Perlakukan Sama Seluruh Kader dengan Penuh Kasih Sayang

0
255
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Kader yang menduduki top level di amal usaha Muhammadiyah tak lebih mulia atau sebaliknya dengan kader yang menduduki jabatan di pemerintahan atau struktural lainnya. Sebab, keduanya sama-sama dibayar dan diupah. Yang satu diupah dengan uang negara, yang satu diupah dengan uang persyarikatan. Jadi, jangan saling menafikan.

***

Seorang sahabat dari kampung yang sangat jauh berkunjung ke ndalem Rasulullah saw, kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, hukumlah aku karena aku telah berdosa. Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu tadi wudu bersamaku, shalat dan berdoa bersamaku? Ya, wahai Rasulullah, jawabnya. Kemudian Rasulullah saw berkata: Jadi kenapa aku harus menghukummu.”

Bagi khawarij, orang Islam yang melakukan dosa besar jatuh pada kafir. Semua amalnya ditolak. Termasuk shalat, puasa, zakat, dan hajinya. Syahadatnya juga batal, sebab itu ia menjadi murtad. Dan halal darahnya. Dan hukum bagi orang murtad adalah dibunuh. Dan masuk neraka selamanya.

Sayidina Ali ra salah satunya, yang dikafirkan karena menerima tahkim. Dihalalkan darahnya, kemudian dibunuh. Khawarij menganggap urusan politik bagian dari iman. Maka siapa pun yang tidak separtai dihukumi sesat, kafir, dan murtad dari agama.

Berbeda dengan Khawarij. Ahlusunnah berpendapat sebaliknya. Ahlussunnah tidak berpendapat bahwa pelaku dosa besar itu telah hilang iman, sebagaimana Khawarij dan Mu’tazilah. Ahlussunnah juga tidak mengatakan bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar tetap sempurna imannya, sebagaimana kaum Murji’ah.

Perspektif ahlusunnah cukup ramah dan tetap memberi peluang adanya pintu taubat. Ahlussunnah berpandangan bahwa orang yang meninggal dengan membawa dosa besar dan dia belum bertobat, maka urusannya dikembalikan kepada Allah swt apakah diampuni atau diazab.

***

Keragaman warga persyarikatan adalah niscaya. Beda pilihan politik itu hal lumrah dan sama sekali tak ada kaitannya dengan iman sebagaimana kaum khawarij menautkannya. Bahwa ada pandangan ekstrem hanya yang melawan rezim yang benar dan yang mendukung rezim adalah kafir dan berdosa dan harus bertobat adalah sesat pikir yang nyata.

Bermuhammadiyah itu urusan sosial, sukarela jangan dipaksa-paksa, tempat berkhidmah, berderma dengan pikiran, urunan tenaga dan uang. Bahwa kemudian ada yang dibayar atau menduduki jabatan tertentu itu bonus. Tidak patut di-bully begini dan begitu. Setiap kader punya hak dan privasi yang harus dihargai dan dihormati tanpa intimidasi dengan alasan apa pun.

Kader yang aktif di setiap level pemerintahan, di berbagai partai politik selain PAN dan Partai Umat itu, bukan tersesat, apalagi dihukumi kafir yang diwajibkan tobat. Pandangan bahwa hanya yang melawan rezim atau berada di luar struktural pemerintah adalah sikap yang paling benar justru adalah sikap sesat yang nyata karena berlawanan dengan cita-cita luhur persyarikatan.

Maka, setiap kader harus diperlakukan dengan kasih sayang yang adil, bukan caci maki atau sumpah serapah. Sebab, setiap kader pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kader yang aktif di persyarikatan dan yang aktif di luar persyarikatan yang menduduki jabatan di pemerintahan atau swasta lainnya berhak mendapat perlakuan sama tanpa diskriminasi, apalagi intimidasi dan teror ideologis. Semuanya patut didukung, didoakan, dan berhak masuk surga sesuai amal perbuatan tanpa kata tapi. (*)

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here