Perspektif Haidir #12: Simbol Kematian di Pinggir Jalan Canberra

0
243

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan,

Menempuh studi di Australia

KLIKMU.CO

Kemarin kami sekeluarga mengikuti darmawisata bersama keluarga besar penghuni asrama mahasiswa, Graduate House, University of Wollongong, ke Floriade, Canberra, ibu kota Australia. Jarak dari tempat kami ke Canberra sekitar 250 km yang ditempuh selama tiga setengah jam naik bus, setelah satu kali istirahat di perjalanan selama lima belas menit. Selain kami, ada tiga keluarga Indonesia lainnya yang ikut dalam rombongan ini. Selebihnya adalah mahasiswa internasional lain bersama keluarganya. Kebanyakan saudara-saudara muslim dari Timur Tengah dan Afrika Utara.

Acara seperti ini sebenarnya sudah rutin diadakan oleh pihak Graduate House. Mereka membiayai semua acara, menyewa dua unit bus dan menyiapkan beberapa panitia pendamping. Bulan lalu kami diajak untuk acara yang sama melihat-lihat salju di Snowy Mountain, Cooma, lebih ke selatan lagi dari Canberra. Ini semacam CSR (corperate social responsibility) atau tanggung jawab sosial mereka bagi penghuni asrama. Tanggung jawab sosial suatu perusahaan merupakan salah satu konsep bahwa organisasi atau satu instansi memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh penggunanya, yang antara lain mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Untuk mengikuti darmawisata ini, harus terlebih dahulu mendaftar secara online. Pengumuman pun dibuat secara online. Semua serba-online, walaupun kantor mereka masih dekat, satu kompleks dengan asrama.

Berangkat dari depan asrama pukul 8 pagi dan tiba di Floriade sekitar pukul 11 siang. Kami diturunkan persis di depan pintu masuk kawasan festival bunga-bunga tanaman musim semi. Ini adalah hari terakhir festival yang berlangsung selama satu bulan sejak pertengahan September lalu. Tak lupa panitia menyampaikan bahwa acara di sini bebas, artinya setiap keluarga boleh pergi kemana saja. Yang penting tiba kembali ke bus sebelum pukul 3 sore. Kami masuk ke dalam lokasi festival bunga yang penuh warna-warni. Lokasi festival ini dikelilingi pagar besi semipermanen. Walaupun ada pintu gerbang dan penjagaan, masuk ke dalam arena festival adalah secara percuma, tidak membayar. Padahal ini konsepnya festival bunga berskala internasional yang diadakan pemerintah Australia sekali dalam setahun.

Kami pun masuk ke dalam dan mengambil foto keluarga di beberapa sudut dengan latar belakang bunga beraneka warna. Beberapa kali kami bertemu dengan orang Indonesia yang sengaja datang khusus untuk menikmati pesta ini. Bertemu dengan sesama warga negara Indonesia di negara orang meski berbeda etnis dan latar belakang ideologi tentu memiliki nuansa tersendiri. Lupakan segala urusan politik dan segala dinamikanya. Yang diingat adalah kesamaan sesama warga Indonesia dan kerinduan kepada tanah air. Ada tawa dan canda mengiringi pertemuan. Di antara ribuan pengunjung, saya pun bertemu dengan pengunjung dari Sudan dan Afghanistan. Seorang bapak dari Sudan bernama Anwar meminta tolong kepada saya untuk mengambil gambarnya dengan latar belakang bunga. Pak Anwar ini datang seorang diri ke festival ini. Saya tak sempat bertanya apakah dia di Australia berstatus mahasiswa, pekerja, atau pengungsi. Kemudian saya bertemu dengan satu keluarga dari Afghanistan. Dia datang bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Sama seperti Anwar, dia juga minta tolong kepada saya untuk mengambil gambar mereka sekeluarga. Mengapa mereka minta tolongnya ke saya? Mungkin mereka menganggap saya sebagai saudaranya, karena saya memakai peci hitam. Mereka tahu saya dari Indonesia atau Malaysia, dan dipandang lebih mudah dimintai tolong dibanding pengunjung lain.

Satu hal yang membuat saya agak terasa lain dalam acara festival ini adalah pengunjung yang datang mencapai puluhan ribu orang. Karena ini adalah hari terakhir, diberi kesempatan kepada pengunjung untuk membawa hewan peliharaannya. Jadi boleh dikatakan, selain manusia yang menyemut di lokasi festival, ada juga hewan peliharaan yang jumlahnya bisa mencapai sepertiga dari jumlah yang hadir. Beberapa warga lokal datang dengan dua bahkan tiga ekor hewan peliharaannya. Diikat dengan tali yang panjangnya satu hingga dua meter. Melalui pengeras suara, pihak pelaksanana mengingatkan agar masing-masing orang menjaga hewan peliharaannya jangan sampai mengganggu pengunjung lainnya. Hewan-hewan ini memang lucu dan manis. Ada yang besar, sebesar kambing. Ada pula yang kecil mirip kuncing atau kelinci.

Saya ingatkan kepada anak-anak dan keluarga agar hati-hati, jangan sampai mendekati hewan ini. Jika tanpa sengaja bersentuhan atau terjilat, tentu masalahnya tidak akan sederhana. Sebab kita akan melaksanakan salat duhur nanti. Untung sekali, walaupun sempat berdesak-desakan dengan hewan-hewan tersebut, tak sampai bersentuhan secara langsung. Sehingga pakaian masih suci bisa dipakai salat. Untuk melaksanakan salat, dilaksanakan di atas bus saja. Sebab di sini adalah negara sekuler, tidak menyiapkan tempat salat. Urusan salat dianggap sebagai urusan individu saja, negara tidak mencampuri dan tidak melarangnya sepanjang tidak mengganggu orang lain.

Pukul 3 sore, semua peserta darmawisata sudah berkumpul kembali di depan pintu gerbang. Dua unit bus yang membawa kami sudah datang. Perjalanan pulang dari Canberra ke Wollongong akan menempuh waktu tiga jam lebih. Dalam perjalanan saya mendapati beberapa simbol komunikasi yang terbuat dari papan atau plastik. Simbol komunikasi ini menarik perhatian saya. Ditanam persis di pinggir jalan di beberapa tempat sepanjang perjalanan Canberra – Wollongong. Ada pula yang diselipkan karangan bunga dengan ukuran kecil. Tanda ini mirip dengan lokasi pekuburan saudara-saudara kita kaum nasrani di kampung halaman saya, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Apakah guna tanda salib tersebut dipampangkan di pinggir jalan? Apakah itu sebuah kuburan? Ternyata bukan. Ini bukan kuburan. Ini adalah tanda-tanda yang sengaja ditanam oleh warga yang memiliki anggota keluarga yang meninggal dunia di sekitar lokasi tersebut. Utamanya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Oleh pihak keluarga sengaja menanam tanda salib di sekitarnya. Untuk mengenang dan mengingatkan bahwa ada keluarganya yang meninggal dunia di situ akibat kecelakaan lalu lintas. Sengaja dibuat oleh pihak keluarga, agar mengingatkan kepada siapa saja bahwa akan adanya kematian. Bahwa suatu saat kita juga akan mengalami hal yang sama.

Menanam simbol komunikasi yang demikian ini sudah menjadi semacam kebiasaan warga lokal di sini. Ini adalah di antara upaya mereka menasihati untuk orang lain yang masih hidup agar lebih hati-hati dalam berkendaraan. Jangan sampai mengalami kecelakaan yang sama. Beginilah salah cara mereka untuk mengingatkan adanya kematian.

Walaupun sebagian besar warga Australia itu sekuler, semuanya tetap percaya bahwa pada saatnya mereka akan mengalami satu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kematian!

Gwynenville, NSW, Australia, 14.10.19 qabla Duhur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here