Perspektif Haidir #21: Malam Tahun Baru yang Sepi di Australia

0
335
www.guardian.

Oleh: Haidir Fitra Siagian *

KLIKMU.CO

Kekeringan yang terus berkepanjangan di berbagai kawasan di Australia dalam empat bulan terakhir ini telah menyebabkan musibah kebakaran hutan dan semak-semak yang sangat luas. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Beberapa hari lalu sempat turun hujan, tetapi hanya sebentar. Tidak cukup untuk memadamkan api.

Keadaan ini semakin parah karena suhu panas yang kadang mencapai 35-40 derajat Celsius, luasnya lahan yang terbakar, kencangnya angin dan terbatasnya sumber daya untuk memadamkan api. Akibat kebakaran ini sudah cukup banyak lahan yang hangus dan menyebabkan kerugian yang sangat besar, termasuk di antaranya adalah korban manusia dan hewan.

Di Kota Wollongong saja sudah berkali-kali terhirup udara yang tidak segar, berbau dengan rasa pembakaran kayu dan dedaunan padang ilalang. Jarak pandang di jalanan pernah hingga dengan jarak yang sangat dekat. Setiap saat terdengar suara mobil pemadam kebakaran dari kejauhan, membawa air untuk memadamkan api di berbagai lokasi. Beberapa rumah penduduk juga sudah ikut terbakar.

Terdapat relawan muslim yang dilaporkan ikut membantu menyediakan makanan untuk warga di pedalaman Australia yang menjadi korban terkena dampak kebakaran ini. Komunitas muslim lainnya ikut menggalang dana untuk membantu meringankan biaya pemadaman kebakaran. Di beberapa masjid di Australia, umat Islam pun sudah melaksanakan salat Al Istisqaa untuk meminta kepada Tuhan menurunkan hujan. Upaya ini mendapat respek dari warga setempat.

Akibat kebakaran yang berkepanjangan ini, beberapa warga Australia sedang menggalang dukungan untuk menghentikan perayaan kembang api dalam malam tahun baru. Bagaimana mungkin kita menghamburkan api di tengah malam, sedangkan petugas pemadam kebakaran sedang berjuang dengan sepenuh jiwa memadamkan api di hutan dan semak-semak? Demikian antara lain kata penggagas petisi ini. Di samping itu, terdapat kualitas udara yang buruk untuk kesehatan warga. Mereka mendesak pemerintah untuk respek terhadap jiwa manusia yang korban tewas akibat ikut memadamkan api.

Setidaknya hingga saat ini, saya mendapati berita bahwa dua kota di Australia sudah menyatakan tidak akan menyalakan kembang api dalam malam tahun baru. Yakni ibu kota Australia sendiri, yakni Canberra, dan kota kecil tempat kami sekarang, Wollongong. Beberapa kota kecil lainnya di negara bagian New South Wales pun meniadakannya. Sedangkan Kota Sydney, sebagai kota terbesar di Australia dan ikon Benua Kanguru ini, hingga kini masih belum ada perubahan, tetap akan melaksanakan pesta kembang api, dengan alasan kepentingan bisnis pariwisata.

Keputusan beberapa kota di atas untuk meniadakan pesta kembang api dibuat sebagai bentuk empati dan penghargaan kepada korban yang meninggal dunia yang bertugas saat memadamkan api. Sementara itu, hingga sekarang ini banyak warga Australia yang ikut menjadi relawan memadamkan api hingga masuk ke hutan-hutan.

Demikianlah, dalam suasana keprihatinan, seyogianya tidak ada pesta yang berlebihan. Sebagai bentuk empati dan kepekaan sosial, sesama umat manusia. Turut merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang sedang menderita, berjuang dan mengorbankan jiwanya.

Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun saat ini tidak ada musibah kebakaran, dalam pandangan saya perlu meniadakan pertunjukan kembang api. Selain pesta dengan biaya yang mencapai triliunan rupiah, itu adalah perbuatan yang tidak berguna apa pun untuk pengembangan sumber daya manusia dan tidak ada kaitannya peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, pun hal itu adalah bentuk perbuatan yang mubazir dan menunjukkan kesombongan.

*) Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, kini tinggal di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here