Peringati Hari Gizi Nasional, UMSurabaya Gelar Diskusi Pentingnya Gender dan Nutrisi

0
125

KLIKMU.CO – Pusat Kajian Wanita (PKW) dan Komunitas Wanita Muda UMSurabaya menyelenggarakan diskusi tentang gender dan nutrisi pada Selasa, 29 Januari 2019. Diskusi itu diikuti oleh karyawan dan dosen se-UMSurabaya.

Ketua penyelenggara Arin Setiyowati menyampaikan bahwa diskusi itu dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional pada 25 Januari 2019. ”Selain itu, diskusi ini juga diselenggarakan untuk menyadarkan masyarakat agar peduli pada permasalahan kekurangan nutrisi kepada ibu dan anak,” ujar Arin.

Diskusi itu menghadirkan dua pemateri dengan spesialisasi pemerhati gizi. Keduanya adalah Meirna Dewita Sari, S.KM., M.Kes dan Tri Kurniawati, S.Gz., M.Kes.

Kepala Unit PKW UMSurabaya Siti Salbiyah, SE., M.Kes juga turut hadir dalam dialog yang digelar di UMSurabaya, Jalan Raya Sutorejo No 59, tersebut. Menurut Siti, diskusi itu menjadi langkah awal PKW dan Komunitas Wanita Muda Muhammadiyah bersinergi dalam membahas isu perempuan dan anak.

Dalam kesempatan itu, Siti Salbiyah juga memaparkan komitmen PKW untuk mengedukasi masyarakat. ”Saya rasa PKW dan Komunitas Wanita Muda Muhammadiyah ini perlu melakukan tindakan edukasi kepada masyarakat dan membuat semacam masyarakat binaan,’’ katanya.

Dia menjelaskan juga tentang pentingnya mengedukasi anak-anak di sekolah. ’’Kalau perlu, kita dorong sekolah-sekolah untuk memasukkan pengetahuan tentang nutrisi seimbang dalam kurikulumnya,” tambahnya.

Sementara itu, pemateri Meirna Dewita Sari, S.KM., M.Kes menyampaikan pentingnya memperhatikan pemenuhan nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan. ’’Pada 1.000 hari pertama, wajib bagi bayi usia 0–2 tahun terpenuhi gizinya,” tuturnya.

Untuk itu, gizi wanita hamil perlu terpenuhi. Bahkan, menurut dia, wanita remaja tidak boleh kekurangan gizi. ”Wanita remaja yang mengalami kekurangan gizi akan memengaruhi kualitas kehamilannya,” jelasnya.

Selain membahas gizi apa saja yang perlu dipenuhi untuk ibu dan anak, Meirna menuturkan bahwa perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap komposisi tubuh yang diperlukan. Perbedaan itu mengakibatkan pemenuhan gizi yang berbeda di antara keduanya. ”Perbedaan komposisi tubuh antara laki-laki dan wanita menyebabkan laki-laki membutuhkan energi lebih banyak daripada wanita,” terangnya. ”Tapi, hal ini tentu tidak boleh dijadikan alasan bahwa wanita tidak dicukupi nutrisinya,” tegasnya.

Meirna menambahkan, akar masalah kekurangan nutrisi tidak hanya disebabkan faktor ekonomi, namun juga sosial-budaya masyarakat. ”Cara pandang masyarakat kita terhadap makanan atau food value menjadi salah satu akar permasalahan kekurangan gizi,” jelasnya.

Dia mencontohkan food value. Ada masyarakat Indonesia bagian timur yang memandang bahwa daging merupakan makanan yang mulia bila diberikan kepada laki-laki.

Tri Kurniawati, S.Gz., M.Kes., pemateri kedua dalam diskusi itu, menambahkan, akar permasalahan kekurangan gizi juga terkait dengan pandangan biner masyarakat terhadap wanita. ”Misalnya, di suatu daerah, wanita melahirkan dianggap kotor sehingga harus diasingkan,” tuturnya. Kepercayaan itu, lanjut dia, akan membuat si ibu dan bayi yang baru lahir mengalami kekurangan nutrisi.

Tri lantas mengajak para peserta melakukan aksi edukasi kepada masyarakat yang masih menerapkan kepercayaan tersebut. ”Mencetak generasi unggul tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab wanita sehingga edukasi seperti ini penting juga untuk diberikan kepada laki-laki,” paparnya. (Tari/Oak/San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here