Peran EQ Dua Kali Lipat Lebih Banyak ketimbang IQ

0
119
Diah Karmiyati (kiri) dalam Kuliah Ahad Subuh UMM. (Candra/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Kuliah Ahad Shubuh (KAS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar agenda mingguan, Ahad (27/12/2020). Kali ini Dr Hj Diah Karmiyati M.Si didapuk menjadi pemateri. Ia membahas pentingnya kecerdasan emosional untuk meraih kesuksesan.

Diah menyebutkan beberapa inteligensi yang berperan dalam kesuksesan seseorang. Salah satu di antaranya adalah emotional quotient (EQ). Kemampuan yang dimiliki oleh semua manusia dalam mengenali dan mengolah emosinya.

Jika sudah bisa mengelola emosinya, kata dia, seseorang juga cenderung untuk bisa mengenali situasi lingkungan sekitarnya. Hal ini membuatnya lebih peka dan menumbuhkan rasa empati yang tinggi. “Jika sudah muncul rasa tersebut, seseorang akan memiliki motivasi tinggi untuk melakukan yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Dosen yang juga mengkaji psikologi positif ini menyebutkan beberapa ciri orang dengan EQ tinggi. Bisa dilihat dari perilaku dan sikapnya sehari-hari. Bagaimana cara dia mengendalikan diri dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Selain itu, ia lebih mampu memahami, memengaruhi, serta menenangkan orang di sekitarnya. Diah juga mengungkapkan EQ memiliki peran dua kali lipat lebih banyak ketimbang intelligence quotient (IQ).

Lebih lanjut, ia memberikan kunci meningkatkan EQ dalam kehidupan sehari-hari, yakni belajar berinteraksi dengan orang lain. Meski terdengar sepele, nyatanya berkomunikasi dan berinteraksi tidak semudah yang dibayangkan. Ia juga menganjurkan para pemuda dan mahasiswa untuk berkecimpung dalam organisasi atau organisasi. “Komunikasi yang terjalin dalam komunitas itu akan membantu kita mengenali dan mengelola emosi,” jelas mantan wakil rektor III itu.

Dalam materinya, Diah kembali mengingatkan betapa EQ memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan. Ketika seseorang memiliki EQ yang tinggi, komunikasi yang ia lakukan akan menjadi lebih tepat, sehingga mengurangi kesalahpahaman. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan EQ tinggi memiliki hasil kerja yang lebih baik ketimbang yang lain. “Itulah mengapa EQ harus diberikan sejak dini lewat interaksi sosial. Sayangnya, banyak orang tua yang overprotektif sehingga menghambat peningkatan EQ anak-anaknya,” jelasnya.

Terakhir, dosen yang berfokus pada psikologi lansia ini berpesan untuk selalu meningkatkan kemampuan pengelolaan emosi. Terlebih lagi di tengah pandemi yang tak tahu kapan akan berakhir. “Ada dua hal yang perlu ditanamkan dalam diri, pertama adalah menerima, kemudian bersyukur. Jika sudah melakukannya dengan baik, kita tentu bisa lebih siap dalam menghadapi situasi pandemi seperti saat ini,” tandasnya. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here