Penuhi Kebutuhan Dasar Pendidikan Kasih Sayang di Sekolah

0
99
Muhammad Jemadi, MA Sekretaris Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya. Sekretaris DPD AGPAI Jawa Timur.

KLIKMU.CO

Oleh: Muhammad Jemadi, MA.

Rapat kenaikan kelas telah selesai. Namun menyisakan ‘kegalauan atau ketidakterimaan’ sebagian pendidik. Pasalnya ada dilematis, anak yang secara nyata jarang masuk sekolah tanpa alasan, minum-minuman keras, mengambil uang teman dinaikkan atau tidak. Kalau dinaikkan moralitas masih jauh harapan. Kalau tidak dinaikkan menjadi persoalan tersendiri.

Para pendidik yang beraliran humanistik misalnya mempertanyakan, Apakah kenakalan pada anak itu, hanya dilihat dari fakta kejadian? Pernahkah kita meneliti atau menyelidiki mengapa mereka berlaku seperti itu?

Setelah mengetahu factor dan latar belakang kenakalannya, lantas apa yang pernah dilakukan pendidik untuk memproses agar tidak nakal?

Selama proses mendidik atau membimbing apa ada catatan dan evaluasi? Itulah yang membuat pendidik humanistik itu memprotes ketidaknaikan kelas peserta didik yang dijuluki “anak nakal”.

Sesuatu disebut kenakalan atau nakal apabila tidak sesuai dengan norma / aturan yang berlaku. Sering diantara pendidik membuat keputusan /vonis kepada peserta didik tanpa proses. Contoh kasus anak yang minum-minuman keras, apakah harus kita hukum tanpa penyidikan dan penyelidikan.

Tatkala sudah tahu apakah selamanya kita akan mengatakan mereka “nakal” sementara pendidik tidak melakukan proses pembinaan?

Fakta tersebut terjadi di sebuah satuan pendidikan. Penulis belum melakukan penelitian mendalam namun berasumsi fakta itu sebagai fenomena gunung es. Dugaan kami hampir semua pendidik dan satuan pendidik tidak melakukan proses penyidikan dan penyelidikan serta pembinaan yang komperhensif.

Menurut hemat penulis, anak yang melanggar norma/aturan itu sebuah kewajaran, makanya ada lembaga Pendidikan.
Fungsi Pendidikan salah satunya adalah memproses anak yang memiliki kecenderungan melakukan diluar norma, menjadi anak yang patuh. Yakni perilakunya baik.

Ironisnya, proses mendidik sesuai di atas belum maksimal, namun tidak jarang hukuman sudah dijatuhkan. Ambil contoh yang tadi anak minum-minuman al-kohol, pendidik sejak awal sudah menvonis bahkan “mengancam” tidak akan dinaikkan kelas.

Inilah kelemahan pendidik dan satuan pendidikan di negeri kita. Asumsi saya ini mungkin salah, perlu penelitian lebih lanjut.

Menurut hemat penulis kejadian tersebut diproses dengan tahapan sebagai berikut: pertama, lakukan penyidikan dan penyelidikan.

Kedua, rumuskan perencanaan proses pembinaan dan ketiga, lakukan pembinaan, jika dalam proses pembinaan ada perubahan menjadi lebih baik peserta didik wajib naik. Namun apabila peserta didik tidak menunjukkan perubahan lebih baik, maka wajar tidak dinaikkan kelas. Semoga tulisan ini menjadi pemantik agar pendidik dan satuan pendidikan lebih mengedepankan kasih sayang daripada kebencian.

*Sekretaris Majelis Pendidikan Dikdasmen PDM Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here