Pergumulan Shibghah dan Menghidupi Nilai-Nilai Kemuhammadiyahan dalam Masyarakat yang Mandiri

0
203
Dr M. Habib Chirzin

Ini adalah seri pertama dari catatan Dr M. Habib Chirzin tentang bagaimana menjadi Muhammadiyah lintas waktu menuju masyarakat ilmu dan tajdid peradaban.

KLIKMU.CO

Menjadi Muhammadiyah sebenarnya identik dengan proses menjadi manusia yang lebih penuh dan otentik, “ibadurrahaman” dengan shibgah Muhammadiyah. Kemuhammadiyahan sebagai shibghah sekaligus tugas dan panggilan hidup adalah suatu proses menjadi yang tidak pernah selesai.

Ibarat cakrawala, setiap kita melangkahkan kaki lebih maju, kaki langit itu terus meluas dan menjauh, dan juga semakin menebar misteri yang menarik dan menantang. Bermuhammadiyah dan me-Muhammadiyah dengan demikian selalu baru, menarik, dan sekaligus kaya dengan perspektif.

Refleksi kritis terhadap perjalanan panjang menjadi Muhammadiyah, ibarat membaca kembali jejak tapak sepanjang hidup. Karena bagi seorang yang dilahirkan di Kotagede, Yogyakarta, hidup adalah ber-Muhammadiyah, me-Muhammadiyah, dan menjadi Muhammadiyah yang tidak mengenal berhenti. Menjadi Muhammadiyah bersifat eksistensial dan juga fundamental. Dalam proses yang dinamis dan penuh dialektika teologis, sosial, kultural, politik, dan muaranya adalah peradaban.

Karena dalam kesadaran penulis, menjadi Muhammadiyah adalah ibarat menata batu-batu bata peradaban dengan gerakan tajdid, kritik sosial, dan gerakan budaya amar ma’ruf dan nahi munkar yang terus berkelanjutan dan tiada henti.

*****

Pada saat ini di abad ke-2 dari pengabdiannya, Muhammadiyah telah berkembang pesat menjadi masyarakat madani yang mandiri dari negara maupun kekuatan pasar. Pada saat ini Muhammadiyah sudah menjadi global civil society dan bukan sekadar LSM nasional atau organisasi kemasyarakatan pada umumnya. Kehadirannya sebagai “global civil society” dalam aras “global (good) governance” mensyaratkan Muhammadiyah untuk mengembangkan wilayah tajdid dan ijtihad yang menjadi watak “distinctive”-nya, sebagai gerakan Islam, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Tentu saja perkembangan pesat ini melalui proses perubahan masyarakat yang panjang yang penuh dinamika. Barangkali refleksi pribadi menjadi Muhammadiyah ini dapat membantu memahami perubahan sosial dan sebagaian perkembangan persyarikatan yang terjadi.

Penulis yang mengalami menjadi Muhammadiyah di masa Indonesia yang juga sedang menjadi, dengan gerakan besar “nation building” and “character building” oleh Pembesrev (Pemimpin Besar Revolusi) Bung Karno dan masa multipartai. Ketika amal usaha Muhammadiyah belum berkembang seperti saat ini, demikian juga sumber daya manusianya yang masih terbatas. Sangat berbeda dengan keadaan saat ini di mana Muhammadiyah berikut ortomnya, dengan modal sosialnya yang sangat besar yang berupa amal usaha yang tersebar di seluruh tanah air dengan kelembagaan dan anggotanya yang terorganisasi dan berdisiplin organisasi, merupakan kekayaan budaya dan sosial bangsa serta kemanusiaan yang sangat berarti.

Muhammadiyah di usianya yang ke-100 ini merupakan fenomena “global civil society”, yang merupakan pilar sosial dan budaya yang telah teruji oleh berbagai perubahan zaman. Dalam era kesejagatan/al ‘aulamah ini, peran “global civil society” ini diharapkan mampu mentransformasikan hubungan kekuasaan dari model dominasi dari suatu imperium modal dan pasar dalam suatu model partnership masyarakat -to transform the relationships of power from the dominator model of empire to the partnership model of community.

Suatu “global civil society” yang merupakan kebangkitan kesadaran terhadap kemungkinan dan kemampuan untuk menciptakan masyarakat yang benar-benar demokratis yang menghormati kehidupan dan mengakui nilai/harga dan kontribusi dari setiap pribadi warganya- an awakening consciousness of the possibility of creating truly democratic societies that honor life and recognize the worth and contribution of every person. Di mana Muhammadiyah dengan kelembagaan dan amal usahanya yang tersebar luas, telah menjadi suatu komplek dari jejaring aliansi masyarakat yang mempunyai komitmen untuk menciptakan masyarakat yang adil, lestari dan saling “menggembirakan” antar sesamanya -the complex web of alliances committed to creating a just, sustainable, and compassionate world- (David Korten, Nicanor Perlas dan Vandana Shiva, dalam Global Civil Society : the Path Ahead, 2007).

*****

Muhammadiyah dengan organisasi-organisasi otonomnya telah berhasil menciptakan ruang bagi kekuatan-kekuatan masyarakat, sebagai perwujudan dari organisme sosial baru yang merupakan kebangkitan budaya planeter (planetary culture) yang otentik (murni), lewat roh tajdid yang disemaikannya. Sebagai sebuah fenomena gerakan sosial baru (new social movement) yang merupakan gerakan yang melakukan pemberdayaan masyarakat yang bersifat multisektoral. Dengan semangat tajdid dan kembali kepada  ajaran tauhid, terjadilah suatu pemberdayaan teologis dan kultural dengan memerdekakan dari hierarki keagamaan, struktur perantara antara manusia dengan Tuhan, hambatan sosial, budaya dan tradisi yang mendominasi. Pembaruan Muhammadiyah yang berorientasi pemberdayaan masyarakat ini merupakan panggilan baru di era globalisasi ketidakadilan, konsumerisme tinggi, dan rezim hutang internasional pada saat ini, sesuai dengan Kepribadian Muhammadiyah.

Panggilan baru yang dihadapi oleh Muhammadiyah memasuki abad yang kedua, yang memerlukan kearifan sebagaimana yang diteladankan oleh para pendiri dan pemimpin pendahulunya. Refleksi kecil penulis tentang proses panjang yang kadang-kadang tidak terbayangkan dalam kenteks sekarang, mungkin ada manfaatnya untuk memacu kinerja dalam tajdid peradaban untuk masa depan bersama (for our common future). Sebagai gerakan tajdid dan amar ma’ruf nahi munkar.

Proses panjang menjadi Muhammadiyah penulis dimulai sejak masa kanak-kanak , sebelum masuk SD (waktu itu belum ada TK), sekitar tahun 1954, dengan sering mengikuti Ibu yang waktu itu menjadi pimpinan Nasyiatul Aisyiyah, Cabang Kotagede. Sehingga penulis telah fasih melantunkan lagu “Nasyiah yang Bersimbul Padi” di usia dini. Dan juga akrab dengan berbagai kegiatan NA pada masa itu, seperti “TS” (Thalabus Sa’adah), “DB’ (Dirasatul Banat) dll, yang sering disebut dengan kegiatan “Jemuah Esuk”, atau kumpulan setiap hari Jumat pagi di Mushalla Aisyiyah Kotagede, yang didirikan sekitar tahun 1925. Boleh dikatakan saya ini adalah “anaknya NA”. Pada saat yang sama sebagai anak alumni “Muallimat Muhammadiyah”. Karena Ibu saya menjadi murid Muallimat, Suronatan, yang langsung diajar oleh KHR Hadjid dll, sedangkan Kyai Badawi, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, merupakan “guru termuda”. Ibu menjadi ketua NA Cabang Kotagede, pada tahun 1942, menggantikan Bu Sa’adah Rasyidi, istri Prof. Dr HM Rasyidi, menteri Agama RI yang pertama. Sedangkan Muhammad Rasyidi, BA, yang nama aslinya Saridi, pernah menjadi Sekretaris Cabang Muhammadiyah Kotagede, ketika ketuanya diamanahkan kepada H Anwar Rofii, kakek saya; sebelum masa kemerdekaan RI.

Nilai-nilai Kemuhammadiyahan mulai tertanam dan tumbuh sejak sebelum saya masuk SD. Ketertarikan kepada kepanduan HW (Hizbul Wathan), karena setiap hari Kamis melihat Paman-paman saya, Bashori Anwar (ayah adik Khoiruddin Bashori), kakak-kakak misan saya Wardani Umar dll memakai seragam HW yang rapih dan bagus, berlatih di “ladang”. Ketika menjadi anggota “Athfal” HW, saya masih dengan memakai “katok kodok” (celana katak) dan belum memakai seragam HW, celana biru dengan baju cokelat.

Janji HW sangat merseap dan melekat di hati saya, antara lain: “HW itu dapat dipercaya”, “HW itu setia”, “HW itu sopan dan perwira”, “HW itu suci dalam perkataaan dan perbuatan” itu saya sampai saat ini. Dan kalimat “HW itu setiap hari berbuat kebajikan” selalu saya pegang. Sehingga, sebagai HW kecil, selalu berusaha setiap hari berbuat kebajikan. Seperti menolong anak ayam yang tercebur kalen. Atau memindah pohon tomat yang layu di pinggir jalan. Termasuk memarahi tukang gerobak atau andong yang memukuli sapi atau kudanya.

Beruntung saya sekolah di SD Muhammadiyah Bodon, Kotagede, yang dianggap pada masa itu sebagai sekolah unggulan. Guru-gurunya para tokoh masyarakat dan pemimpin partai serta pengusaha. Membayarnya juga lebih mahal dari sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya. Maka anaknya para pengusaha perak, kemasan, batik dan tokoh-tokoh masyarakat menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah Bodon. Anak-anaknya orang Muhammadiyah, orang orang Islam pada umumnya, nasionalis, sosialis dan komunis. Pergaulan di SD dengan berbagai lapisan dan ideologi kemasyarakatan dan politik. Masa kecil dalam berbagaian dan kebhinekaan.

Komunitas Muhammadiyah Kotagede merupakan komunitas yang mandiri. Anak-anak lahir di PKU Muhammadiyah, sekolah PAUD dan TK ‘Aisyiyah, sekolah di SD, SMP dan SMU/SMK Muhammadiyah, melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah, STIKES, STIE Muhammadiyah. Bekerja di BKIA/PKU/, BMT, atau mengajar di TK dan sekolah-sekolah Muhammadiyah atau Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan seterusnya. Dan itu merupakan ciri utama dari masyarakat madani yang mandiri. (bersambung/Achmad San)

Dr M. Habib Chirzin merupakan aktivis Muhammadiyah yang kini menjadi anggota International Advisory Board, Forum on Global Ethic and Religions, California, Amerika Serikat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here