Perspektif Haidir #23: Pizza dari SPBU, Antara Iman dan Toleransi

0
59
Struk dan pizza dari SPBU. (Haidir/Klikmu.co)
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

Oleh: Haidir Fitra Siagian (*)

KLIKMU.CO

Untuk menarik minat pelanggan agar lebih sering datang berbelanja, para penjual atau pengusaha senantiasa mengupayakan berbagai cara. Mulai memberi potongan harga, mengadakan undian berhadiah, menambah barang yang dibeli, hingga menyediakan suvenir seperti kalender dan sebagainya.

Ada pula pedagang yang memberikan hadiah langsung secara gratis, yakni barang lain yang tidak terkait dengan apa yang dibeli. Hal ini sering kami alami ketika berbelanja selama kami berada di Australia ini.

Beberapa bentuk promosi yang pernah saya alami adalah dalam bentuk pemberian hadiah langsung. Ketika berbelanja di warung Turky, membeli kebab dan gozleme. Petugas menambah hadiah berupa kentang goreng. Dia bilang ini free, untuk anda sekeluarga.

Pada kesempatan lain, kami berbelanja di toko daging halal. Membeli daging dan sosis beberapa kilogram. Petugas lalu memberikan satu bungkus kurma. Katanya gratis untuk putriku.

Ketika berbelanja di supermarket, putriku paling suka mengikuti kami. Hampir setiap supermarket menyediakan hadiah gratis untuk anak-anak. Biasanya adalah buah-buahan, seperti pisang, apel, mangga, dan lemon. Di pintu masuk sudah tertulis hadiah itu gratis untuk anak-anak. Setiap anak boleh mengambil sesuka hatinya. Tentu tidak berlaku untuk orang dewasa.

Di samping itu, cara promosi lainnya adalah potongan harga. Kami pernah berbelanja di toko makanan milik keturunan Arab. Beberapa harga resep makanan dia turunkan. Dari $4 AU menjadi $1 AU per bungkus. Tentu tidak selalu, kadang-kadang saja.

Di supermarket, barang yang paling ditunggu diskon adalah beras. Biasanya harga normal adalah $16 AU per 5 kilogram. Jika waktunya diskon menjadi separuh harga, yakni $8 AU. Lumayan, kan. Itu diskon betulan, bukan dinaikkan dulu baru diberi diskon.

Semua itu adalah bentuk atau upaya penguasa menarik minat pembeli. Supaya mereka datang lagi berbelanja di toko itu. Berharap dagangannya tetap laris, semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi. Saling menyenangkan, saling menggembirakan.

Kemarin saya singgah di salah satu SPBU atau tempat pengisian bensin. Di sini, antara SPBU, harga bensin tidak sama. Tergantung pengelola SPBU itu sendiri. Kadang antara satu SPBU dan SPBU lainnya bisa ada selisih sekian sen dollar. Jika membeli sampai $50 AU, tentu jumlahnya akan terasa. Saya selalu berusaha mencari harga yang lebih murah jika masih memungkinkan.

Ketika saya membeli bensin kemarin di salah satu SPBU di kawasan Shellharbour, saya kaget diberi sepotong pizza. Semua pembeli memang diberi pizza. Hal ini tidak biasa. Harga bensinnya sudah lebih murah, diberi hadiah pula. Saya pun mengambil sepotong pizza tersebut dan membawanya ke mobil.

Ketika tiba di mobil, saya berpikir bagaimana status pizza ini. Tentu halal dari sumbernya. Karena ini hadiah dan pemberian yang resmi. Bukan hasil curian, kongkalikong, atau hasil korupsi uang rakyat. Akan tetapi, bagaimana dengan zatnya? Apakah ini halal bagi saya sebagai seorang muslim?

Kami sering membeli pizza di sini. Tetapi di toko yang halal, biasanya pemiliknya adalah keturunan Arab. Tentu halal karena dia muslim. Ada kalanya tertulis pula label halal. Atau memilih pizza yang semua bahannya terbuat dari tumbuhan seperti bayam dan lain-lain.

Tetapi jika ada dagingnya, tentu harus menjadi perhatian dulu sebelum dikonsumsi. Daging apa itu dan bagaimana proses penyembelihan pun prosedur pengolahannya. Dalam Islam yang saya pahami, hal ini harus jelas. Hindari langsung makan tanpa tabayun.

Saya bertanya kepada nyonyaku via telepon tentang status pizza tersebut. Apakah bisa saya makan atau tidak. Karena dia tidak memberi jawaban pasti, akhirnya saya tidak jadi memakannya. Dia bilang, lain kali kalau ada orang yang memberi makanan sejenisnya, sebaiknya jangan langsung terima. Supaya tidak mubazir.

Jika harus ditolak, tolaklah dengan santun. Beri saja alasan yang baik, rasional, dan sopan kepadanya supaya dia dapat memahaminya. Jangan sampai dia tersinggung. Ini juga sebagai media untuk dapat menjelaskan posisi Islam kepadanya terkait makanan.

Bahwa kita sebagai muslim dapat menerima hadiah dari siapa pun dalam kebaikan. Kita boleh toleran dalam hal ini. Akan tetapi jika sudah terkait dengan jenis makanan, ada nilai keimanan di dalamnya. Jika tidak terlalu darurat, sebaiknya jangan ditelan dulu.

Wassalam
Keiraville, 10/1/2020

(*) Penulis adalah aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, kini tinggal di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here