Perspektif Haidir #16: Sweater dan T-Shirt untuk Ibu Mertua

0
166
Sweater yang dikenakan ibu penulis dari Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Sepulang dari Masjid MAWU UoW Rabu siang lalu (13/11), dua kali panggilan tak terjawab masuk ke nomor WA saya. Saya tak sempat angkat karena masih ikut shalat Duhur berjamaah. Panggilan itu datang dari nomor abang saya, di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Waktu untuk melaksanakan shalat Duhur di sini hampir pukul 1 siang. Perbedaan waktu antara Wollongong dan Sipirok saat ini adalah empat jam. Berarti di sana baru sekitar pukul 9 pagi.

Begitu melihat panggilan yang tak terjawab itu, saya langsung telepon balik. Rupanya ibuku yang menerima. Saat menerima teleponku, suaranya begitu bahagia. Riang dan ceria. “Malalu kiriman ni parumaen i Amang, tarimokasih bahat da”, katanya dalam bahasa Batak Sipirok.

Malam sebelumnya, adikku di Makassar mengabarkan kepada ibuku agar datang ke kantor pos Sipirok. Mengambil paket kiriman dari Bandung. Sesampai di kantor pos, ibuku sempat kecewa karena tidak ada kiriman untuknya. Lalu, dia memberi tahu abangku agar mengurus di kantor pos.

Ternyata memang ada perbedaan nama ibuku dengan nama yang tertera dalam sampul paket. Agak jauh memang bedanya. Sehingga pihak kantor pos tidak langsung memberikannya. Nanti setelah ada negosiasi, baru pihak kantor pos yakin bahwa kiriman itu memang adalah untuk ibuku.

Paket yang dikirim itu adalah sweater dan t-shirt yang dibelikan nyonyaku alias menantunya ibuku. Baju hangat itu sudah lama dia minta. Setiap menelepon, itu selalu diingatkan. Akhirnya kami sampai ke Sydney mencari dan menemukan barang yang cocok. Apakah muat atau tidak, kami tak yakin. Syukur setelah sampai kepada ibuku, bajunya cocok untuk dia.

Sebenarnya mengirim barang dari Australia ke Indonesia agak mahal. Bisa jauh lebih mahal biaya kirim daripada harga barang. Karena selain ongkos kirim, juga harus membayar pajak ke pemerintah dua negara. Untunglah ada teman yang pulang ke Bandung. Saya minta tolong kepadanya agar membawa baju itu ke Indonesia. Dia bersedia dengan gembira karena kebetulan kopernya masih banyak kosong.

Dari Bandung, kiriman kami dipaketkan ke Sipirok lewat jasa pos. Dikirim Selasa minggu lalu dan baru tiba Rabu. Saya sangat berterima kasih kepada teman ini atas budi baiknya membantu kami.

Menerima kiriman baju itu bagi ibuku tentu sangat menyenangkan hati. Katanya dia akan pakai ke pengajian Aisyiyah Sipirok atau shalat Subuh di Masjid Taqwa. Tentu tidak hanya karena bajunya yang cantik sehingga ibuku merasa senang. Lebih dari itu adalah merasa bersyukurnya punya menantu yang memberi perhatian kepadanya. Ayo para menantu, kirimlah sesuatu kepada mertuanya. 😊

Wassalam
Gwynneville
Rabu, 13/11/19 qabla Ashar

Penulis adalah aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, saat ini tinggal di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here