus kampung, Pak RT, sekretaris, bendahara, awak iki bukan pejabat penting”, protes Cak Man tukang ojek.

“sampean iki wong penting, tenaga sampean semua dibutuhkan sama warga, nek sampean budal kabeh jadi relawan darurat bencana, kampung kita akan terjadi kondisi darurat juga”, kata Mbah Yo.
“sampean iki ojok berlebihan, mereka ini punya niat baik ingin menolong orang yang lagi kena bencana, mbok jangan dihalang-halangi Mbah”, kata Pak Bagong.

“saya gak nghalang-halangi, cuma nek sampean ninggalkan kampung berminggu-minggu, kampung gak ada yang ngurusi sampah soalnya Pak Nan tukang sampah ikut, gak ada yang ngantar anak-anak ke sekolah juga ibu-ibu ke pasar karena tukang ojeknya liburan ke Lombok, gak ada yang adzan dan bersih-bersih musholla sebab Pak Fud ikut jadi relawan, juga keamanan kampung gak ada yang jaga karena hansip sak komandannya ke Lombok”, jelas Mbah Yo.

“Iyo yo, nek Kabeh sampean ikut jadi relawan darurat bencana, kampung iso darurat kebersihan, darurat keamanan, darurat tukang ojek, musholla juga darurat kebersihan dan tukang adzan”, gumam Pak Bagong.

“sing paling bahaya darurat warkop, aku gak iso ngopi, warkopnya tutup”, kata Mbah Yo.
“Mbah Yo, kami ini ingin bantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, tapi gak punya duit untuk donasi, lha wong kopi aja ngutang Cak Di. Kesempatan menjadi relawan kami manfaatkan untuk membantu korban bencana, jadi bukan hanya yang berduit yang bisa berdonasi, kami yang tidak berduit hanya bisa mendonasikan waktu tenaga dan pikiran sebagai relawan darurat bencana”, kata Pak Nan tukang sampah.

“Kata Rasulullah, senyum itu sama dengan shodaqoh, menyingkirkan duri di tengah jalan itu berpahala, jadi beramal shodaqoh tidak selalu hanya dengan uang semata, kalo tidak punya uang bisa dengan tenaga menolong sesama atau sekadar senyuman”, kata Pak Fud.

“kalo mengambil duri di jalan aja berpahala, apalagi menolong membersihkan puing-puing gempa, tambah guedhe pahalanya”, tambah Unyil hansip.
“iyo-yo, aku tak melu sisan ae jadi relawan, aku yo pingin dapat pahala shodaqoh”, kata Mbah Yo.

“sepuntene Mbah, nek sampean melu, jadi bencana buat kami, karena ngurusi sampean yang sepuh, gak jadi bantu korban bencana”, kata Pak Bagong.
“pun nggih, sampean siap-siap semua, lusa bada subuh kita berangkat”, pungkas Pak Bagong menutup pembicaraan.

*Aktivis Muhammadiyah tinggal di Ngagel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here