Perjuangan Literasi Zulyamin Kimo: Dari Malang, Kalimantan, Kini Berlabuh di Raja Ampat

0
89
Zulyamin Kimo bersama murid-murid di Raja Ampat, Papua. (ade/klikmu.co)

KLIKMU.CO – Semangat cinta tanah air yang ada pada diri generasi muda bangsa harus terus digelorakan. Ketika banyak orang yang menyorot kehidupan hedonis pada generasi muda, cerita inspirastif Zulyamin Kimo, alumni Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM), menjadi kabar baik.

Kimo atau Kim, begitu ia akrab dipanggil, adalah salah satu bukti bahwa proses pendidikan yang baik akan menghasilkan banyak alumni berkualitas. Ia adalah salah satu bukti bahwa masih banyak generasi muda kita yang rela meninggalkan kemapanan dan kenyamanan kota untuk mewujudkan baktinya kepada Sang Merah Putih.

Zulyamin Kimo lahir di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Sebagai anak pulau, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan tantangan dan petualangan. Saat banyak orang yang takut melihat laut dan ombak, sejak kecil Kimo sudah pandai berenang. Ia begitu mencintai laut, pantai, alam, dan masyarakat pesisir. Bahkan, aktivitas snorkeling bisa berjam-jam ia lakukan. Tak heran bila novel-novel karya Andrea Hirata menjadi bacaan favoritnya, sebab banyak mengangkat isu-isu pendidikan dan daerah-daerah terpencil dengan kebersahajaannya di dalam setiap bukunya.

“Berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang adalah sejarah hidup yang sangat luar biasa bagi saya. Pilihan yang benar-benar tepat, sehingga mewarnai pola pikir, semangat, dan perjuangan saya hingga hari ini. Pada saat Yudisium FKIP-UMM, saya mendapatkan penghargaan Mahasiswa Berprestasi di bidang kepemudaan dan kepemimpinan (Non-IPK). Ini luar biasa menurut saya. Saya bertekad untuk terus mewujudkan dan mengabdikan diri untuk masyarakat,” ujar pria kelahiran 1 Maret 1995 ini.

“Setelah lulus dari Pendidikan Biologi FKIP-UMM pada Februari 2017, sebulan setelahnya, saya lolos seleksi nasional beasiswa Teaching Clinic yang diadakan oleh Global English,” katanya.

Awal tahun 2018 setelah melewati berbagai rangkaian seleksi program Indonesia Mengajar, Kim dinyatalan lolos bersama 32 pengajar muda lainnya. “Kami harus bersaing dengan 6.500 pendaftar lainnya,” tegas pria yang pernah mengabdi menjadi fasilitator pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, ini.

Ia menceritakan, sebelum diberangkatkan ke daerah penugasan masing-masing, mereka dikarantina selama hampir dua bulan untuk pembekalan. Pembekalan meliputi proses pelatihan pedagogi, pelibatan masyarakat, pendekatan ke pemangku kebijakan di dunia Pendidikan, dan pengenalan daerah.

Kim ditugaskan sebagai guru SD di SDN Baru dan fasilitator pendidikan di pedalaman Kalimantan selama setahun. Masyarakat di daerah penugasannya mayoritas berasal dari suku Banjar yang hidup di bantaran Sungai Nagara.

Hal menarik selama penugasan yang Kim rasakan adalah belajar bahasa daerah. Di tempat penugasannya, hampir seluruh masyarakat menggunakan bahasa Banjar, baik untuk komunikasi dan belajar-mengajar di sekolah. “Mau tidak mau, saya harus bisa beradaptasi. Dalam waktu kurang lebih 3 bulan, saya sudah bisa belajar bahasa daerah. Walau belum terlalu fasih. Ini cukup membantu untuk proses belajar-mengajar di dalam kelas,” ungkapnya.

Tinggal di desa yang kaya akan potensi alamnya sangat memungkinkan untuk belajar dari alam. Tidak jarang, Kim selalu membawa murid-muridnya keluar kelas (outdoor learning). Apalagi saat ini pembelajaran tematik sangat bisa diterapkan.

“Selain itu, ketika menjadi fasilitator dalam kegiatan-kegiatan pelatihan guru-guru di tingkat kecamatan bahkan kabupaten dan kegiatan kerelawanan di sekolah-sekolah SD, seringnya juga menggunakan berbagai media belajar dan metode pembelajaran kreatif. Tentu ini tidak terlepas dari pengalaman selama kuliah dulu,” imbuh mantan Asisten Laboratorium Biologi UMM tersebut.

Bulan Juli 2019 hingga saat ini, Zulyamin Kimo bekerja sebagai Fasilitator atau Project Coordinator di Taman Bacaan Pelangi (TBP), sebuah yayasan pendidikan/literasi yang telah berdiri sejak 2009, yang fokus pada peningkatan minat baca anak-anak di wilayah Indonesia Timur.

Hingga saat ini, Yayasan Taman Bacaan Pelangi telah bekerja sama dengan 131 sekolah mitra yang tersebar di 18 pulau di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sebagai fasilitator atau project coordinator, Kim bertugas untuk mengelola pelatihan guru-guru dalam kegiatan literasi melalui pengelolan perpustakaan sekolah, pendampingan pembelajaran kontekstual di daerah Indonesia Timur, dan pendampingan pelatihan kegiatan membaca bersama komunitas-komunitas Taman Baca Masyarakat di daerah TBP, serta melakukan dukungan dan evaluasi (support monitoring) untuk sekolah-sekolah yang telah selesai program.

“Dalam setahun ini, saya telah berkesempatan belajar bersama guru-guru dan juga masyarakat di Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Alor, Pulau Timor, Pulau Banda,” tutur fasilitator yang sejak Desember 2019 ditugaskan untuk pendampingan sekolah-sekolah di Pulau Raja Ampat dan Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Kim menegaskan, bangsa ini membutuhkan pejuang-pejuang literasi yang tangguh, terlebih daerah-daerah Indonesia Timur. Anak-anak muda, fresh graduate, dan para sarjana harus berkontribusi untuk mencerahkan masyarakat. “Bangsa ini membutuhkan kita untuk menyukseskan gerakan literasi hingga ke semua penjuru negeri,” pungkas pemuda yang mengaku terinspirasi dari Mars Muhammadiyah “Sang Surya” ini. (ade/achmad san)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here