Pentingnya Guru Menguasai Modul di Tengah Pandemi

0
70
Wahyu Taufiq MEd didampingi Vevy Liansari SPd MPd menyampaikan materi pelatihan penyusunan modul. (Anis/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – SMP Aisyiyah Boarding School Malang (ABSM) menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Modul Pembelajaran, Jumat (19/11/2020). Kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Kemitraan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Wahyu Taufiq MEd beserta rekannya, Vevy Liansari SPd MEd, utusan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, hadir langsung ke lokasi pelaksanaan pelatihan yang berlokasi di Gedung Walidah lantai 2 itu.

“Baik Bapak/ibu, mengapa harus modul?” tanya Wahyu Taufiq kepada para peserta sebelum membuka materi.

Menurut dia, ada beberapa alasan modul penting dalam pembelajaran di tengah-tengah pandemi seperti ini. Di antaranya adalah pandemi Covid-19 itu sendiri.

“Kira-kira ada yang tahu kapan Covid-19 berakhir?” tanyanya kembali kepada peserta.

Mengutip beberapa informasi yang bersumber dari WHO, lanjut dia, Covid-19 diprediksi berakhir dua tahun lagi. “Jadi, Bapak/Ibu, tahun depan Covid itu masih ada, tapi kemungkinan sekolah sudah akan masuk. Maka dari itu, kita mengajar dengan modul bisa menjadi satu alternatif,” jelasnya.

Selain itu, faktor lainnya adalah kekhasan materi yang disesuaikan dengan karakter sekolah, kebutuhan siswa akan pembelajaran yang menyenangkan, dan yang terakhir adalah kebutuhan guru untuk mentransfer ilmu.

Lebih lanjut, dosen bahasa Inggris itu menjabarkan karakteristik modul yang baik. Mengutip dari Departemen Pendidikan Nasional 2008, karakteristik modul yang baik adalah self instructional, self contained, user friendly, stand alone, dan adaptive.

“Mudah-mudahan Bapak/Ibu paham dengan beberapa istilah tersebut,” kelakarnya disambut tawa peserta.

Selain itu, lanjut dia, modul yang baik adalah modul yang menarik, sistematis, format baku (seragam), dan mengakomodasi kesulitan belajar siswa dan berfungsi untuk pengembangan diri siswa. Terakhir, ia menjelaskan tiga cara penyusunan modul. Yakni, top-down, down-top, dan mix.

Top-down adalah penyusunan dengan karateristik tersusunnya materi sebelum latihan kerja siswa atau tes lainnya. Kemudian down-top kebalikan dari itu. Jadi, soal disajikan sebelum materi disajikan,” ujarnya.

“Terakhir adalah mix. Cara ini bisa bermakna perpaduan dari keduanya,” paparnya kepada peserta pelatihan.“Yang lebih direkomendasikan oleh beberapa pakar adalah yang kedua, Bapak/Ibu,” tandasnya. (Anis/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here