Perspektif Haidir #18: Gaun Aisyiyah untuk Saling Menggembirakan

0
351
Nurhira Abdul Kadir menjalani Research Proposal Review/RPR di School of Health and Society, the University of Wollongong. (Haidir/KLIKMU.CO)

Oleh: Haidir Fitra Siagian (*)

KLIKMU.CO

Tepat satu minggu yang lalu, Rabu, 27 November 2019, ibunya anak-anak, Nurhira Abdul Kadir, menjalani Research Proposal Review/RPR, yaitu seminar proposal penelitian disertasinya pada School of Health and Society, the University of Wollongong, dalam bidang kesehatan masyarakat di Building 67 UoW Main Campus, Wollongong. Kampus ini berjarak sekitar 95 km dari pusat Kota Sydney, New South Wales, Australia.

Dia mengambil judul penelitian “Medical educators’ attitudes, beliefs, and practices of public health teaching in Indonesian medical schools after the implementation of the Dokter Layanan Primer education program”. Dia akan meneliti tentang bagaimana seluk beluk dan perkembangan program pendidikan kesehatan masyarakat yang diajarkan oleh para dosen fakultas kedokteran di berbagai universitas di Indonesia. Kami tentu sangat bersyukur karena setelah mempersiapkan proposal satu tahun, dia dapat lalui seminar dengan nilai yang sangat menggembirakan, yakni high quality.

Di universitas luar negeri, seminar proposal disertasi harus dilaksanakan dengan serius, bukan sekadar seremonial belaka. Justru sangat penting dan menegangkan. Penting karena tahapan ini adalah ujian apakah penelitian yang diajukan oleh seseorang layak diajukan diluluskan penelitian tingkat S-3, atau harus turun tingkat dan dikategorikan hanya setingkat S-2, atau tidak layak sama sekali dan tidak dapat melanjutkan pendidikan S-3-nya. Jika mahasiswa lulus seminar proposal, dia berhak menyandang gelar “kandidat PhD”. Dikatakan menegangkan karena tidak semua mahasiswa dapat melaluinya dengan baik, bahkan ada yang tidak berhasil.

Seseorang dapat gagal dalam seminar proposal disertasi karena berdasarkan hasil penilaian tim penguji, dia tidak memiliki kualifikasi akademik sebagai mahasiswa program doktor. Tentu ini berdasarkan penilaian yang objektif sesuai dengan proposal yang disajikan. Saya ingat ketika mengambil sekolah di Malaysia, seorang mahasiswa internasional gagal dalam ujian proposal karena ketahuan bahwa sebagian besar proposalnya adalah plagiasi. Ada juga yang gagal karena lain yang ditanya oleh penguji, lain pula yang dia jawab, padahal saat presentasi, pembawaannya cukup meyakinkan.

Alhamdulillah, kelulusannya dalam seminar tersebut tentu bukan semata karena ilmunya. Kami yakin itu adalah hidayah dan rahmat Allah SWT. Pun tidak lepas dari kedua orang tua kami, baik yang ada di Somba, Sulawesi Barat, maupun di Sipirok, Sumatera Utara. Juga saudara-saudara, famili-handai tolan, sahabat sahabat, serta kerabat.

Ada yang cukup berbeda pada saat dia membawakan presentasi proposalnya. Di hadapan dua orang penguji, dua orang pembimbing, satu orang panitia mewakili universitas dan mahasiswa baik lokal atau internasional dari berbagai negara, ibu tiga anak ini memakai baju yang tidak biasa. Gaun berwarna hijau dengan kaligrafi yang dipadukan warna kuning dan hitam. Ini adalah pakaian resmi Aisyiyah, organisasi perempuan yang berada dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Bagi kami pemakaian gaun itu sebenarnya tidak bermaksud apa-apa. Sebab di sini, soal pakaian tidak menjadi aturan universitas. Yang penting sopan menurut ukuran masing-masing. Bahkan orang di sini banyak yang berpakaian, yang dalam ukuran orang Indonesia, kategori kurang pantas, meski dalam forum yang resmi.

Di sini tidak. Pokoknya berpakaianlah sesuai dengan keinginan masing-masing. Yang penting tidak mengganggu orang lain, itu saja ukurannya. Bagi ibunya anak-anak, seminar proposal adalah salah satu momen yang amat istimewa sehingga pakaian yang dipakai pun haruslah yang istimewa.

Menurutnya, pada saat ini, pakaiannya yang paling istimewa adalah seragam Aisyiyah. Pakaian Aisyiyah mewakili rasa terima kasih kepada demikian banyak pihak yang telah berjasa mendidiknya, ayah, ibu, mertua, saudara, dan teman-teman serta organisasi yang memberi ruang bakti kepada masyarakat. Semua diharapkannya hadir dalam satu momen istimewa, salah satu momen penentu ‘hidup-mati’ dalam pendidikan doktoral. Jadilah dia menghadiri seminar itu dengan tampil percaya diri dan berhasil meyakinkan para panelis.

Nyonyaku adalah dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Alauddin yang sedang tugas belajar di sini. Ketika masih di Makassar, Sulawesi Selatan, dia adalah salah seorang anggota bagian advokasi Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Prof Aisyah Kara PhD.

Sebenarnya selama hampir dua tahun menjadi pengurus, tahun 2006-2008, sebelum berangkat sekolah ke sini, dia tidaklah terlalu aktif. Hanya beberapa kali ikut rapat, pengajian dan menghadiri acara mewakili organisasi. Sejak kecil dia sudah mendapat pendidikan tentang Muhammadiyah dari ayahnya. Bahkan ibunya pernah menjadi pengurus Aisyiyah di Somba Majene puluhan tahun lalu. Ibu mertuanya (ibu saya) juga adalah aktivis Asyiyah di Sipirok. Dua orang kakak iparnya juga aktif Aisyiyah di Sipirok. Lengkaplah sudah bahwa dia merasa bagian yang tidak terpisahkan dari Aisyiyah.

Setelah selesai seminar, saya mencoba menyampaikan berita gembira ini kepada teman-teman melalui laman media sosial. Saya sudah berusaha menulis kalimat yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Ternyata sebagian besar tanggapan teman-teman bukanlah terhadap selesainya dia membawakan presentase proposal, justru mereka lebih antusias menanggapi gaun yang dipakai.

Tentu sebagai sahabat, mereka senang dengan lulusnya dalam ujian proposal ini, tetapi lebih lengkap lagi kegembiraan itu karena ibunya anak-anak dalam ujiannya menggunakan pakaian Aiysiyah. Pakaian yang menurut mereka, sesuatu yang tidak biasa. Pakaian yang menjadi identitas organisasi. Pakaian yang menjadi kebanggaan setiap kader Aisyiyah. Pakaian yang menjadi bukti peneguhan hati seorang perempuan yang berdakwah dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Nurhira Abdul Kadir setelah presentasi.

Pada kesempatan ini, saya ingin mendokumentasikan kegembiraan teman-teman. Ada perasaan gembira, ada yang terharu, dan ada yang mengaku sempat menangis melihat kebesaran baju Aisyiyah dipakai dalam seminar di luar negeri. Berikut ini saya ingin tampilkan tanggapan dan kegembiraan mereka yang disampaikan melalui media sosial, Facebook dan grup WhatsApp:
1) Nurhayati Azis (Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan):
“Selamat dan Sukses yang luar biasa lengkap dgn baju Aisyiyahnya, bisa kirim nama lengkapnya dhe 👍👍👍”.
2) Mashadi (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo):
“Subhanallah busana Aisyiyah👍👍👍”.
3) Sayyudatul Lutfiah:
“Subhanallah sampai meneteskan air mata terharu kanda nurhira dengan busana aisyiyahnya tampil dengan smart. Selamat kandaku…”.
4) Hilman Latief (Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Yogyakarta):
“Kerennn abiss”.
5) Imah Kastolani (Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Yogyakarta):
“Ya Allah saya bangga istrimu berbaju seragam nasional ‘Aisyiyah. Sama dgn ibu. Ini aku sedang di kantor PWA Makassar”.
6) Hamdana Dahlan (Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar):
“Alhamdulillah… semoga dilancarkan“Alhamdulillah… semoga dilancarkan penelitianx dan sukses sll penelitianx dan sukses sll bersama anak2. Masya Allah… tampil dengan baju kaligrafi Aisyiyah”.
7) Hidajah Ide Said (Dokter Ahli Jiwa, Aktivis Aisyiyah kota Makassar):
“Selamat ya dr Nur Hira, semoga dilancarkan hingga selesai, btw bajunya keren….😍😘”.
8) Nurcaya Djamal:
“Selamat kanda. Akademik sukses. Dakwah dengan Style Aisyiyahnya semoga berkah Amin YRA. Sy sepakat dengan gaun Nya tampil pada moment ini nuansanya akademik,intelek,agamawan 👍”.
9) Hidayah Quraisy (Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan):
“Mantap perempuan berkemajuan. Matahari ‘Aisyiyah bersinar di seantero dunia. Salam dari bu Shoimah pak Fitrah. Beliau di Makassar dlm acara TOT tkt Regional GACA (Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak)”.
10) Hasniar Basra (Guru SMA Negeri 1 Sinjai Timur Kabupaten Sinjai):
“Fokus pada kostumnya, hehe luar biasa. Hidup Aisyiyah. Cerdas memang. Kader andalan. Hehehe”.
11) Rosmawala Dewi (Dosen Politani Negeri Pangkep, PhD Univ Melbourne):
“Bajunya jempol tiga”.
12) Amirah Mawardi (Dosen FAI Unismuh Makassar):
“Alhamdulillah, baju kaligrafi menjadi saksi sejarah.Sukses dek Hira dan dek Fitrah”.
13) Sahaliah:
“Ya Allah baju kebesaran.. Aisyiyah”.
14) Abdul Hafid Paronda:
“👍👍👍 May Allah swt bless you to get the best achievement. Horas bah 🙏👌👍. Bravo IMM ✅💪👏”.
15) Yamin Ahsan (Pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo):
“Selamat dan sukses bang HFS..Baju Aisyiyahx turut mendunia..”.
16) Rohana Khattab:
“Alhamdulillah sukses selalu… Senang liatnya apalagi baju Aisyiyah yg dipakai…mantap😍”.
17) Ela-Ela:
“MasyaAllah …barakallah kaka, semoga dimudahkan hingga akhir proses penyelesaian. Keren syiarnya kak”.
18) Suhaeni Adnan:
“Mantap pake baju Aisyiyah. Terbukti ibu2 Aisyiyah perempuan berkemajuan”.
19) Hasniaty:
“Subehanallah….hax bisa terharu liatx. Selamat kk dr. Hira”.
20) Farzani:
“Alhamdulillah,baju kebesaran Aisyiyah”.
21) Mahirah Pababbari (Pengurus Pondok Pesantren Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan):
“’Aisyiyah ada di manamana ❤😊” dan “bangga dgn baju ‘Aisyiyah ❤”.
22) Andi Syahraeni (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar):
“Subhanallah sikaligrafi👍”.
23) Hijrah Basri:
“MasyaAllah kanda dokter, kostumnya inspiratif bingits”.
24) Syahriana Rinjas:
“Selamat Kanda . . . Bajunya keren Kanda . . .tetap menggunakan baju kebesaran Aisyiyah”.
25) Hidaya Mushlihah (Pegawai Pemda Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara):
“Alhamdulillah wa barakallah ilaik…luar biasa fokus ke baju Aisyiyah”.
26) Mira Pasolong (Penulis, Guru, Aktivis Aisyiyah Provinsi Sulawesi Barat):
“Sy fokus ke bajunya.. hehe. Congratulation, Dek Nur Hira”.
27) Hana Hab Hana:
“Mira Pasolong: sy juga fokus ke bajunya❤”.
28) Firda Djafar (Dosen Prodi Kebidanan UIN Alauddin Makassar) :
“Ya, bajunya …… “.
29) Andi Rahmatiah :
“Subhanallah sekalian perkenalkan bj kebangaan ibu Aisyiyah Muhammadiyah dibnegeri orang sukses terus dinda”.
30) Yasser Fedayyen :
“Keren, ibu Aisyiah”.
31) Rosnawati :
“keren kak👏. cantikx dgn batik Aisyiyah 😊”.
32) Rifki Abror Ananda (Dosen IAIN Padang Sumatera Barat) :
“Aisyiyah itu keren”.
33) Salman Lubis :
“semakin cerah dengan logo bajunya,mantap”.
34) Abd Kadirs :
“selamat n.sukses…..the good presentation…pha lg dgn setelan baju aisyiyah…..👍👍👍🙏🙏🙏”.
35) Siti Aisyah (Ketua Lembaga Advokasi Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan/mantan Wakil Rektor III UIN Alauddin Makassar) :
“❤❤pakai baju Aisyiyah ya…”.
36) Saleha Deddy (Dosen Prodi Kebidanan UIN Alauddin Makassar) :
“Siti Aisyah kereen tawwa bunda Prof, mbawa almamater kebesaran Aisyiyah 👍👍😍😍”.
37) Mardiana Mursang :
“Subhanallah,,, sehat dan sukses ki selalu kanda sekeluarga. Saya suka sekali gaunnya”.
38) Rustam Efendy Rasyid (Dosen Universitas Muhammadiyah Sidrap) :
“Saya terkesan dg baju batiknya… Sungguh Aisyiyah sejati. Selanat kakak…. Semoga lancar segala urusan. Amiin”.
39) Umi Rahmi
“Masya Allah….”.
40) Istiqamah De Lamada (Kader Aisyiyah asal Enrekang, tinggal di Banjarmasin Kalimantan Selatan) :
“Barakallah semoga manfaat dunia akhirat.. Busana kebesaran 😍”.
41) Mahli Zainuddin Tago (Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) :
“Congrats. Yassarallaahu fii kulli urikum. SeragaAm Aisyiyah nampaknya mulai mendunia…”.
42) Samsul Bahri
Alhamdulilah semoga ilmunyaberkah dengan baju aisyiayahnya
43) Tanti Hamid (Dosen Universitas Muhammadiyah Sidrap) :
Alhamdulillah…,selamat semoga semuanya dilancarkan. Sukses selalu bangga dg baju hijau…..
44) Immawati Maria Ulviani
“Keren kk”
45) Kemal Eden Malinta (Pengurus Muhammadiyah di Palopo) :
“Salut 👏👏”.
46) Radha Rajab Darnawati
“Masyaallah saya fokus sama bajunya ibunda ,ibu Aisyiyah luar biasa berkemajuan”.
47) Subehan Khalik (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar) :
“Saya suka batik hijau yg dikenakan ibu dlm ujian proposal kali ini. Sebuah pengakuan jujur bahwa belaiu adalah Aisyiyah sejati. Islam agamaku Muhammadiyah gerakanku”.
48) Nurmi Majid Mymy:
“Alhamdulillah.. Selamat smg ilmux kelak jd amal jariah.. Wah bangga melihatx ujian dengan memakai baju kebesaran kita”.

Haidir Fitra Siagian (penulis) bersama sang istri.

Membaca komentar-komentar dalam media sosial di atas, sehingga jika disandingkan akan ada benarnya isi ceramah almarhum KH Baharuddin Pagim, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan periode 2005-2010, ketika penulis mendampingi beliau selama lima tahun. Dalam berbagai forum Pak Kiyai mengatakan bahwa dalam Muhammadiyah (tentu juga dalam Aisyiyah), kita harus saling menggembirakan. Membuat warga menjadi gembira dengan keberadaan kita sebagai pengurus Muhammadiyah, dengan berbagai cara, upaya, dan program kerja. Ternyata memakai baju Aisyiyah dalam seminar proposal disertasi di luar negeri pun dapat membuat hati warga Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadi senang, berbinar, terharu, bahagia.

Wollongong, 3 Desember 2019 bakda Ashar

(*) Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, kini tinggal di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here