Pentingnya Literasi bagi Orang Muhammadiyah

0
160
Beritasulsel.com
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

 

Oleh: A.S. Rosyid

Penulis dan pustakawan

KLIKMU.CO

Orang Muhammadiyah, kalau tidak punya budaya literasi, atau sekurang-kurangnya punya gairah membaca yang kuat, akan agak sulit bisa ber-Muhammadiyah secara kafah.

Orang Muhammadiyah berbeda dengan saudaranya, yakni orang nahdliyin, yang punya kepatuhan pada kiai yang sangat kuat. Orang nahdliyin itu apa kata kiai; sikap manut kepada guru terbilang luar biasa. Tradisi Muhammadiyah berbeda. Kepatuhan Muhammadiyah bukan pada tokoh, tapi pada keputusan-keputusan organisasi (ijmak).

Kendati demikian, orang Muhammadiyah tetap tidak terbiasa melihat putusan organisasi sebagai sesuatu yang sakral sebagaimana dawuh orang suci. Maka putusan organisasi Muhammadiyah tidak kebal kritik. Kebijakan organisasi, dari pusat hingga ranting, dari amal usaha hingga ortom, diikuti dengan prinsip kritik-oto-kritik.

Siapa yang mengawasi jalannya dakwah Muhammadiyah? Ya, warga Muhammadiyah itu sendiri. Orang Muhammadiyah bukan sekadar ‘otak’ (pemikir) dan ‘kaki tangan’ (penggerak) organisasi; orang Muhammadiyah juga adalah mata (pengawas) bagi perjalanan dakwah Muhammadiyah. Masih progresifkah? Sudah stagnankah? Atau jangan-jangan keluar jalur?

Untuk itu, orang Muhammadiyah harus punya gairah membaca yang kuat. Secara intelektual, orang Muhammadiyah harus mumpuni. Supaya mata orang Muhammadiyah semakin tajam, supaya kondisi-kondisi yang tidak wasathan (seperti mulai meliar, melempem, atau melenceng) bisa diatasi sejak dini, dan supaya oknum-oknum yang mencari hidup di Muhammadiyah sembari merusak Muhammadiyah bisa lekas ditegur, dibina, atau dilawan.

Misalnya, mahasiswa Muhammadiyah. Cukupkah wawasan mahasiswa Muhammadiyah untuk memahami tanggung jawab intelektual dosen dalam membangun pengetahuan di PTM masing-masing? Kalau tidak mengerti, mahasiswa Muhammadiyah tidak bisa melantangkan kritik dan “mengingatkan” kampus bila terdapat indikasi akan adanya kartel jurnal.

Apa itu kartel jurnal? Yakni aktivitas ilegal oknum-oknum akademik yang, demi sertifikasi dan urusan jabatan, rela melukai marwah perguruan tinggi dengan cara melakukan jual beli jurnal dan plagiasi. Apa itu plagiasi? Jenis-jenisnya beragam. Kalau wawasan dasar semacam itu tidak diketahui mahasiswa Muhammadiyah, kejahatan akademik merajalela di PTM.

Contoh lain, masih saya ambil dari mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah. Kalau tidak ada wawasan paradigmatik yang kuat tentang apa itu patriarki, mengapa ada patriarki, bagaimana patriarki bekerja dan merugikan kelompok-kelompok rentan, maka akan kesulitan bagi mereka menyusun pembelaan terhadap para mahasiswi korban pelecehan dosen yang mesum.

Memang ada ayat tentang zina. Dengan membaca buku-buku normatif Islam, mahasiswa Muhammadiyah akan mengetahui dalil pelarangannya. Tetapi untuk menjawab bagaimana kejahatan seksual bekerja dalam hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai dibutuhkan wawasan paradigmatik. Mampu menjawab pertanyaan itu pun tidak menjamin mahasiswa Muhammadiyah sanggup menyusun perlawanan.

Itu baru dua contoh sederhana dari dunia kampus. Muhammadiyah, Aisyiyah, amal usaha Muhammadiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah, dari pusat hingga daerah, punya dinamika dan tantangan sendiri-sendiri. Kadang organisasi melawan rasa jenuh, kadang godaan politik, kadang keserakahan. Ketajaman intelektual bisa mendorong upaya-upaya yang jitu untuk menyegarkan cita-cita dan memperbaiki gerakan.

Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah adalah contoh yang apik: nyaris satu dekade lalu mereka sudah memikirkan tantangan internasionalisasi Muhammadiyah dan merumuskan langkah strategis yang bisa dilakukan. Pradana Boy PhD mengawali dengan menerbitkan studinya tentang fatwa di Belanda, terkait di dalamnya Majelis Tarjih Muhammadiyah. Meski sayangnya apresiasi dari UMM agak sepi.

Saya tidak tahu apakah ada riset khusus tentang budaya literasi orang Muhammadiyah. Kalau belum ada, maka akan menarik sekali untuk diteliti. Orang Muhammadiyah dikatakan unggul dalam budaya literasi dilihat dari tolok ukur apa? Apakah jumlah buku rata-rata yang dihabiskan orang Muhammadiyah dalam setahun? Bisakah, misalnya, mengukur bobot literasi anak muda Muhammadiyah dari perbincangan mereka di warung kopi?

Satu yang pasti, budaya literasi sangat penting bagi orang Muhammadiyah. Semakin literet orang Muhammadiyah, semakin jauh organisasi satu abad ini dari ancaman stagnasi bahkan fasad (kerusakan). Muhammadiyah akan selalu terselamatkan oleh mata yang awas dan ide-ide segar hasil dari refleksi intelektual yang jernih.

Billahi fi sabilil haq, fastabiqul khairat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here